Tak Lagi Beli Gas LPG, Jika Bocor Cukup Ditutup dengan Isolasi

LIMA tahun lalu, sampah di TPA Supit Urang adalah masalah. Kini, sampah di TPA terbesar di Malang Raya itu, justru jadi sumber kehidupan. Gas metan yang biasanya  menguap terbuang dari tumpukan sampah dan mengancam lingkungan, diolah menjadi sumber panas untuk masak. Selain ngirit, penggunaan gas metan jauh dari bahaya ledakan gas dan juga ramah lingkungan.

Pipa dan kran tersambung kompor di dapur rumah Jumain, warga Supit Urang. Sepintas seperti jaringan pipa air lengkap dengan kran. Jika kran diputar, bukan air yang keluar, melainkan gas. Lalu putar saklar kompor dan dipancing nyala korek api, maka nyalalah kompor gas metan.
Itulah pemandangan baru di dapur-dapur milik warga di sekitar TPA Supit Urang. Sejak sebulan lalu, 65 warga RT 05, RW 05, kelurahan Mulyorejo, yang merupakan warga sekitar TPA Supit Urang, mulai  beralih ke kompor gas metan.
Warga tak lagi membeli gas LPG. Warga juga tak bersusah payah mencari kayu bakar di kebun. Untuk memasak, mereka cukup memutar kran dan saklar kompor, tanpa harus memikirkan kehabisan gas.
Jumain merupakan salah satu warga yang sedang menikmati  gas metan, untuk kehidupan sehari-hari. Ia mengandalkan gas metan yang dialirkan melalui pipa, seperti pipa air ke rumahnya.
‘’Sumber gas metan dari sampah TPA Supit Urang. Gas metan merupakan gas tangkapan dari TPA yang dialirkan ke rumah warga melalui pipa. Sekarang kami menikmati manfaatnya,’’  terang Jumain.
Pria 42 tahun ini, salah satu dari 65 peserta program pemanfaatan gas metan tahun 2012. Program  tersebut merupakan program Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP) Kota Malang. Dalam program ini, 65 warga itu mendapat kompor gas metan secara gratis. Lengkap dengan instalasi distribusi gas.
Jumain merasakan berlipat manfaat, sejak menggunakan gas metan. ‘’Sejak satu bulan terakhir ini bisa ngirit. Tabung gas LPG yang selama ini saya gunakan, sekarang hanya sebagai cadangan,’’ ucapnya.
Ia lalu mengkalkulasi jumlah uang yang bisa dihemat pasca menggunakan kompor gas metan. ‘’Sebelumnnya, dalam sebulan saya mengisi tabung LPG sebanyak tiga kali. Sekali isi seharga Rp 14 ribu. Kalau ditotal, ya habis 42 ribu dalam sebulan,’’ hitungnya serius.
‘’Sekarang saya bisa ngirit Rp 42 ribu per bulan. Ya lumayan bisa untuk SPP anak sekolah,’’ sambung pria ramah yang bekerja sebagai tukang cat ini.
Tidak hanya berhemat, ia juga tak repot memikirkan kehabisan gas di tengah malam. ‘’Gasnya mengalir terus. Kami gunakan secara gratis,’’ katanya bersemangat.
Warga pengguna kompor gas metan, juga tak lagi risau dengan ancaman tabung gas meledak. Penggunaan gas metan untuk kompor, sangat aman dan tak ada bahaya meledak. ‘’Kalau pipa instalasi bocor, tidak sampai meledak,’’ ucap Jumain.
Deteksi kebocoran gas pun sangat mudah. Ini karena gas metan yang bocor mengeluarkan bau seperti bau sampah. Pipa gas metan yang bocor juga mudah ditangani. ‘’Cukup gunakan isolasi di bagian pipa yang bocor. Ya sudah, jadi perlakuannya pun sangat mudah,’’ kata dia.
Jumain dan  warga sekitarnya tak pernah membayangkan kalau suatu saat akan menikmati manfaat sampah yang dibuang di TPA Supit Urang. Begitu juga Keseni, warga lainnya.
Keseni  yang sehari-hari jualan gorengan di sudut jalan di Supit Urang ini, mengaku bisa ngirit. ‘’Biasanya sebulan habis tiga tabung LPG. Sekarang tidak lagi, saya pakai kompor gas metan. Gratis,’’ ucap Keseni lalu tersenyum. Ia juga tak perlu cari kayu bakar di kebun sekitar rumahnya. ‘’Biasanya juga pakai kayu bakar,’’ sambungnya.
Warga sekitar yang belum kebagian program ini, sekarang mulai bertanya-tanya kapan giliran masuk dalam program pemanfaatan gas metan. ‘’Warga berharap bisa ada penambahan jaringan sehingga bisa gunakan gas metan. Karena program ini gratis dan sangat bermanfaat,’’ terang Jumain.
Penggunaan gas metan untuk kompor memang dilakukan secara bertahap Tahap pertama yakni 65  warga. Beberapa diantaranya merupakan anggota Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) Bina Mandiri, Supit Urang.
Kendati kompor gas metan sedang jadi gaya hidup baru, tapi belum sempurna. Pasalnya jika mati lampu, kompor tak berfungsi. Ini karena instalasi distribusi gas yang terletak di kantor TPA Supit Urang, menggunakan blower yang digerakan listrik.
Kepala DKP Kota Malang, Wasto mengatakan, akan terus menambah pengguna kompor gas metan. Tahun depan mengusulkan 300 KK di TPA Supit Urang sebagai pengguna baru kompor gas metan.
Pemanfaatan gas metan di TPA Supit Urang, menurut Wasto, memiliki banyak manfaat. Salah satu manfaatnya, warga tak membeli gas untuk kebutuhan masak sehari-hari.
Manfaat lain, lanjut dia, mengurangi pelepasan gas metan secara bebas. Gas metan yang tak dikelola dan terlepas bebas di udara, ikut menyumbang percepatan menipisnya lapisan ozon. Lapisan ozon yang terus menipis menyebabkan pemanasan global.
‘’Jadi sangat ramah lingkungan. Selain itu juga mengurangi bahaya kebakaran. Karena gas metan yang terlalu banyak di TPA menyebabkan TPA rawan terbakar,’’ pungkas Wasto.
Pengguna kompor gas metan pun tak perlu khawatir kehabisan sumber gas. Pasalnya potensi sampah Kota Malang selalu meningkat sering pertambahan penduduk. Yakni 10 sampai 15 persen setiap tahunnya. Saat ini, setiap harinya sampah yang diangkut ke TPA Supit Urang sebanyak 400 ton per hari. (vandi battu)