SMAK Kosayu Lima Kali Tolak Predikat RSBI

SEKOLAH berstatus rintisan sekolah bertaraf internasional (RSBI) dipandang sebagai sekolah favorit yang berkualitas. Label ini disandang oleh sejumlah sekolah favorit di Kota Malang. Namun tidak semua sekolah berkualitas tertarik untuk menyandang label RSBI ini. Bahkan ada sekolah yang dengan tegas tidak menerima tawaran dari Kementerian Pendidikan dan kebudayaan (Kemendikbud) untuk menyandang status RSBI. Yaitu SMAK Kolese Santo Yusup (Kosayu) atau akrab disebut Hua Ind.


Nama Hwa Ind tidak asing di dunia pendidikan Kota Malang. Bahkan di luar daerah, sekolah ini menjadi rebutan calon siswa. Kualitas pendidikan yang menempel pada image sekolah ini rupanya membuat Kemendikbud tertarik untuk menawari predikat RSBI pada sekolah yang berada di kawasan Blimbing Kota Malang ini.
”Sebanyak lima kali sekolah ini ditawari dan jawaban saya adalah sekolah kami belum siap untuk menjadi RSBI,” ungkap Kepala SMAK Kosayu, Peter B Sihombing  kepada Malang Post di ruang kerjanya kemarin.
Tawaran Kemendikbud sebenarnya tidak berlebihan jika memilih sekolah yang didirikan pada 4 Januari 1954 itu. Sekolah ini melahirkan juara-juara olimpiade yang mampu bersaing di tingkat nasional bahkan internasional. Prestasi akademik siswanya pun tak terhitung jumlahnya. Apalagi sekarang ini Kosayu sudah memiliki jalinan kerjasama dengan dua sekolah di luar negeri yaitu Guildford Grammar School (GGS) Australia Barat dan Heng Yee Taipei Taiwan.
Tidak heran kalau para alumninya pun sempat resah dan bahkan memberondong sekolah dengan pertanyaan mengapa almamater mereka tidak juga menyandang status RSBI. Apalagi pada tahun 2008 salah satu sekolah swasta favorit lainnya di Kota Malang yaitu SMAK St Albertus memeroleh status RSBI dari pemerintah. ”Saya sempat diberondong pertanyaan alumni dan bahkan komite sekolah juga sempat terbagi dua antara yang pro dan kontra,” ungkapnya.
Tidak hanya itu, lulusan dari dua SMP yang berada di bawah yayasan yang sama pun akhirnya ada yang beralih ke SMA swasta yang lain karena ingin mengejar status RSBI. Walau pun menurutnya pada akhirnya ada yang meminta kembali ke SMAK Kosayu.
”Karena kami tidak menerima mutasi jadi tidak bisa kami terima,” kata dia.
Sarjana Bahasa Inggris ini membeberkan pada tahun 2006, SMAK Kosayu untuk kali pertama ditawari oleh Kemendikbud untuk menjadi RSBI pertama di Kota Malang. Waktu itu Peter dihubungi oleh Diknas Kota Malang. Karena belum bersedia, maka pada 2007 label RSBI untuk kali pertama disandang SMAN 3 Malang. Sebenarnya saat itu ada dua jatah sekolah yang akan diberi label namun karena Kosayu menolak maka hanya SMAN 3 saja yang menjadi RSBI pertama di Kota Malang. Selanjutnya pada 2008 tawaran kembali datang dan kembali tidak diterima dan jatuhlah proyek RSBI kepada SMAN 5 dan SMAK St Albertus. Hingga tawaran kelima pada 2009 lalu kembali datang dan Kosayu masih saja belum bersedia.
”Saya sampai diminta membuat pernyataan resmi bahwa tidak sanggup menjadi RSBI, surat itu diambil sendiri oleh Dirjen ke sekolah kami,” kata dia.
Sejumlah alasan ketidaksanggupan yang dipaparkan dalam surat tersebut diantaranya adalah alasan daya serap siswa yang rendah. Saat materi pelajaran diajarkan dalam bahasa Indonesia saja siswa masih belum maksimal menyerap materi pelajaran. Sementara pada tahun lalu RSBI menuntut pembelajaran dalam bahasa Inggris. Yang pada akhirnya pada awal tahun 2012 lalu pemerintah memberikan kelonggaran bahwa RSBI tidak wajib berbahasa Inggris.
Alasan lainnya adalah bila RSBI diterapkan maka dikhawatirkan ada perlakuan berbeda antara siswa dan dikhawatirkan menimbulkan diskriminasi.”Pada intinya sekolah ini tidak anti dengan paham SBI asal implementasinya benar,” tegasnya.
Sementara itu sejumlah siswa yang ditemui Malang Post kemarin kompak mengatakan tidak butuh label RSBI pada sekolah mereka.”Tanpa label RSBI sekolah ini sudah bermutu,” ujar Louice siswa kelas XII IPA 4.
Hal senada diungkapkan Hindra. Menurutnya kalau RSBI menuntut pembelajaran dalam bahasa Inggris ia khawatir tidak bisa menyerap materi dengan baik.”Dalam bahasa Indonesia saja kami masih sulit mengerti apalagi dalam bahasa Inggris,” ujarnya yang diamini rekannya yang lain.
Tanpa RSBI sekolah ini memang sudah mampu bersaing bahkan di luar negeri. Sedikitnya 10 persen siswa mereka tiap tahunnya diterima studi di luar negeri. (lailatul rosida)