R Soedardji Juru Kunci Gunung yang Juga Pengabdi Lingkungan

R Soedardji, juru kunci Gunung Van Der Man (baca : Panderman) dikenal pula sebagai pengabdi lingkungan. Pria 43 tahun ini adalah pelopor gerakan penghijauan di gunung setinggi 2.000 meter diatas permukaan laut (dpl) itu. Bahkan dia sempat dianggap gila oleh warga dusun Tuyomerto ketika menggagas program biogas.

Darji, sapaan akrabnya adalah generasi ketiga juru kunci Gunung Panderman di Kota Wisata Batu. Tak seperti juru kunci gunung di Jawa Tengah, pria ini tidak ditunjuk oleh Sultan Hamengkubuwono. Dia menjadi juru kunci berdasarkan SK dari DPRD Kota Batu tahun 2004 silam.
Kala itu, Mantan Ketua DPRD Kota Batu periode 2004 – 2009 Mashuri Abdul Rochim, memberi tambahan huruf ‘R’ didepan namanya.  Maksudnya adalah raden, namun bapak tiga anak itu menerjemahkan sebagai rakyat. Gelar itu baru disetujui oleh Sri Sultan Hamengkubuwono X dalam sebuah kunjungan ke dusun Tuyomerto tahun 2009 lalu.
‘’Saat itu, Pak Mashuri meminta izin Sri Sultan karena menambahkan gelar raden di depan nama saya,’’ kenang Darji kepada Malang Post.
Sultan mempersilahkan Darji tetap memakai huruf ‘R’ di depan namanya. Sebab, menurut Sultan, raden itu berasal dari kata rad (jagad/dunia) dan den (bebuden/budi). Sultan menganggap bahwa seseorang yang berbudi luhur maka bisa menata jagad atau dunia.
‘’Menurut Sultan, tak perlu ningrat untuk mendapat gelar raden. Tugas saya menjaga Gunung Panderman ini sudah mewakili arti dari raden itu sendiri, tapi saya anggap ‘R’ itu adalah singkatan dari rakyat,’’ urainya sembari terkekeh.
Darji tinggal di Jalan Cempaka Atas Dusun Tuyomerto Desa Pesanggrahan Kota Batu. Di depan rumahnya terpasang papan nama bertulis juru kunci Gunung Van Der Man. Dan sebuah huruf penegas yang dicetak lebih kecil bertulis SK DPR.
‘’Tidak ada insentif atau uang dengan status juru kunci, saya rela dan ikhlas, ini tanggung jawab saya karena hidup di Gunung Panderman,’’ tegas suami Pasiani (41 tahun) itu.
Kakek Darji bernama Kiai Amir wafat tahun 1968 adalah generasi pertama yang menjaga Gunung Panderman. Kemudian dilanjutkan ayah Darji yakni Armanu yang wafat tahun 2003 silam. Mereka tak bertugas menjaga gunung dalam kontek spiritual namun lebih kepada keseimbangan alam.
‘’Kakek dan bapak saya yang mempelopori gerakan penghijauan disini. Hampir seluruh areal di Gunung Panderman ditanam oleh ayah serta para tetua dulu,’’ jelasnya.
Bapaknya dulu diberi tugas tambahan sebagai mandor perhutani yang menjaga areal hutan di Gunung Panderman. Pohon yang sekarang tumbuh berkembang di Gunung Bokong (delapan hektare) dan petak tumpangsari (20 hektare) adalah karya Armanu. Pengabdian itu juga dilanjutkan Darji hingga saat ini dengan membuat gerakan penghijauan setiap tahun.
‘’Seluruh areal hutan di Gunung Panderman sampai Pujon Selatan (Kabupaten Malang), dulu yang nanam adalah warga Tuyomerto,’’ akunya.
Ketika ayahnya makin menua, Darji sempat resah dengan kondisi hutan yang mulai ditebangi. Dia mulai mengajak warga untuk melakukan gerakan menanam pohon. Tak mudah, sebab dia sempat dimusuhi dan dicemooh.
‘’Kata warga saat itu : lho koen iku dari opo kok mekso nandur, (kamu itu siapa kok ngajak menanam ),’’ ujarnya.
Sejak tahun 2001 dia terus getol memakai dana pribadi untuk memberi contoh kepada warga. Dimulai dari ‘meracuni’ warga ketika tahlilan serta memakai dana pribadi untuk memperbaiki musala. Uang didapatkan dari hasil menjual kotoran sapi kepada Edy Antoro pemilik hotel dan kebun buah Kusuma Agro Wisata.
