Ketekunan Olim Waletingsih Mengajar Anak Berkebutuhan Khusus

MENJADI  guru di sekolah inklusi  yakni sebagian siswanya berkebutuhan khusus) memang tidak mudah. Mereka tidak hanya dituntut memberikan materi pendidik, dan memberikan pembelajaran. Tapi mereka juga dituntut  benar-benar memiliki kesabaran  ekstra.

Hal ini juga dialami oleh Olim Waletiningsih Spd. Kepala sekolah SDN 2 Sumbersari  Malang ini  dituntut memiliki kesabaran ekstra, seiring diterimanya puluhan  Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) bersekolah di sekolah tersebut.
Di ruangan sebelah utara, berjajar dengan ruang guru, disitulah Olim setiap hari meletakkan tas kerjanya. Layaknya kantor di ruangan tersebut terdapat lemari kaca besar berisi buku-buku dan tropi-tropi  menandakan sekolah tersebut beberapa kali menang dalam berbagai perlombaan baik tingkat daerah maupun tingkat nasional. Di sebelah kiri ruangan juga terdapat sofa.
 “Mari, silakan duduk mbak,’’ ucapnya  kepada Malang Post penuh keramahan.Ibu dua anak ini kemudian menuturkan suka dukanya  terkait  kiprahnya mengajar para siswa atau ABK.  Ia mengungkapkan memang ada perbedaan metode pembelajaran pada sekolah umum dengan metode pembelajaran di sekolah inklusi. Pasalnya, tidak semua metode pembelajaran di sekolah umum bisa diberikan kepada siswa sekolah inklusi. Terlebih kepada siswa atau anak-anak yang berkebutuhan khusus.  
Lebih lanjut,  ia   juga memaparkan sejak awal hendak masuk kelas 1 maka kepada  anak-anak ABK   akan segera diputuskan mengenai materi pendidikan yang akan mereka terima. “Disitu kita melihat, apakah anak-anak tersebut mampu untuk mengikuti ataukah tidak?  Kalau mampu bisa diteruskan, tapi jika mampu mereka kemudian dipisah.  Dan akan diberi metode pendidikan atau kurikulum nasional (kurnas) oleh Guru Pendidik Khusus (GPK),’’ urainya.
Olim Waletiningsih  yang pernah dipilih sebagai Guru Berprestasi oleh Pemkot Malang ini mengungkapkan  para siswa berkebutuhan khusus  mendapatkan pembelajaran secara khusus pula. Mulai dari pengenalan huruf, pengenalan gambar maupun pengenalan angka dan sebagainya. “Karena itu, ada  anak yang dari  usianya harusnya duduk di kelas empat. Tapi hanya mampu dengan pendidikan di kelas satu,’’ ujarnya.
Dengan nada lembut, ia mengakui bahwa  mengajar  Anak Berkebutuhan Khusus seperti ini  memang  tidaklah  mudah. Mereka juga harus bersabar, terutama jika ada siswa yang tidak mau belajar. Namun, dengan jiwa keibuannya, Olim terus membujuk.
 “Tantangan lain adalah mengatasi i anak yang kandrum atau marah-marah. Seperti tadi ada anak yang tiba-tiba lari ke kantin, disini harus dibujuk. Bukan hanya oleh saya tapi juga oleh shadow (pengasuh,red),’’ kata wanita yang mulai meniti karir menjadi guru sejak tahun 1987 ini.
Kepuasan dan kebanggaan pun turut dirasakan oleh  Olim  Waletingsih jika ada salah satu siswa ABK nya yang akhirnya berhasil sembuh.  “Kami merasa benar-benar puas. Artinya, apa yang sudah kami lakukan disini tidak sia-sia,’’ kata Olim yang mengatakan untuk saat ini disekolahnya ada 18 siswa ABK dari kelas 1-6. Menariknya, berkat  kepiawaiannya memberikan pembelajaran kepada para ABK, dirinya pernah dinobatkan sebagai Duta Unicef  pada tahun 2005 lalu. Karena itu, dirinya ikut melakukan berbagai kegiatan yang diadakan Unicef.  Termasuk beberapa sekolah di luar pulau Jawa.
“Terpenting kami selalu bersyukur kepada Allah SWT. Saat ini kami juga cukup sibuk membuat  buku-buku pembelajaran untuk sekolah inklusi,’’ tutupnya dengan ramah. (ira ravika)