Sekolah Gratis yang Menjadi Korban Banjir di Pandanwangi

BANJIR Pandanwangi, melumpuhkan aktifitas pendidikan SMP Islam Paramitha. Jadwal ujian semester ganjil yang sudah tersusun rapi, kacau akibat banjir. File sekolah dan alat penunjang belajar mengajar rusak. Inilah kisah piluh, disaat Dinas PU Kota Malang mengusulkan anggaran drainase sebesar Rp 15,4 miliar.

Eka Cipta Saputra, berjalan perlahan dalam genangan air setinggi pinggangnya di halaman SMP Islam Paramitha, kemarin siang.  Tangannya meraba-raba, mencari peralatan sekolah diantara genangan air.
‘’Besok tetap ujian,’’ teriak Eka dari kejahuan untuk memastikan pelaksanaan ujian semester ganjil, yang sempat tertunda Senin kemarin.
Eka adalah guru olah raga SMP Islam Paramitha. Sekolah ini terletak ditengah pemukiman penduduk Pandanwangi. Berada di tepi anak kali Bango yang meluap dan sempat menenggelamkan sebagian bangunan sekolah.
Minggu malam kemarin, Eka juga nekat menerobos derasnya banjir. Kendati air sampai setinggi dadanya dan tanpa penerangan yang maksimal, alumnus IKIP Budi Utomo berusaha menyelamatkan file dan peralatan sekolah.
Soal-soal ujian, adalah salah satu dari sederet peralatan sekolah yang diselamatkannya. Eka berjibaku dengan banjir agar ujian bisa tetap digelar.
Maklum, Senin kemarin mestinya 70 peserta didik SMP Islam Paramitha mengikuti ujian semester ganjil seperti yang sudah terjadwal. Lantaran karena banjir, ujian akhirnya ditunda Selasa (11/12) hari ini.
Sehari sebelum ujian, siswa dan guru harus kerja keras. Siswa ngepel ruangan kelas, lalu pulang rumah masing-masing sebelum jam 10.00 WIB. Mereka harus kembali untuk bersiap-siap menghadapi ujian hari ini.
Namun tidak demikian dengan para guru.  Mereka harus double job. Menyiapkan ujian semester ganjil, bersihkan sekolah dan perabotannya hingga cuci seragam sekolah yang belum sempat dibagikan kepada siswa.
Riris Cahyaningtyas dan Septiningrum, dua guru SMP Islam Paramitha juga harus kebagian PR. Usai kerja bakti kemarin, dua ibu guru itu membawa pulang seragam sekolah.
‘’Ya, ini seragam batik harus dicuci di rumah karena basah dan kotor akibat  banjir. Setelah kering diseterika di rumah lalu  dibawa ke sekolah,’’ kata Riris dan Septiningrum sembari memegang seragam yang harus dicuci di rumah itu. ‘’Ya dibagi rata tiga guru. Satu guru cuci 20-an seragam,’’ sambung Riris.
Sekolah yang terdiri dari tiga ruangan kelas ini, memang memiliki seragam batik bagi siswanya. 70 seragam batik itu merupakan stok seragam yang siap dibagikan kepada siswa jika seragam lamanya tak bisa dikenakan lagi.
Banjir Pandanwangi, memang betul-betul merepotkan pengelola SMP Islam Paramitha. Salah seorang guru juga terpaksa harus membuat ulang soal ujian conversation untuk pelajaran Bahasa Inggris. Soal ujian tersebut tak terselamatkan saat terjadi banjir.
Sedangkan peralatan sekolah lainnya yang rusak yakni satu unit komputer, satu unit printer, alat penggiling roti, mixer dan dispenser. Kursi dan meja pun basah terendam banjir.
Eka Cipta Saputra menambahkan, album foto siswa, buku induk siswa dari tahun-tahun sebelumnya, serta raport, rusak berat karena tergenang air. Begitu juga 200 buku paket  milik sekolah ikut rusak.
Kini, pengelola SMP Islam Paramitha harus berjuang lagi untuk pengadaan berbagai peralatan sekolah yang rusak. Entah dari mana. Yang pasti tak bisa mengandalkan pungutan dari para siswanya. Pasalnya,  peserta didik di sekolah ini masuk dalam program pendidikan gratis bagi siswa tak mampu yang didanai APBD Kota Malang.
Program pendidikan gratis yang didanai APDB, diterapkan di sekolah ini karena menampung siswa-siswi tak mampu. ‘’Hampir seluruh peserta didik di sekolah kami merupakan siswa yang perlu mendapat bantuan,’’ kata Eka.
Tidak hanya aktifitas sekolah saja, kegiatan peserta kejar pake A, B dan  C yang  berlangsung di SMP Islam Paramitha pun harus tertunda.  Kemarin, terpaksa ditunda sehari. ‘’Besok (hari ini, Red.) paket A, B dan C sudah masuk,’’ ujarnya. (vandri battu)