Safee Sali Pilih Pulang, Tambahan Gelandang Jadi Ngambang

Semua pecinta sepakbola tanah air paham benar, kisruh dualisme sepakbola Indonesia masih jauh dari kata selesai. Gontok-gontokan Djohar Arifin, Ketua PSSI yang menelurkan Kompetisi IPL dan La Nyala Mataliti, Ketua KPSI yang menggandeng PT Liga Indonesia sebagai penyelenggara ISL tak jua usai.

Lewat berbagai media, kedua pihak ngeyel, kukuh merasa benar dan sama-sama merasa masing-masing pesaing harus dibubarkan. AFC gregetan. FIFA pun turun tangan. Indonesia pun sempat diberi ancaman hukuman. Indonesia tidak boleh ikut dalam kompetisi level internasional dan melarang pemain asing mengadu nasib di kancah persepakbolaan nasional.
Deadlinenya pun ditetapkan 13 Desember 2012 lalu. Tapi, setelah lobi-lobi, janji-janji akan menghentikan dualisme, federasi pimpinan Sepp Blater melunak. Indonesia “diampuni” dan diberi batas deadline sampai 30 Maret 2013 untuk penyelesaian gontok-gontokan dualisme itu. Angin segar sedikit meredakan gerah sepakbola tanah air.
Tapi, tampaknya FIFA sudah emoh lagi mengurusi Indonesia. Semua penyelesaian dualisme diserahkan pada AFC. FIFA pun manut pada rekom AFC. Bila sampai 30 Maret 2013 tidak ada resolusi nyata akan persatuan sepakbola Indonesia, FIFA akan bertindak sesuai rekomendasi AFC, yang pasti akan memberi hukuman pada Indonesia.
Hukuman inilah yang sejatinya membuat para legiun asing yang mencari uang di Indonesia keder. Kabarnya, hukuman tersebut adalah mem-banned kompetisi Indonesia, mengharamkan keterlibatan dalam kompetisi internasional serta melarang pemain asing bermain di liga yang ada di tanah air.
Tak heran bila pemain asing akhirnya memilih bermain di liga lain daripada kena imbas hukuman FIFA yang laksana bom waktu. Bukti nyatanya adalah punggawa Arema Indonesia yang akhirnya dipinjamkan kepada Johor FC Darul Takzim, yakni Safee Sali.
Beberapa waktu lalu, CEO Arema Iwan Budianto memang sudah menyebutkan bahwa bomber gempal ini dipinjamkan agar memberi kesempatan pada pemain muda Ngalam untuk berkembang. “Dengan tidak adanya Safee, pemain seperti Sunarto dan Qischil bisa berkembang dan dapat kesempatan lebih sebagai starter,” tutur Iwan beberapa waktu lalu.
Tapi, isunya tidak seperti itu. Rumor mensinyalir Safee gentar bermain di Indonesia karena tahu dualisme akan membuahkan hukuman. Daripada malu ”dideportasi” dan dipaksa pergi dari liga Indonesia yang bakal kena hukuman, lebih baik antisipasi dan pergi dari Indonesia, mungkin itu pikiran Safee.
Meski hanya status pinjaman satu tahun, paling tidak Safee sudah bisa tahu akan diapakan Indonesia oleh FIFA saat Maret 2013 nanti. Ancaman hukuman FIFA yang sudah amping-amping pun sudah pasti mengganggu tim Arema yang membutuhkan gelandang baru.
Pasalnya manajemen Singo Edan akan sulit bernegosiasi dengan pemain asing yang diharapkan bisa menjadi gelandang bertahan di musim depan. Setelah Todd Howard yang gagal direkrut dan memilih main di liga Australia, gelandang seleksi Asia yang sempat digembar-gemborkan bakal menemani Egi Melgiansyah dkk di lini tengah pun semakin ngambang.
Ibaratnya, siapa pemain yang mau main bola di negeri hukuman FIFA? Namun demikian, headcoach Arema, Rahmad Darmawan (RD) membantah ancaman hukuman FIFA membuat gelandang Asia dan pemain asing lainnya yang telah berseragam Arema takut main di Indonesia dan ingin buru-buru cabut ke negara lain.
”Belum tentu pemain asing pulang, karena hukuman FIFA itu macam-macam, tidak serta merta membuat semua elemen pemain asing gak boleh ada di Indonesia. Kalau sudah ikat kontrak kerja dengan klub Indonesia, saya rasa FIFA akan melindunginya,” ujar RD kepada Malang Post.
”Kalau hukuman FIFA diberlakukan sebelum kompetisi, mungkin pemain asing bakal out, contoh kongkritnya adalah Brunei yang dihukum FIFA, pemain asingnya disuruh pergi, tapi saya tak mengharap itu terjadi di Indonesia, semoga semua berjalan baik,” tambah RD. (fino yudistira)