Kelola Tempat Wisata,Malang Perlu Belajar ke Jogjakarta (Habis)

Dari Gua Pindul, menyusuri kejaiban Gunung Kidul, tujuan persinggahan berikutnya adalah menikmati senja di Pantai Indrayanti, serta mengagumi keelokan Jogja di malam hari melalui Bukit Bintang.

Mentari sudah tak malu lagi menampakkan sinarnya. Udara khas Kota Jogjakarta yang panas, nyatanya mampu membakar semangat kami untuk melanjutkan rute perjalanan ke Pantai Indrayanti. Sebuah pantai yang berjarak sekitar 40 km dari lokasi pertama kami, Gua Pindul. Biaya yang dikeluarkan wisatawan untuk berkunjung di sana relatif murah. Tiap pengunjung hanya dikenakan biaya Rp 4 ribu/ orang.
Terbayar sudah perjalanan kami yang berliku untuk menemukan pantai yang memiliki nama asli Pantai Pulang Syawal ini. Tempatnya masih asri, jauh dari perkampungan penduduk. Namun demikian, tempat yang dikelola oleh pihak swasta ini, sudah menarik banyak minat wisatawan untuk datang.
Terbukti dengan orang yang tak berhenti berlalu-lalang di sepanjang jalan, serta padatnya kendaraan yang melalui jalanan di sana. Kami sedikit kesulitan menemukan lahan parkir karena antusiasme pengunjung lain yang luar biasa tersebut.
Rasa lelah bisa saja terobati dengan mahakarya Sang Pencipta yang sedang memenuhi penglihatan kami. Namun, rasa lapar kami tak mampu lagi terbendung. Sederet tempat makan di sepanjang garis pantai siap memasok energi kami untuk kembali beraktivitas. ‘’Saatnya mengisi pasokan tenaga. Menu ikan bakar dan kelapa muda sepertinya cukup untuk mengganjal perut sampai malam hari nanti,’’ ujar Ira Ravika, wartawan yang biasa ngepos di kepolisin.
Angin sepoi-sepoi serta suara deburan ombak, menghipnotis kami untuk menghabiskan lebih banyak waktu di pantai yang memiliki pasir putih serta air yang masih sangat bersih ini. Tak heran jika wisatawan yang datang ke sana memilih untuk menceburkan diri, agar bisa lebih menyatu dengan keramahan sang pantai. Padahal terdapat beberapa peringatan larangan berenang yang sudah tertempel di area.
Merasa puas dengan jamuan Pantai Indrayanti, kami memutuskan untuk kembali ke pusat kota, untuk memburu tiket kereta api ke Malang malam itu juga (24/12). Sore berganti malam, pemandangan di sekitar Gunung Kidul mulai tak tertangkap mata. Baru saja berniat memejamkan mata, ribuan cahaya memasuki penglihatan kami. Hamparan lampu yang berada di kaki Gunung Kidul, membuat kami tak lagi merasakan letih yang dipikul badan.
‘’Ini namanya Bukit Bintang. Kalian bisa melihat lampu-lampu rumah dan jalan yang ada di bawah hanya dengan berdiam di sini. Saking banyaknya lampu lampu di bawah, jadi tampak menyerupai gugusan bintang. Mungkin karena itulah tempat ini dinamakan Bukit Bintang,’’ terang Ismail, fotografer yang langsung mengambil peran sebagai guide dadakan.
Pemandangan tersebut tak beda jauh apabila kita berada di daerah Gunung Banyak yang ada di Kota Batu pada malam hari. Bahkan bisa dibilang milik kita jauh lebih indah. Hanya saja tidak semua orang mengetahui pesona alam kita.
Tempat yang hanya dimaksimalkan pada siang hari dan digunakan untuk Paralayang tersebut, mampu menyuguhkan pemandangan luar biasa ketika malam hari.
Apalagi ketika hujan baru saja reda. Tak ada satu pun kabut yang menutupi hamparan lampu seantero Kota Batu yang terlukis dengan sempurna. Kegagahan Gunung Panderman, Gunung Wukir, Gunung Semeru, dan Gunung Arjuna juga berhasil memberikan udara sejuk yang tak bisa ditemui di Bukit Bintang Gunung Kidul, Jogjakarta.
Hanya saja, keunggulan yang dimiliki Bukit Bintang ini adalah tempat yang strategis. Berada tepat di sisi jalan utama yang ada di Gunung Kidul. Siapapun dengan kendaraan apapun bisa berhenti dan menikmati pemandangan eksklusif tersebut.
Selain itu, banyaknya pedagang yang menjajakan jajanan serta minuman khas dataran tinggi, mampu dijadikan alasan pegunjung untuk menghabiskan malam yang romantis di sana.
Begitu menengok ke arah jam, kami bergegas merapat ke Stasiun Kota Tugu. Tempat yang akan menjadi penghujung petualangan kami menyusuri keelokkan bumi Jogjakarta.
Sebelum pulang, kami menyempatkan diri untuk berkeliling di sekitar Stasiun. Berbelanja beberapa oleh-oleh di Malioboro serta berkunjung ke tempat yang paling merakyat di kawasan Jogjakarta, yakni angkringan yang menyediakan Kopi Joss serta Nasi Kucing yang telah dikenal kelezatannya hingga ke luar kota. (Kurniatul Hidayah)