Tahun 2002, ketika menelorkan gagasan biogas Darji juga dianggap gila. Namun ayahanda Arif Syaifudin (17 tahun), Karina (6 tahun) dan Alfiana (5 tahun ) itu tak gentar.  Hasil penjualan kotoran sapi dijadikan modal pula untuk membangun bunker biogas. Setiap bulan dia menjual 2000 karung biogas kepada Edy Antoro.
‘’Satu karung dihargai Rp 8000, 50 persen dari penjualan kotoran sapi saya pakai untuk kegiatan sosial di dusun,’’ tegasnya.
Penghijauan dan gerakan biogas dia canangkan agar lingkungannya sehat. Biogas sendiri cukup penting bagi warga Tuyomerto. Sebab selama ini mereka tergantung kepada hutan untuk kebutuhan rumah tangga.
‘’Banyak warga memasak memakai kayu dari tebangan hutan, maka saya pikirkan biogas untuk memanfaatkan kotoran sapi,’’ terangnya.
Tuyomerto sendiri merupakan dusun dengan jumlah sapi perah lebih banyak dibanding jumlah penduduknya. Kotoran sapi perah dari dusun ini kerap membuat masalah di Kota Batu. Bahkan tahun 2000-an, kotoran sapi pernah membanjiri Balai Kota ketika terseret air hujan.
‘’Dengan memakai biogas, maka kotoran sapi tak lagi mencemari lingkungan, sekaligus juga bisa untuk bahan bakar di dapur,’’ beber dia.
Program biogas sukses digeber oleh Darji dan diresmikan Mantan Walikota Batu Alm. Imam Kabul pada tahun 2003. Saat ini dari sekitar 270 KK warga Tuyomerto, 150 KK diantaranya telah memakai biogas. Darji sendiri menghabiskan dana sekitar Rp 25 juta untuk membuat percontohan biogas di rumahnya.
‘’Biogas saya ini bisa untuk lima kepala keluarga, untuk memasak dan bahan bakar genset listrik yang dipakai saat listrik padam,’’ katanya.
Yang lebih menggembirakan, kesadaran warga Tuyomerto atas kelestarian alam juga terwujud. Setiap tahun mereka menanam lebih dari 1.000 pohon di lereng Panderman. Bahkan ada gerakan bari’an Sungai dengan cara membersihkan dan menanam pohon di sekitar sumber mata air. Setiap ada bibit pohon, warga Tuyomerto secara otomatis langsung menanamnya.
‘’Warga sadar bahwa dengan banyaknya tegakan maka rumput gajah untuk pakan sapi juga selalu segar, selain itu kawasan sini juga bebas bencana,’’ imbuh dia.
Penghijauan terbesar dilaksanakan pada tahun 2007 bersama Samuel Koto serta para pemerhati lingkungan lainnya. Saat itu ditanam sekitar 10 ribu bibit pohon, terutama pinus dan Ekaliptus. Sejak saat itu makin banyak gerakan penghijauan di Gunung Panderman.
‘’Kami hidup di gunung setiap hari naik gunung untuk mencari rumput, kelestarian hutan adalah tanggung jawab kami, termasuk juga menjaga hutan ini dari bahaya kebakaran ketika musim kemarau,’’ urainya.
Darji sendiri masih ingat dekade tahun 1970-an, kawasan Gunung Seruk dan Gunung Bokong adalah hutan gundul. Namun berkat kerja keras para sesepuh kawasan itu kini hijau lestari. Perjuangan sesepuh itu masih dilanjutkan oleh generasi ketiga penghuni Dusun Tuyomerto.
‘’Kami lakukan dengan cinta, hidup kami berdampingan dengan alam, kalau kita tidak sayang alam maka jangan harap alam sayang dengan kita,’’ tegasnya.
Berkat pengabdiannya, Darji sudah mendapat penghargaan dari Kapal (Kelompok Pengabdi Lingkungan) dan Pemprov Jatim. Yakni penghargaan atas kiprahnya sebagai juru kunci Van Der Man serta penemu bunker biogas.
Selain itu dia juga mendapat penghargaan dari Agro Challenge Internatiol Malaysia yang diserahkan Datuk Abdul Manaf Sulong Presiden Kelab Usahawan Tani Malaysia.
‘’Orang Malaysia datang kesini sendiri setelah melihat dari internet, mereka juga belajar biogas,’’ ungkapnya. (Bagus Ary Wicaksono)