Upaya Petani Penyelamat DAS Brantas untuk Melindungi Sumber Air

Petani-petani Dusun Lemahputih Desa Sumberbrantas Kecamatan Bumiaji, memulai gerakan konservasi Daerah Aliran Sungai (DAS) Brantas sejak tahun 2011. Mereka merelakan lahan pertanian garapannya, disisipi tanaman keras seperti egalitus dan tanaman buah. Hingga akhir 2012 ini, sekitar 9.000 bibit pohon telah ditebar demi kelestarian DAS Brantas.

Kelompok petani tersebut, tergabung dalam komunitas PP DAS, kepanjangan dari Petani Penyelamat Daerah Aliran Sungai. Gerakan ini dilakukan, lantaran ratusan hektar areal hutan Perhutani telah berubah fungsi menjadi lahan pertanian. Kebanyakkan petani menanam sayur-mayur sehingga tak mengikat tanah.
Alih fungsi tersebut, menghilangkan fungsi hutan sebagai pengendali air tanah dan erosi. Butuh kemauan tinggi, agar petani rela menyisihkan sebagian lahannya untuk fungsi konservasi. Ini menjadi penting, sebab Sumber Brantas menjadi hulu Sungai Brantas yang mengalir di Jawa Timur.
Sungai Brantas merupakan sungai terpanjang kedua di Pulau Jawa setelah Bengawan Solo. Namun, alih fungsi di kawasan hulu membuat erosi kian menjadi-jadi. Bencana longsor dan hilangnya mata air sudah kerap terjadi.
Berawal dari kondisi itulah, 35 petani Dusun Lemahputih rela menyisihkan lahan garapannya untuk tanaman keras. Bahkan, mayoritas petani PP DAS, telah mengubah lahan mereka yang semula sayur-mayur menjadi areal tanaman keras. Kemauan Komunitas PP DAS itu terwujud setelah mendapat suntikan motivasi dari lembaga PUSAKA.
‘’Tahun 2011, saya didatangi Bambang Parianom (Direktur Eksekutif Pusaka), diberi wawasan soal lingkungan dan DAS Brantas,’’ aku Rahedi 51 tahun, Ketua Komunitas PP DAS.
Dari pertemuan tersebut, Edi sapaan akrabnya, kemudian mengajak delapan rekannya untuk berdiskusi. Antara lain Rakimin, Paidi, Karsi, Bajuri, Sampurno, Purnomo, Jalal dan Darmaji. Sembilan orang itu adalah cikal bakal gerakan untuk melindungi DAS Brantas.
‘’Kami tak ingin dituduh sebagai biang kerusakan lingkungan, juga tak mau pemukiman kami longsor atau bahkan terseret banjir seperti rumah mantan Kades Sodiq beberapa tahun lalu,’’ imbuh Edi.
Awalnya, sejumlah petani khawatir lahannya jadi rusak ketika diselingi dengan tanaman keras. Namun setelah diskusi beberapa kali, mereka memiliki keyakinan usahanya akan berhasil. Lantaran, pohon yang akan mereka tanam selain memiliki fungsi konservasi juga fungsi ekonomi.
‘’Pohon yang ditanam tak hanya punya nilai konservasi seperti egalitus, tapi juga nilai ekonomi seperti jambu merah, kopi dan kesemek,’’ bebernya.
Gayung bersambut, delapan rekannya bersedia menanam tanaman keras di areal pertaniannya. Gerakan itu juga mendapat perhatian dari petani lainnya, sampai terkumpul sekitar 35 petani. Setiap petani, memiliki lahan rata-rata satu sampai satu setengah hektare.
‘’Sampai saat ini kami sudah menanam sekitar 9.000 bibit pohon, itupun masih kurang sekitar 5.000 bibit lagi,’’ katanya.
Yang disayangkan, belum semua petani di Sumber Brantas sadar dengan kondisi alam yang kian muram. Gerakan ini justru diawali petani kelas teri di Lemah Putih, sedangkan petani kaya belum berani memulai. Menurut Edi, para petani khawatir pendapatan mereka menurun.
‘’Petani khawatir pendapatannya turun dan lahannya rusak ketika diselingi tanaman keras. Soalnya sayur menjadi pendapatan utama kami,’’ imbuhnya.
Edi mengelola lahan pertanian seluas satu hektare, saat ini telah ditanami 450 pohon. Terdiri dari jambu merah, kesemek dan kopi. Serta tanaman keras dengan fungsi konservasi yakni egalitus dan kayu hitam. Seluruh bibit, dia dapatkan gratis berkat bantuan dari yayasan Pusaka.
‘’Kebanyakan yang kami kelola adalah lahan perhutani. Saat ini hampir seluruh lahan milik PP DAS berubah menjadi areal tanaman keras,’’ jelasnya.
Memang manfaat yang didapatkan petani baru sekitar dua sampai empat tahun ke depan. Dua tahun lagi, jambu merah mereka akan berbuah dan bisa dijual. Bahkan mimpi Edi, Lemah Putih akan berubah menjadi kawasan wisata petik jambu merah dan kesemek.
‘’Manfaat jangka panjang yang kami pikirkan, diskusi kami gelar setiap selesai tahlilan sambil ngobrol santai,’’ akunya.
Direktur Eksekutif Yayasan Pengembangan Usaha Strategis dan Advokasi Kelestarian Alam (PUSAKA), Bambang Parianom mengatakan, gerakan itu amat penting. Menurut dia, petani merupakan aktor atau pelaku dalam alih fungsi hutan di kawasan hulu sungai Brantas. Di Desa Sumber Brantas, ratusan hektare lahan masih merupakan areal sayur mayur.
‘’Lahan sayur ini membuat erosi tanah dan menjadi biang penumpukan sedimentasi sungai Brantas,’’ jelasnya.
Karena itu, hatinya ikut trenyuh ketika petani Lemah Putih bersedia ‘mengorbankan’ lahan mereka. Dia trenyuh, sebab gerakan itu malah dimulai oleh petani kelas sandal jepit. Sedangkan petani kelas Mercy masih berpongah mengangkangi areal sayurnya.
‘’35 orang petani itu, merupakan embrio. Saya yakin gerakan ini akan makin besar untuk selamatkan DAS Brantas, termasuk sumber airnya,’’ katanya dengan nada mantab.
Saat ini, gerakan itu telah berhasil menanam sekitar 9.000 bibit pohon. Diawali pada tahun 2011 sekitar 3.000 pohon, kemudian awal bulan Desember 2012 sekitar 6000 pohon. Sedangkan target gerakan ini ke depan adalah kawasan Dusun Jurang Kuali, Krajan dan sampai ke Brak Seng.
‘’Nanti akan tumbuh petani Maskot. Yakni masyarakat sadar konservasi tanah, pekerjaan rumah kita masih sekitar 500 hektare lagi,’’ tandasnya.
Sesuai data Perum Jasa Tirta I (PJTI), Sungai Brantas memiliki panjang 320 km dan mengaliri kota-kota penting di Jawa Timur. Sedangkan sesuai data dari Dinas Kehutanan Prop. Jawa Timur tahun 2007 DAS Brantas luas lahan kritis aktual di luar kawasan hutan adalah 86.320 hektare. Pada kurun waktu 2011 PJT I telah melakukan kegiatan penghijauandengan penanaman sebanyak 1.377.728 bibit. (Bagus Ary Wicaksono)