Ponsel Hasil Pinjaman, Waktu Membuat Hanya Dua Minggu

Simpleton, Peraih Gelar Juara di Nokia Lumia Apps Olympiad 2012
Berawal dari kegemaran bermain games, empat mahasiswa Malang sukses meraih penghargaan bergengsi tingkat nasional. Mengusung nama tim Simpleton, mahasiswa asal Universitas Brawijaya (UB) dan Universitas Negeri Malang (UM), meraih predikat Juara II di ajang Nokia Lumia Apps Olympiad 2012.

SEGEROMBOLAN kelinci antariksa panic, setelah planet yang mereka tinggali luluh lantak diserang musuh. Untuk bertahan hidup, mereka pun ancang-ancang mengekspansi Bumi. Tak ayal, keselamatan penduduk dunia terancam. Sebelum merajalela, kelinci-kelinci luar angkasa ini harus dibasmi.
Tentu saja hal itu tidak terjadi dalam kehidupan nyata. Plot tersebut merupakan inti cerita dalam ‘Bunny Beyond’, game yang mengantarkan kuartet Muhammad Rizka, Febri Abdullah, Iqra Ahmadya dan Muhammad Aminul Akbar, dinobatkan sebagai runner up dalam kompetisi yang dihelat Nokia dan Microsoft di Jakarta, 18 Desember lalu.
Kaget bercampur bangga menyelimuti perasaan keempatnya. ‘’Begitu diumumkan sebagai salah satu finalis kategori XNA Pro, kami kaget. Sebelumnya kami tak pernah membuat game, tapi karya pertama ini langsung dimasukkan kategori profesional. Malah akhirnya dapat Juara II. Padahal bersaing dengan yang sudah berpengalaman,’’ beber Muhammad Riska alias Mocha, mahasiswa jurusan Seni Desain UM yang beda kampus dengan tiga rekannya yang lain.
Menilik segi performa hingga detail permainan, karya Simpleton memang pantas diganjar penghargaan. Meski terbilang dadakan, game yang dibuat empat mahasiswa semester akhir ini patut mendapat apresiasi tinggi. Bahkan bila dimainkan, Bunny Beyond tak kalah menantang daripada Angry Birds besutan Rovio yang saat ini booming di seluruh penjuru dunia.
Bunny Beyond sendiri bersetting di sebuah taman yang tengah diserang gerombolan kelinci super. Karena dikisahkan berasal dari planet luar yang futuristik, binatang-binatang pengerat ini telah memiliki senjata mutakhir.
“Konsepnya seperti gabungan game Whack Mole dan Plants vs Zombie. Kami berniat membuat game yang short tapi fun, jadi bisa dimainkan orang-orang untuk mengusir kebosanan di waktu luang,’’ lanjut Febri ketika berkunjung ke Kantor Malang Post, Sabtu (22/12) sore.
Nah, nantinya sang pemain bakal menjadi lakon utama yang bertugas membasmi kelinci-kelinci ini dengan berbagai senjata yang telah disiapkan. Mulai dari pistol, misil hingga pelontar es untuk membekukan lawan.
Sedangkan kelinci yang dihadapi juga tak begitu saja mudah dimusnahkan. Bahkan saat mencapai level 3, pemain akan berhadapan dengan sang Big Boss yang berbentuk kelinci raksasa bersenjatakan armor dan bom.
Tak bisa dipungkiri, untuk mengkreasi game sekeren ini jelas bukan pekerjaan mudah. ‘’Awalnya, kami diberi tahu salah seorang dosen soal lomba yang diadakan Nokia. Beliau mendorong kami untuk ambil bagian. Padahal waktunya kurang dua minggu saja sebelum batas akhir penyerahan. Kami bertiga akhirnya mengajak Mocha, karena walaupun beda kampus kami tahu betul kemampuannya,’’ kenang Akbar, satu dari tiga mahasiswa Jurusan Informatika UB yang tergabung dalam Simpleton.
Parahnya, tak ada satupun dari keempatnya memiliki ponsel Nokia Lumia 920. Padahal, kompetisi game yang mereka ikuti ini merupakan permainan yang nantinya diaplikasikan pada smartphone bersistem operasi Windows Phone 8 itu. ‘’Untung ada pinjaman dari teman. Itu pun Nokia Lumia 820. Setidaknya masih mirip. Kami juga pakai emulator,’’ tandas Mocha.
Karena waktu yang kian mepet, begadang pun jadi kebiasaan yang mengakrabi kuartet Simpleton. Diburu deadline, alhasil masih ada kekurangan di sana-sini saat hari-H pengumpulan karya.
“Beberapa jam sebelum deadline ada error soal alokasi memori. Rasanya pusing bukan kepalang. Saking tidak bisanya berpikir jernih lagi, kami sampai lupa memasukkan sound effect saat submit ke panitia,” imbuh mahasiswa yang juga komikus ini menimpali kepanikan yang menyerang keempatnya.
Perjuangan kuartet gamers ini pun tak sia-sia. Saat pengumuman melalui situs internet, nama Simpleton beserta karya Bunny Beyond yang dihasilkan masuk nominasi finalis kategori aplikasi games XNA Pro. Pada tanggal 16 Desember, mereka akhirnya berangkat ke ibukota naik bus.
‘’Saya sampai tidak ikut ke Jakarta karena duit bulanan sudah menipis,” urai Iqra malu-malu. Alumni SMAN 1 Malang ini terpaksa stay di Malang saat tiga rekannya berjibaku di Plaza Bapindo Jakarta.
Meski hanya menjadi nomor dua di bawah tim Universitas Parahyangan yang sudah berpengalaman menciptakan game, kesuksesan Simpleton naik podium membuat mereka berhak mengantongi fresh money sebesar US$ 150 dan langganan account developer, selain tentunya sekeping medali perak khas ajang Olimpiade.
Saat ini, mereka juga masih menunggu Bunny Beyond tersedia di Windows Store sehingga bisa diunduh secara gratis di seluruh dunia. Besar kemungkinan, game membanggakan karya anak bangsa ini bisa dinikmati pengguna Smartphone mulai awal tahun 2013 mendatang.
Tidak rugi kalau game dipasarkan secara free alias tanpa biaya? “Dasarnya kami ini kan maniak games. Jadi tahu betul rasanya jadi gamers. Pasti kalau ada permainan baru di store, kami pilih yang free. Karena itulah kami tidak merasa rugi kalau game ini gratis,” tukas Febri yang mengaku Simpleton bakal mengikuti Imagine Cup bulan Maret mendatang.
Sebagai gantinya, strategi khusus telah disiapkan untuk membuat game ini eksis di pasaran. “Kami bisa jadi meniru strategi Angry Birds. Begitu game ini booming, kami siap meluncurkan merchandise resmi Bunny Beyond. Mungkin dari bisnis inilah kami bisa ambil keuntungan. Bisa dibayangin, sebagai gamers kami bisa hidup dari hobby kami,” ujar Mocha bersemangat.
Selagi menunggu game karya mereka masuk Windows Store, kuartet Simpleton kini sudah memikirkan inovasi apa yang harus ditambahkan pada sekuel lanjutan Bunny Beyond. Diantaranya memperbaiki game dengan detail yang lebih spesial, mulai dari sound, karakter dalam permainan hingga senjata yang digunakan. Serta tak ketinggalan meningkatkan level game yang rencananya dibuat hingga level 9. (tommy yuda pamungkas)