Ajak Sang Putra Setiap Tampil, Sisipkan Ilmu Hukum di Goro-goro

Di Pengadilan Negeri (PN) Kepanjen, sosok Gutiarso lebih dikenal sebagai seorang hakim yang tegas. Begitu juga di kalangan mahasiswa Universitas Kanjuruhan dan Universitas Brawijaya Malang. Pria 46 tahun ini dikenal sebagai Dosen Fakultas Hukum. Namun di balik kesibukan kariernya itu, ternyata akademis sekaligus prakitis hukum ini, juga seorang dalang wayang kulit.

Tidak mudah untuk bisa menemui pria kelahiran 8 Mei 1966 ini. Malang Post yang mencoba menemuinya, harus beberapa kali janjian lewat ponsel.
Setelah menyesuaikan jadwalnya yang padat, Gutiarso setuju bertemu malam hari di rumahnya, di Jalan Bendungan Sempor 3 Malang. Rumahnya berada paling ujung.
Ketika Malang Post tiba di depan rumahnya, Kamis (13/12) malam, dengan mengenakan kaos hitam bergambar Warok Ponorogo, bapak dua anak ini langsung menyambut. ‘’Mari Mas, silahkan masuk saja,’’ sambut Gutiarso dengan tersenyum.
Sembari duduk santai di sofa ruang tamunya, Gutiarso mulai menceritakan soal profesi sampingannya. Menjadi seorang dalang wayang kulit.
Pria yang lahir di Ponorogo ini mengaku, ilmu seorang dalang itu merupakan warisan turun temurun. Dari kakek dan orangtuanya. ‘’Keluarga saya semuanya dalang. Paman dan saudara yang lain juga seorang dalang,’’ ungkap suami Musrifah SH ini.
Namun, kendati warisan turun temurun, ilmu perdalangan yang dimiliki Gutiarso ini, lebih banyak belajar kepada orang lain saat masih kuliah.
Dari bekal ilmu yang didapat itulah, pada awal 2002 saat menjadi calon hakim di Pacitan, Gutiarso mulai menjadi dalang wayang kulit. Termasuk mulai sering tampil di beberapa tempat.
Tetapi pada pertengahan 2002, ketika Gutiarso dipindah tugas di Kalimantan, aktifitas dalangnya vakum sampai 2009. ‘’Itu karena di Kalimantan sana tidak ada grup wayang kulit,’’ ujar pengajar pendidikan khusus calon pengacara (PKPA) dibeberapa fakultas hukum di Kota Malang.
Baru tahun 2011, ketika sudah dua tahun menjadi hakim di PN Kepanjen, Gutiarso yang juga ditunjuk sebagai Tim Penyuluh Hukum Pemkab Malang ini, menemukan wadah (grup) wayang kulit, Tirta Laras untuk bergabung. Tetapi setahun bergabung, Gutiarso masih belum mau tampil sebagai dalang dipertunjukkan wayang.
Jiwa dalang wayang kulitnya tergugah kembali, ketika anak keduanya Arjuna Sakti Yudha, yang dulu masih sekolah TK, ternyata menyukai wayang kulit.
‘’Saat itu dia (Arjuna, red) saya ajak ke Pasar Minggu. Dia minta dibelikan wayang kulit kecil. Akhirnya saya belikan dan ternyata dia menyukainya. Kemudian saya belikan CD wayang kulit, Arjuna juga senang nonton sampai ketiduran,’’ jelas Gutiarso, yang saat ini sedang menunggu program Doktor ilmu hukum pidana.
Melihat jiwa anaknya yang tertanam seni dalang, akhirnya Maret 2012 lalu, Arjuna diikutkan kursus dalang wayang kulit di Tirta Laras Malang. Baru setelah Arjuna, yang kini kelas I SD Negeri Percobaan I Malang, menguasai perdalangan, Gutiarso mulai aktif lagi. Bahkan, setiap kali tampil, dia selalu duet dengan anak keduanya itu.
Dalam tiga bulan terakhir ini, sudah tiga kali dia tampil menjadi dalang wayang kulit bersama anaknya. Diantaranya di Desa Druju, Sumbermanjing Wetan dan di Kelurahan Tanjungrejo, Kecamatan Sukun. Rencananya pada 22 Desember nanti,  Gutiarso dan anaknya akan menjadi dalang di Kecamatan Pakisaji, dengan mengambil lakon Piwulang Astrabrata.
‘’Menjadi seorang dalang itu tidaklah mudah. Sebab harus bisa menguasai seni peran, seni karakter dan seni suara. Selain itu, juga harus memperhatikan strategis klausal masyarakat. Karena dalang dituntut harus bisa memposisikan masyarakat sebagai audiens,’’ ujar Ki Gondo Lukito, nama lain Gutiarso.
Yang menarik, dari beberapa kali tampil sebagai dalang bersama anaknya, Ki Gondo Lukito, ternyata selalu menyisipkan sosialisasi tentang hukum dalam perwayangannya.
Terutama pada saat goro-goro. Hal itu dilakukan, selain merupakan ciri-ciri dalangnya, juga supaya masyarakat bisa sadar tentang hukum yang berlaku di Indonesia ini.
Tentang wayang itu sendiri, Gutiarso menilai kalau selain tontotan juga merupakan tuntunan. Dimana dalam perawayangan ini, selalu memberikan suri tauladan yang baik, nasehat yang baik, budi pekerti yang baik yang mana bisa menuntun masyarakat untuk taat peraturan dan memilik etika yang bagus.
‘’Kalau bagi anak-anak, akan tertanam jiwa sopan santun yang baik. Sekaligus bisa memposisikan si anak itu dihadapan guru, orangtua atau orang lebih dewasa. Karena dari prinsip saya, adalah ingin mempopulerkan budaya tata karma dan panutan yang baik. Dan melestarikan kesenian budaya,’’ katanya.
Dengan jiwa dalang yang dimiliki anaknya itu, Gutiarso menambahkan, ada keinginan menjadikan anaknya sebagai dalang profesional.
‘’Selama ini seni dalang yang diperankan anak saya, sama sekali tidak mengganggu. Sebab dalam acara wayang kulit, anak saya hanya bermain cuplikan sebuah lakon (peran) saja,” tuturnya.(agung priyo)