Ajari Cara Passing, Beri Motivasi Agar Suka Bola

UNTUK  kali pertama  dalam sejarah berdirinya klub, launching Arema Indonesia di Graha Cakrawala UM kemarin dikonsep berbeda. Dengan konsep entertainment football, manajemen merancang berbagai acara menarik untuk meningkatkan citra tim di mata Aremania. Salah satu acara yang paling berkesan adalah coaching clinic untuk anak  yatim piatu dari Malang Raya oleh headcoach Rahmad Darmawan (RD) didukung jajaran asisten pelatih.

Sore kemarin, senyum lebar Rahmad Darmawan (RD) tak jua berhenti tersungging dari sudut bibirnya. Mata pelatih kepala Arema Indonesia ini tampak berbinar senang. Namun, kegembiraan itu bukan karena melihat Qischil Gandrum Minny atau Beto Goncalves mencetak gol.
Raut wajah antusias yang ditunjukkan RD karena sedang memberi coaching clinic bagi anak-anak di samping venue area launching tim berjuluk Singo Edan, Graha Cakrawala UM. Sekitar 99 anak-anak dari 10 panti asuhan yang tersebar di Malang Raya diberi latihan langsung oleh pelatih berusia 46 tahun ini.
Sepuluh panti asuhan tersebut adalah Al-Kaaf Al Husna, Nurul Abiyadh, Sunan Giri, Salman, Yasuka, Hidayat Taufik, Nurul Huda, Akhlaqul Karimah dan Rabarri Perharsia. ”Salam satu jiwa, Arema! Singo Edan, Arema!,” ujar RD antusias saat mengawali coaching clinic.
Sorakan khas Aremania ini pun diikuti oleh anak-anak panti asuhan dengan antusias. Apalagi, mereka menjadi bagian penting dari rangkaian launching unik team Arema sebelum menghadapi kompetisi Indonesia Super League musim depan.
Tak hanya RD dan anak-anak panti saja yang senang, antusiasme sepertinya juga terlihat jelas dari para asisten pelatih. Para asisten pelatih seperti Satia Bagdja, Made Pasek, Joko Gethuk, Francis Wewengkang, Kuncoro hingga Hendro Kartiko yang diperkenalkan oleh RD memberi wajah sumringah kepada anak-anak.
”Ini ada coach Satia, coach Gethuk, coach Enal, coach Made, coach Hendro. Yang paling ujung itu coach Kuncoro, mantan pemain Singo Edan yang edan beneran,” ujar RD berkelakar saat memperkenalkan para asisten di hadapan anak-anak panti. Setelah perkenalan, der trainer berlisensi A AFC ini mulai membagi 99 anak menjadi beberapa kelompok untuk memulai sesi coaching clinic.
Materi yang diberikan oleh RD dan para asisten pelatih cukup variatif, mulai dari dribel, passing hingga keeper skill. Para pelatih tidak canggung sama sekali dalam mengarahkan anak-anak untuk melakukan gerakan passing maupun dribel. “Kalau memberi passing, badannya jangan ke belakang, tapi ke depan,” ujar RD sambil memperagakan cara passing yang benar kepada anak-anak.
Setelah sekitar satu jam memberi materi coaching clinic, pelatih karismatik tersebut pun mengakhiri acara tersebut. “Saya senang sekali bisa berlatih bersama adek-adek, ,semoga bermanfaat dan bisa memberi wawasan soal bola. Yang belum suka bola bisa termotivasi, yang sudah suka bisa memperbaiki teknik,” ujar RD.
Kepada Malang Post, mantan pelatih Persija ini sangat senang bisa memberi coaching clinic buat anak-anak yang kurang beruntung. “Saya sendiri baru pertama kali merasakan launching tim seperti ini, yang buat saya gembira, ada coaching clinic untuk membantu anak-anak yang membutuhkan,” paparnya setelah memberi materi coaching clinic.
Sementara itu, wakil koordinator PAY (Pecinta Anak Yatim) Malang, Pujo Djueri mengaku senang atas inisiatif manajemen dan tim pelatih untuk memberi latihan sepakbola spesial bagi anak-anak yatim. “Kita tentu senang dan ingin mendapat kesempatan seperti ini di lain hari,” ujar Pujo.(fino yudistira)