Melihat dari Dekat Museum Kesehatan Jiwa RSJ Lawang

Apa yang bisa diperbuat  seorang pasien Rumah Sakit Jiwa (RSJ) dalam keseharian mereka yang terasa beku, kaku dan aneh? Apakah hanya bisa tidur? Mengoceh? Diam? Mengamuk? Makan? Jawabnya adalah tidak! Ternyata mereka bisa menghasilkan karya estetik yang bisa dinikmati masyarakat umum. Mari kita menatap satu persatu beberapa karya mereka di museum Kesehatan Jiwa RSJ Lawang. Juga menatap aneka peralatan medis yang ’sadis’ yang digunakan puluhan tahun lalu dalam menangani pasien RSJ.
Lazimnya sebuah museum yang menyimpan benda-benda uzur, museum Kesehatan Jiwa RSJ Lawang Dr Radjiman Wediodiningrat juga mengoleksi berbagai benda dan alat medis zaman dulu. Sekilas saat melihat dan membaca berbagai keterangan yang tertempel di semua benda dan alat itu, siapa pun pasti akan tergidik.
Di sana pengunjung bisa menyaksikan berbagai peralatan terapi sakit jiwa yang penggunaannya dibenarkan oleh RSJ maupun tidak. Seperti peralatan terapi yang dibenarkan penggunaannya dan dipajang di museum ini adalah bak Hydrotherapy. Peralatan itulah yang digunakan tenaga medis RSJ pada abad 19 untuk merendam pasien demi menenangkan pasien yang kambuh dan memberontak kejiwaannya.
“Karena pada saat itu ilmu kedokteran jiwa belum maju seperti sekarang, jadi terkadang alat-alat dan perlengkapan yang digunakan untuk menerapi pasien terlihat kejam dan sadis. Padahal ya memang itulah penanganan pada zaman itu,“ ucap Kepala Instalasi Museum RSJ Dr Radjiman Wediodiningrat, Siswantoro kepada Malang Post saat acara Open House Museum Kesehatan Jiwa RSJ Lawang kemarin.
Bergeser sedikit, kita juga akan melihat koleksi sepasang straight jacket. Bagi penggemar film impor, adegan tokoh yang terindikasi terkena gangguan jiwa sering digambarnya mengenakan kostum ini. Yakni jaket putih banyak tali serta gesper dengan bukaan di bagian punggung. Di ujung lengan terdapat tali yang gunanya untuk mengaitkan dua tangan ke belakang dengan posisi sedakep.
Lalu ada juga alat yang biasanya masih dijumpai di daerah-daerah pelosok untuk menangani warga yang dianggap gila, yakni pasung kayu. “Kalau alat ini pasti sudah sangat familier. Dengan posisi duduk, dua kaki dimasukkan ke dua lubang kayu yang bisa dibuka tutup,“ jelas Siswantoro lagi.
Nah, di tempat ini pula kita akan menemukan alat ‘sadis‘ lainnya, yakni alat pengiris otak. Jangan membayangkan yang tidak-tidak bila melihatnya dari jauh. Karena alat itu hanya menjadi bagian dari alat-alat laboratorium zaman dulu untuk meneliti otak manusia beserta gangguan-gangguannya. “Jadi bukan otaknya pasien yang dibuka dan diiris untuk menyembuhkannya,“ katanya sambil tersenyum.
“Wah benda-benda yang ada di dalam museum ini seram-seram juga ya ? Merinding saya melihat dan membaca keterangannya,“ kata Raisya Rachmawati, salah seorang pengunjung museum.
Lalu bergeser ke bagian lain, suasana hati dan penglihatan kita akan lebih sejuk dan romantis. Ya, di sana juga dipajang sekitar 30 lukisan berbagai ‘aliran‘ karya pasien RSJ Lawang. Ada lukisan aliran realis yang menggambarkan pemandangan alam gunung lengkap dengan sawahnya, bunga mawar merah juga lukisan wajah manusia dengan garis-garis wajah yang terlihat sempurna untuk karya pasien RSJ.
Salah satu lukisan yang cukup menarik perhatian adalah lukisan yang dalam keterangannya berjudul ‘Wedhok....‘ karya Ajie R lengkap dengan inisial tapi tanpa identitas waktu. Wujud perempuan dalam lukisan itu berambut cokelat seleher, dengan hidung terlihat sangat mancung karena dilengkapi bayangan dan mata yang menatap hampa ke depan.
Ada juga lukisan aliran abstrak yang berwujud coretan-coretan serta bangun-bangun tidak beraturan namun memiliki kompisisi warna yang kuat dan padu.
Menurut Siswanto, lukisan itu dikerjakan pasien yang memang asalnya memiliki bakat melukis. Mereka dikategorikan dalam pasien menjelang normal. “Artinya perilaku dan tingkah laku mereka sudah terlihat seperti manusia tanpa gangguan jiwa, meskipun secara kejiwaan belum normal. Apalagi kita menyediakan ruang Kreasi yang bisa dimanfaatkan semua pasien untuk mengeksplorasi bakat minat mereka,“ jelas Siswanto lagi.
Diungkapkannya pula, kegiatan di Ruang Kreasi RSJ Lawang ikut membantu proses terapi kejiwaan pasien. Mereka menjadi lebih tenang dan mudah dikendalikan.
Bagi pengunjung yang tertarik untuk mengenal para pendahulu yang telah berjasa terhadap dunia kedokteran dan dunia psikologi serta psikiatri bisa dilihat di sana. Juga barisan foto-foto para menteri Kesehatan sejak era kepemimpinan Bung Karno hingga saat ini.
Museum RSJ Lawang sebetulnya sudah diresmikan sejak 23 Juni 2009 silam dengan koleksi sekitar 700 benda-benda lawas dan masa kini. Bahkan Siswanto mengatakan, masih banyak benda-benda di gudang RSJ Lawang yang belum dipamerkan.
“Tapi sayang, belum banyak masyarakat umum yang tahu keberadaan museum ini. Padahal sangat bagus untuk proses pembelajaran. Bagi masyarakat yang ingin berkunjung ke sini kami tidak memungut biaya sama sekali. Tempat ini bisa ramai, kami sudah senang,“ pungkas Siswanto.(Binar Gumilang/eno)