Terapkan Quality Time, Komitmen Suami Sangat Dibutuhkan

SETINGGI tingginya karir seorang wanita, dia tetap seorang ibu. Meski memegang amanah berat sebagai kepala Dinas Pendidikan di Kota Malang, Dra Sri Wahyuningtyas M.Si tetap memrioritaskan keluarganya. Apalagi saat ia menerima kenyataan bahwa putra laki-lakinya, Andika Surya Darmawan terlahir istimewa. Rutinitasnya datang paling pagi ke kantor dan pulang paling malam biasa dilakoni Yuyun, begitu ia biasa disapa. Apalagi ia punya jadwal rutin berkeliling ke sekolah terutama yang ada di pinggiran.

Jarum jam menunjukkan pukul 08.00 WIB, namun suasana kantor Dikbud Jalan Veteran kemarin, terlihat sudah ramai. Di ruang kerjanya, wanita 54 tahun ini terlihat sibuk melayani satu persatu tamu yang sudah antre. Mulai dari pengawas, guru dan para kepala bidangnya.
‘’Kemarin pulang malam karena menunggu pesanan kapal boat untuk SMKN 13, dan pagi ini (kemarin, Red) sudah ditunggu banyak kegiatan,’’ ungkapnya.
Karena kesibukan ini pula, kebersamaannya dengan keluarga, terutama Andika, sangat terbatas. Dia pun harus menerapkan quality time pada pagi dan malam hari.
‘’Sebelum berangkat kerja, saya biasakan mencium Andika, kami ngobrol beberapa saat dan biasanya dia sangat manja,’’ ujarnya.
Kalau sedang rewel, anak keduanya yang kini berusia 24 tahun itu harus dirayu dulu. Misalnya memasakkan makanan kegemaran sang putra dan menyempatkan menyuapinya. ‘’Biasanya saya tawari mau masakan ibu apa. Sukanya makan nasi goreng,’’ kata dia.
Malam hari sepulang dari kantor pun, ia berusaha menengok ke kamar Andika. Kadang anaknya masih sering minta kelon dengan sang ibu. ‘’Dulu sebelum pindah ke rumah di (Jalan) Sigura-gura, Andika sering minta kelon, sekarang tidak,’’ ungkapnya.
Selain itu, ia juga tak membiarkan anaknya sendiri di rumah. Ada shadow (pendamping) yang selalu mendampingi di rumah dan juga guru les yang masih saudara. Guru pendamping pun diberikan pelatihan intensif agar bisa maksimal dalam mendampingi putranya di rumah.
‘’Semua shadow dan guru pendamping anak saya sudah dilatih dan ditraining khusus,’’ jelasnya.
Ia mengakui sang anak sudah sangat mandiri sekarang. Meski di usia 24 tahun masih duduk di bangku SMP, namun semangat belajarnya tinggi.
Siswa SMP Satu Atap Merjosari itu sudah terbiasa bangun pagi dan berangkat ke sekolah tanpa disuruh. Walau terkadang jika sedang tidak enak hati, ia mogok pergi sekolah. Bahkan terkadang masih sering marah sambil mengamuk dan gulung-gulung di lantai.
‘’Pernah waktu jalan-jalan di mall, Andika ngamuk dan gulung di lantai,’’ kenangnya.
Salah satu kesalahan yang menurutnya tidak boleh dicontoh oleh orang tua yang memiliki anak berkebutuhan khusus, menurut Yuyun, adalah membiarkan anak tidak bersekolah. Seperti yang dialami Andika, selama 10 tahun ia tidak sekolah dan orang tuanya tidak memaksanya.
‘’Dulu waktu di SLB dia pernah diganggu temannya, sejak itu tidak mau sekolah,’’ bebernya.
Rasa malu memiliki anak berkebutuhan khusus tidak pernah sedikitpun terlintas di benak Yuyun. Ia sudah siap menerima titipan dari Tuhan kepadanya.
‘’Yang sekarang saya lakukan adalah berdo’a dan memohon kepada Tuhan agar bisa mendampinginya sampai bisa mandiri,’’ pungkasnya.
Perjuangan menjadi ibu dan dosen dari anak autis juga membuat dosen UMM, Frida Kusumastuti harus ekstra keras dalam mendidik buah hatinya. Selain mendapat pendidikan di sekolah khusus, lingkungan keluarga juga menjadi faktor yang sangat penting untuk pertumbuhan anak autis.
Bagi Frida,  di tengah kesibukannya sebagai dosen, Wildan Rizqya Lazuardi adalah hikmah. ‘’Saya bersyukur dengan pekerjaan saya. Saya bisa lebih fleksibel dalam mengatur waktu. Komitmen dengan suami juga sangat membantu,’’ ungkapnya.
Terkadang, di saat Frida memiliki aktivitas di kampus Wildan juga diajak serta. Dengan aktivitas ini, Wildan tidak bosan harus berada di rumah dan di sekolah dalam jangka waktu yang lama.
‘’Berbeda dengan anak normal, melihat Wildan bisa mandiri dan mengurus rumah sudah luar biasa bagi saya. Kemauannya dalam menata baju kami sekeluarga membuat saya bangga,’’ kata Frida.
Ia menuturkan, kesabaran putra pertamanya dalam belajar bermasyarakat membuat ia dan keluarga tak pernah patah semangat dalam mendidik Wildan.
‘’Wildan adalah paradigma pengetahuan bagi saya, menjadi pengembangan kepribadian dan spiritual bagi saya dan keluarga untuk terus belajar darinya,’’ katanya.
Ia menuturkan, semakin hari, pengendalian diri Wildan menunjukkan perkembangan yang baik. ‘’Mungkin karena kami sering membawanya ke tempat-tempat umum, Wildan sudah mulai bisa bersosialisasi dengan orang di sekitarnya,’’ katanya. (winin maulidya saffanah/lailatul rosida)