Semangat Kaum Ibu yang Memiliki Anak Berkebutuhan Khusus

Menjadi ibu dari anak-anak normal dan sehat, merupakan keinginan semua orang. Tapi, terkadang takdir tidak sejalan dengan keinginan. Apalagi sebagai seorang public figur dan wanita karir, para ibu yang dikaruniai anak berkebutuhan khusus atau dikenal orang sebagai anak autis, punya beban dan tantangan yang luar biasa. Seperti dialami dosen UMM, Frida Kusumastuti dan Kepala Dinas Pendidikan Kota Malang, Sri Wahyuningtyas.

Frida Kusumastuti, Ibu dari Wildan Rizqya Lazuardi, harus berbesar hati ketika mengetahui putranya divonis autis. Wildan, anak laki-laki yang lahir di Kota Batu, 10 Pebruari 1997. Dia lahir dengan persalinan normal di usia kehamilan 9 bulan satu hari.
‘’Saat itu, bayi Wildan hanya berbobot 2 kilogram. Termasuk kecil dan memang sudah diperkirakan oleh dokter pada masa kehamilan,’’ ujarnya.
Pada saat usia Wildan dua tahun, katanya, saat itulah ia dan suami pertama kali mendengar vonis dokter bahwa Wildan menderita autis. ‘’Saya dan suami tidak bisa berkata apa-apa. Kami bingung harus bagaimana. Ditambah lagi pengetahuan tentang autis sangat terbatas,’’ kata perempuan berjilbab ini.
Mengetahui hal itu, Frida dan suaminya tidak tinggal diam. Mereka mendatangi dua psikiater. Sayangnya kedua psikiater yang ia datangi tidak bisa mendeteksi kelainan.
Seiring dengan waktu, Frida dan keluarga mulai memiliki wawasan dalam mendidik Wildan. Ia pun mendapat dukungan penuh dari keluarga besarnya. Hal inilah yang membuatnya bersemangat menjalani hari-hari bersama sang buah hati.
‘’Kami mulai menyadari Wildan sangat suka menggambar dimanapun dan kapanpun,’’ ujar perempuan yang juga dosen Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ini.
Tiap dia mendapat alat tulis, spidol, bolpoin, dan pensil, dia akan menyalurkan hobinya dimanapaun. Ada tembok pun jadi, kertas koran, buku diktat, buku pelajaran adiknya, bahkan secuil kertas dari dus kue pun tidak lepas dari aksi corat-coretnya.
‘’Sejak 2008, Wildan mulai kami ikutkan sanggar lukis. Alhamdulillah perkembangannya luar biasa,’’ katanya. Kemajuan-kemajuan yang ditunjukkan oleh Wildan membuatnya bahagia. Kendati dalam kemampuan akademiknya, kalah dengan anak seusianya, tapi usia Wildan yang menapaki usia 15 tahun, berbagai prestasi dalam melukis berhasil ia persembahkan.
Frida menyayangkan tidak semua orangtua Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) dan saudara kandung, bisa menerima ABK. Tidak jarang ada perceraian dan pengucilan ABK karena orangtua dan saudara malu atau tidak bisa menerima kehadiran mereka.
‘’Segala kemajuan Wildan, membuat saya bahagia. Tapi dari diri sendiri, ibu anak berkebutuhan khusus, harus memahami bahwa ABK bukanlah pilihan anak-anak itu,’’ katanya.
Menjadi ibu dari anak berkebutuhan khusus, diperlukan ketelatenan dan kesabaran yang luar biasa. Karena, banyak hikmah yang didapat dengan menjadi orangtua anak berkebutuhan khusus.
Oleh karena itu, kata Frida, jangan dijauhi. Orangtua harus bisa mencari kekhasan mereka. Frida percaya, setiap apa yang diciptakan Tuhan selalu bermanfaat.
Ketegaran dan kesabaran juga ditunjukkan Sri Wahyuningtyas M.Si. Kepala Dinas Pendidikan Kota Malang ini harus pula menerima dengan besar hati karena dikaruniai ABK.
Anak keduanya terlahir  sebagai anak yang mengalami keterlambatan dan autis ringan. ‘’Sejak usia kandungan saya 3,5 bulan, tiba-tiba detak jantungnya lambat dan tidak bergerak. Saat lahir pun tidak menangis. Perkembangannya juga lambat,’’ ungkapnya.
Kini usia Andika Surya Darmawan, sudah 24 tahun, Yuyun panggilan akrab Sri Wahyuningtyas, semakin memberikan perhatian ekstra kepada putranya.
Ditengah kesibukannya menggawangi dunia pendidikan di Kota Malang, ia juga harus tetap memberikan perhatian ekstra kepada anaknya.
Sebab wanita yang 18 Desember lalu merayakan ulang tahun ke 54 itu punya tekad dan keinginan untuk menjadikan putranya sebagai sosok yang mandiri dengan kekurangan yang dimilikinya.
(winin maulidya saffanah/lailatul rosida)