Tangkap Pakai Kepiting Palsu, Olah Makanan Khas Berbahan Gurita

Warga Ngliyep yang Ingin Punya Ikon Baru Selain Tempat Rekreasi
Warga pesisir Pantai Ngliyep, punya obsesi tinggi untuk mengembangkan potensi wilayahnya. Mereka mulai memproduksi secara massal aneka jenis makanan hasil dari home industri. Baik yang berbahan hasil ikan tangkapan laut atau hasil pertanian setempat.
Siang itu, tempat parkiran wisata Pantai Ngliyep, tampak lenggang. Memang bukan masuk hari libur. Satu tukang parkir setengah baya, tampak begitu ramah melayani wisatawan yang datang. Dia menjawab pertanyaan koran ini saat bertanya tempat tinggal Teguh, salah satu warga perkampungan nelayan.
Berkenal keterangan itu, tidak terlalu sulit menemukan tempat tinggal Teguh. Apalagi bapak yang berbadan sedikit tambun ini, cukup dikenal di kampungnya. Begitu juga petugas dari PT Jasayasa, pengelola tempat wisata Pantai Ngliyep, karena merupakan Ketua Nelayan Pantai Ngliyep.
Belum lagi, sifat ramah yang dimiliki Teguh, menjadikan dirinya sosok yang ditokohkan di perkampungan yang terletak Desa Kedungsalam, Kecamatan Donomulyo ini.
‘’Monggo pinarak. Ya, beginilah suasana rumah perkampungan nelayan,’’ sapa Teguh ketika menyambut kedatangan Malang Post. ‘’Ini tadi darimana?” tanyanya sembari meninggalkan sementara aktifitasnya.
Teguh sebelumnya terlihat gayeng ngobrol bersama dua pemuda di teras rumahnya yang sederhana. Ketiganya ngobrol membahas soal kerjaan, diantaranya rencana melaut. Mereka merupakan nelayan tangguh, yang hampir tiap hari mengais rejeki dengan melawan deru ombak Samudera Indonesia.
Dari obrolan itu, trik unik yang dimilikinya dalam melaut untuk menangkap Gurita pun bocor. Dia pakai umpan ‘kepiting’ berbadan warna-warni. Bukan yang biasa berwarna kehitam-hitaman.
Kepiting ini bukanlah kepiting asli. Tapi kepiting buatan yang terbuat bahan dempul mobil.
‘Kepiting’ ini dicetak dari cetakan silikon yang awalnya dioles dempul, sebelum kemudian dikeringkan dan dicat. Dari umpan-umpan itulah, nelayan Ngliyep bisa menangkap puluhan gurita yang berbobot sampai ratusan kilogram.
‘Kepiting’ ini sebagai alternatif pengganti umpan kepiting asli yang harganya begitu mahal di pasaran dan sulit terjangkau nelayan.
‘’Karena itu, kami kemudian berinisiatf pakai kepiting palsu ini untuk tangkap gurita. Umpan ini ditanami paku. Jadi saat gurita mencengkeram dengan keras, akan melukai dan paku ini menancap ke badan gurita. Kalau di dalam laut, gurita ini mungkin melihatnya seekot kepiting, dan langsung memangsanya,’’ terang Teguh.
Dia dan para nelayan lainnya punya mimpi besar, bisa memiliki produksi makanan berbahan dasar gurita. Termasuk ikan Pari hasil tangkapannya.
Para istri nelayan juga mendukung penuh suaminya dalam mewujudkan mimpinya. Melalui program pelatihan dari PT Pelabuhan Indonesia III (Pelindo), 58 ibu-ibu yang tergabung dalam kelompok Bahari Pertiwi, sudah menghasilkan olahan nugget daging Gurita dan kerupuk tulang Gurita. Sedangkan, dari ikan pari dihasilkan olahan ikan pari asap dan abon.
‘’Produk ini juga akan dipasarkan ke luar Kedung Salam. Tentunya setelah produk-produk ini mendapat perizinan dari Dinas Kesehatan Kabupaten Malang,’’ ucap Puguh PS, Koordinator UKM se Indonesia yang ikut memberikan pelatihan Pelindo III, kemarin.
Untuk memasarkannya, mereka mengawali dengan membuka stan atas produknya ini di area wisata Pantai Ngliyep. Mereka berharap aneka jenis produk ini menjadi ikon baru dari Pantai Ngliyep, disamping lama dikenal menyuguhkan pemandangan alam yang indah.
Selain itu, ibu-ibu lainnya dari para istri non nelayan, yang tergabung di Krida Pertiwi, menghasilkan produk olahan dari tanaman. Baik anggota di Bahari dan Krida, sempat menjalani pelatihan oleh Pelindo III di rumah Kepala Desa Kedungsalam, Misdi.
‘’Kami ingin Ngliyep punya ikon baru, tidak hanya wisata pantai, melainkan juga hasil olahan dari potensi yang kami miliki, baik dari tangkapan melaut dan hasil bertani,’’ ucap Teguh.
‘’Mudah-mudahan dari hasil olahan ini juga mampu mengangkat perekonomian warga Kedung Salam,’’ terang Misdi, mengamini.
‘’Kami mencoba memberikan edukasi kepada nelayan dan warga Ngliyep lainnya, untuk bisa memberdayakan potensi lokal. Bersama Universitas Brawijaya, kami terus berikan pelatihan-pelatihan,’’ tegas Direktur Keuangan Pelindo III, Wahyu Suparyono. (poy heri pristianto)