Geliat Kehidupan Studio Radio Siaran Milik Perguruan Tinggi

HAMPIR semua kampus di Kota Malang punya fasilitas radio. Hiburan yang masih menjadi alternatif ditengah lahirnya berbagai teknologi baru ini, ternyata mengalami banyak kendala dalam pengembangannya. Tidak sedikit yang terpaksa tidak bisa siaran atau siarannya aktif, tapi tidak punya program unggulan.

Dari kejauhan, studio radio Pro M El FM Unisma Malang, sudah bisa terlihat. Sebuah pemancar radio bertengger disamping gedung yang dimanfaatkan sebagai ruang siaran. Beberapa mahasiswa terlihat asyik di depan meja penyiar, sambil memilih-milih lagu untuk diputar. Tidak banyak mahasiswa yang ada di dalam ruang itu.
‘’Satu tahun lebih radio ini tidak mengudara. Baru aktif beberapa hari ini,’’ ungkap Bendahara Radio, Irna Yeni Putri.
Karena pemancar radio tersambar petir, aktivitas siaran pun mandeg. Padahal sebelumnya, siaran radio mereka menjadi program yang ditunggu-tunggu oleh mahasiswa.
Bahkan pada beberapa kegiatan kampus, seperti wisuda atau festival di jurusan elektro, disiarkan oleh kru radio secara langsung. Tidak hanya itu, pengelola radio ini juga cukup aktif menawarkan jasa dubbing kepada fakultas atau instansi di luar kampus, untuk pembuatan iklan. Layanan ini cukup banyak dikenal sehingga saat radio baru aktif, sudah ada lembaga pendidikan lain yang meminta layanan dubbing iklan.
‘’Kalau dubbing untuk iklan radio, biasanya kami mematok biaya Rp 200 ribu. Tergantung lama rekamannya,’’ kata dia.
Radio Unisma ini, dikelola sebagai badan semi otonom yang berada di bawah himpunan mahasiswa Elektro. Karena hanya berstatus BSO, pendanaan untuk operasional radio sangat kecil. Karena itu dalam waktu dekat, mereka akan mengajukan kepada rektorat agar radio dijadikan unit kegiatan mahasiswa (UKM) sehingga bisa mendapat alokasi dana dari kampus.
‘’Saat ini kami sedang berbenah. Termasuk melakukan rekrutmen penyiar baru,’’ kata dia.
Radio Unisma mengudara mulai pagi hingga sore hari, sekitar pukul 07.00 WIB sampai 17.00 WIB. Mahasiswa pecinta radio di Unisma boleh berharap radio mereka bisa maju, karena sejumlah alumninya menyatakan siap membantu pengembangannya.
Alumni yang beberapa juga menjadi penyiar di radio komersil itu, akan menyumbang pemancar agar jangkauannya tidak hanya didengar di dalam kampus saja, tapi bisa meluas ke seluruh kota Malang.
‘’Kami juga sudah mendapat komputer baru karena yang lama sudah rusak,’’ kata dia.
Kondisi yang hampir sama juga terjadi di UMM FM. Radio kebanggaan kampus putih itu, sudah hampir satu bulan tidak mengudara. Sejak seniornya lulus dan diwisuda, sejumlah perangkat tak terawat. Akibatnya sekarang kondisinya sedang rusak dan sedang dalam maintenance.
‘’Kira-kira bulan Januari mendatang baru bisa mulai siaran lagi, karena servisnya masih antre,’’ kata GM UMM FM, Afrizal Amrustian.
Mahasiswa jurusan Teknik Informatika ini mengakui siaran radio sekarang ini tak banyak diminati.
Kalau dulu untuk bisa mendengarkan musik favorit, orang biasa me request lagu kesayangannya kepada penyiar yang bertugas. Tapi sekarang ini, untuk mendengarkan lagu favorit cukup download di internet atau melalui handphone yang fasilitasnya sudah dilengkapi dengan layanan MP3.
‘’Dulu request lagu di UMM FM berbayar, dan banyak yang kirim salam dan request lagu,’’ kata dia.
Bahkan sebelumnya, UMM FM berani menjual iklan kepada warung-warung di sekitar kampus. Dengan cara membacakan menu atau diskon yang ditawarkan. Kedepan Rizal mengaku belum berniat untuk mencari iklan lagi. Kalau pun ada warung yang ingin diiklankan, ia hanya ingin pemilik warung membayar dengan cara memasang logo UMM FM.
‘’Daripada pemilik warung kecewa karena tidak banyak yang menangkap siaran kami, lebih baik kami tidak mematok harga dulu,’’ kata dia.
Meski mengelola radio tantangannya besar, penggemar lagu-lagu Jepang ini tak patah arang. Sejumlah program menarik sudah dirancang. Termasuk rencana untuk membuat suaran radio streaming. ‘’Ada alumni yang siap mendukung program radio termasuk rencana streaming,’’ kata dia.
UMM FM juga sedang diusulkan untuk bisa berubah menjadi UKM agar bisa mendapat dana besar dari kampus. Sehingga pendanaan tidak hanya mengandalkan iuran anggota saja.
‘’Di radio, aku dengar lagu kesayanganmu...,’’ lirik lagu almarhum Gombloh ini seolah menggambarkan betapa dulu radio sangat digandrungi. (lailatul rosida)