Sisi-sisi Kemanusiaan Mahasiswa yang Menjadi Volunteer Disable

PERJUANGAN anak bangsa yang memiliki ketidaksempurnaan fisik (disabilitas) untuk menyelesaikan gelar sarjana, banyak menarik perhatian. Apalagi tahun ini Universitas Brawijaya (UB) menerima 15 mahasiswa disabilitas. Sembilan mahasiswa tuna rungu, dua mahasiswa tuna netra dan empat mahasiswa tuna daksa. Dibalik perjuangan mereka, ada beberapa relawan berstatus mahasiswa yang selalu setia mendampingi. Siapa saja mereka?

Siang kemarin, Gedung Perpustakaan UB terlihat ramai dengan mahasiswa yang asyik belajar di taman. Di ruangan lainnya, ada pula sejumlah mahasiswa yang sedang berdiskusi.
Hanya saja suasana di ruang yang bernama Pusat Studi Layanan Disabel (PSLD) itu, terasa senyap. Masing-masing hanya menggerakkan tangan sebagai isyarat. Sesekali mereka memerhatikan layar laptop di hadapan mereka dan kemudian saling berbicara tanpa kata.
‘’Kami sedang menyiapkan ujian tengah semester (UTS) besok (hari ini, Red.), sebelum pulang kami biasa berdiskusi,’’ ungkap Rafida, mahasiswi Psikologi FISIP UB kepada Malang Post.
Rafida adalah salah satu dari 18 volunteer disable. Mereka bertugas untuk mendampingi mahasiswa yang memiliki keterbelakangan fisik. Tidak hanya mendampingi ketika ujian saja, tapi dalam keseharian di kelas pun, para voluteer ini harus mengikuti kegiatan belajar.
‘’Kalau biasanya saya kuliah psikologi, maka sekarang saya juga ikut kuliah seni rupa. Kebetulan yang saya dampingi adalah mahasiswa seni rupa,’’ kata Fida.
Karena tugas pendampingan itulah, Fida pun dalam sehari bisa menempuh kuliah double. Kalau biasanya ia hanya kuliah empat jam, sekarang menjadi delapan jam. Setiap hari ia berangkat ke kampus sejak pukul 06.00 WIB sampai 19.00 WIB.
Selain Fida, di ruang Pusat Studi Layanan Disabilitas (PSLD) UB kemarin, juga terlihat sejumlah volunteer lainnya. Ada Rizky Azhar yang bertugas mendampingi empat mahasiswa disable sekaligus. Keempatnya adalah tuna rungu.
‘’Awalnya saya sama sekali tidak mengerti bahasa isyarat, tapi sekarang semakin lancar berkomunikasi dengan mereka,’’ kata dia.
Pada awalnya, jika ada kalimat yang tidak dimengerti, ia menuliskan pada selembar kertas. Namun kalimatnya harus singkat karena menurut dia penyandang tuna rungu kurang bisa menuliskan struktur kalimat dengan baik. Bahasa mereka sering kali terbalik jika menulis.
‘’Para dosen di kelas pun kesulitan jika ada ujian tulis, karena itulah mahasiswa disable ini selain harus menjawab soal dengan tulisan juga dengan isyarat,’’ bebernya.
Sama halnya dengan Fida, Rizky juga harus mengikuti kegiatan kuliah keempat mahasiswa disable yang didampinginya. Hanya saja karena keempatnya sama-sama berada di Fakultas Program Teknik Informatika dan Ilmu Komputer (PTIIK) sehingga tidak ada kesulitan. Apalagi ia yang duduk di semester 5 bisa mengulang kembali pelajaran yang pernah didapatkannya.
‘’Hanya saja kendalanya kalau di PTIIK ini adalah banyak materi yang dalam bentuk rumus, jadi menerjemahkannya agak susah,’’ kata dia.
Pengalaman menarik juga dilakoni Robby Tejamukti. Sukarelawan difabel ini tetap memberikan perhatian dan bimbingan meski sebenarnya ia memiliki jadwal kuliah yang padat.
‘’Empat hari dalam seminggu saya berada di kampus ini mulai pukul 07.00 WIB sampai 21.00 WIB, karena saya mendampingi empat mahasiswa difabel yang mengambil kuliah sekaligus membantu mereka dalam tugas-tugas kuliah,’’ bebernya.
Mahasiswa Fakultas Hukum (FH) UB ini merasa enjoy bisa membantu mahasiswa yang memiliki kekurangan. Dalam kesehariannya mendampingi mahasiswa difabel, biasanya ia dan teman-teman relawan memvisualisasikan setiap materi presentasi yang dilakukan oleh dosen.
‘’Selama mahasiswa yang saya dampingi masih ada di kampus, maka saya mempunyai tanggung jawab untuk melakukan pendampingan,’’ tegasnya.
Jika waktu kuliah kebetulan bertabrakan antara jam kuliahnya dengan jam mahasiswa difabel, biasanya ia berkoordinasi dengan sukarelawan yang lain untuk menggantikan di kelas.
Saat disinggung berapa gaji yang mereka terima, dengan kompak ketiga sukarelawan ini mengaku tak pernah mempermasalahkan gaji. Bagi mereka, apa yang dilakukan adalah bentuk kepedulian terhadap sesama yang membutuhkan.
‘’Kami tidak pernah menghitung berapa uang yang kami terima, karena kami lakukan ini semua dengan sukarela,’’ ujar Rizky.
Keikhlasan para mahasiswa yang masih berusia muda ini memang pantas diacungi jempol. Karena peran mereka pula, anak-anak bangsa yang kurang beruntung bisa belajar di perguruan tinggi tanpa ada kendala.
Bahkan Fikri, penyandang tunarungu, sebentar lagi akan menggelar pameran hasil lukisannya. Selain karena Fikri memang berbakat, namun setidaknya berkat peran para volunteer pula ia kembali menemukan kepercayaan diri untuk meraih cita-cita besarnya.
‘’Kami bangga dengan mereka para mahasiswa disabel, bahkan ada salah satu yang saat ini berjuang di X Factor Indonesia dengan bakat menyanyinya,’’ pungkasnya. (lailatul rosida)