Kelola Tempat Wisata,Malang Perlu Belajar ke Jogjakarta (I)

LIBURAN  merupakan hal sangat  menyenangkan bagi siapapun. Tak terkecuali bagi kami, wartawan Malang Post yang memanfaatkan libur menjelang Hari Raya Natal walaupun  hanya selama satu hari, Senin (24/12) baru lalu.

Tujuan berlibur kami adalah Jogjakarta. Bukan hal  mudah memang,apalagi  jika dilihat dari jarak yang tak dekat dari Malang serta keterbatasan waktu kami.  Namun jauh dari semua itu, kawasan Gunung Kidul sengaja  kami pilih sebagai  fokus perjalanan, karena   pesona wisata alamnya memang istimewa.
Pengaturan waktu yang sangat teliti menjadi patokan kami berlima untuk ’’menyingkir’’ sejenak dari hiruk pikuk Kota Malang, Minggu malam (23/12). Tugas kami sebagai pencari berita membuat kami harus tetap ingat waktu dan tidak lalai dengan tugas dan tanggung jawab meliput kejadian serta peristiwa yang terjadi di Malang Raya. Setelah melalui perbincangan dan diskusi beberapa hari yang lalu, akhirnya berangkatlah kami berlima yakni Ira Ravika, Dyah Ayu Pitaloka, Kurniatul Hidayah, Ismail Pohan, dan Binar Gumilang menuju bus mengantarkan kami menuju Kota Jogjakarta.
Tiga tempat  kami kunjungi di sana berlokasi di Gunung Kidul. Mulai dari Gua Pindul, Pantai Indrayanti, hingga Bukit Bintang. Jauh-jauh datang ke Jogjakarta untuk mengunjungi tempat tersebut, bukan berarti pesona alam di Malang Raya tak kalah indah. Kota Wisata Batu (KWB)  juga merupakan jujugan pariwasata wisatawan lokal maupun mancanegara. Namun, kami menilai bahwa Malang memang perlu belajar banyak dalam hal pengelolaan tempat wisata tersebut. Sehingga mampu semakin menyerap tenaga kerja hingga memaksimalkan potensi alam yang ada.
Ketika kami sampai di kawasan wisata Gua Pindul, kami langsung diterima dengan hangat oleh pemuda setempat yang bertugas menjadi guide kami selama di Gua Pindul. Namanya Grama. Siang itu, suasana di tempat tersebut sangat ramai. Pengunjung yang datang berasal dari segala usia. Mereka bisa menikmati petualangan seru menyusuri Gua Pindul hanya dengan membayar Rp 25 ribu  – 30 ribu/ orang.
”Saya sudah mengantar rombongan sebanyak lima kali untuk hari ini saja (24/12). Tergolong ramai karena memasuki musim liburan. Selain saya masih ada banyak penduduk sekitar yang pekerjaannya memang mengantar wisatawan yang ingin berkunjung ke Gua Pindul,” jelas Brama,sang pemandu, sambil terus menunjukkan kami jalan masuk menuju lokasi Gua Pindul.
Menurut penuturan Grama, tempat ini dikelola sendiri oleh warga sekitar. Satu orang bisa membawa satu hingga belasan orang dalam satu rombongan. Bila dirata-rata, pendapatan dalam sehari per orang penduduk sekitar bisa mencapai jutaan rupiah. Tentu saja ini mampu membuat masyarakat berlomba-lomba mendapatkan penghasilan yang lebih besar lagi. Tak lupa, wawasan tentang Gua Pindul serta keramahan menyambut pengunjung menjadi kunci utama mereka untuk mulai mengantongi lembaran rupiah.
”Di Malang, kita sebenarnya  juga punya  gua. Mulai  dari yang buatan sampai yang alami. Tapi sayang akses jalan menuju sana masih susah. Kalau di sini jalannya sudah di aspal dan bagus. Wisatawan yang mau berkunjung ke sini tentu tidak bosan selama perjalanan karena merasa nyaman dan dimanjakan dengan pemandangan di kiri kanan jalan,” terang Ira Ravika yang memang senang menjelajah alam.
Ia menilai bahwa Pantai Goa Cina di kawasan Malang selatan juga memiliki potensi yang tak kalah bagus dari Gua Pindul. Goa yang terletak persis di samping pantai berpasir putih dan air yang sangat jernih tersebut sebenarnya sangat berpeluang menjadi primadona baru kawasan wisata di Malang jika dikelola dengan baik dan benar.
Wisatawan yang datang kesana akan disuguhkan dengan dua tempat wisata sekaligus yang berada dalam satu lokasi. Hanya saja yang perlu menjadi catatan dan PR pemerintah daerah adalah bagaimana akses jalan kesana menjadi layak untuk dilalui pengunjung yang tak hanya berasal dari Malang saja, melainkan juga dari luar kota. Pemberdayaan sumber daya manusia juga diperlukan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar dalam menjaga dan mengembangkan potensi alam yang tersedia di Bumi Arema.(Kurniatul Hidayah)