Karya Sineas Malang Peroleh Aplaus Meriah

MEMIKAT : Suasana Tur Festival Sinema Prancis  di Houtendhand Public Space  Malang.

Tur Festival Sinema Prancis ke-17 di Malang
SUDAH bukan zamannya lagi Indonesia menjadi penonton di negaranya sendiri. Perkembangan zaman dan era teknologi memberikan fasilitas yang sangat menggiurkan untuk mengantarkan orang-orang dengan potensi ke dunia luar, melalui film contohnya. Festival Sinema Asing pertama di Indonesia yang mewadahi karya anak bangsa, kemarin (12/1) menggelar Tur Festival Sinema Prancis ke-17 di Malang. Seperti apa keseruan yang mewarnai pemutaran sembilan film buatan anak negeri ini?

Berbagai ekspresi menghiasi wajah para penikmat film yang siang itu berkumpul di lantai dua Houtendhand Public Space, Malang. Cemas, penasaran, kecewa, gelak tawa, hingga merasakan romansa orang yang sedang kasmaran pun masuk ke hati dan benak mereka. Sesekali terlihat penonton yang melakukan diskusi ringan dengan teman sebelahnya untuk memberikan penilaian tentang film yang baru saja diputar di hadapannya.
Mungkin beberapa di antara pengunjung yang hadir di sana sedikit heran. Bukankah harusnya menayangkan film Prancis, tapi kenapa justru ada sembilan film pendek yang diproduksi oleh sineas indie di Indonesia?
“Tur Festival Sinema Prancis Ke-17 ini terbagi dalam dua sesi. Sesi pertama adalah hari ini (kemarin,red), dengan menayangkan sembilan film yang berhasil menjadi finalis Kompetisi Film Pendek Nasional Festival Sinema Prancis 2012 yang dilengkapi dengan terjemahan dalam bahasa Inggris. Lalu sesi kedua adalah pada 19 dan 20 Januari 2013 di 21 Cineplex Matos. Di sana kami menghadirkan empat Film Prancis yang dibuka dengan dua film pendek Indonesia terlebih dahulu,” jelas Mathiew Dumesnil, Direktur Institut Francais Indonesia (IFI) Surabaya.
Salah satu film karya arek Malang yang juga masuk dalam Kompetisi Film Pendek Nasional Festival Sinema Prancis 2012 adalah Jumprit Singit. Film yang disutradarai Mahesa Desaga tersebut berhasil mendapatkan tepuk tangan yang meriah dari penonton karena ide ceritanya yang cukup menggelitik. Jumprit Singit bercerita tentang seorang anak bertemu dengan pencuri yang berbohong kepadanya bahwa ia sedang bermain Jumprit Singit (petak umpet,red).
“Selain memang ingin menunjukkan kepada masyarakat Malang bahwa ada karya dari Arema yang berkualitas, kami juga merasa bahwa antusias dan potensi orang-orang di Kota ini cukup besar untuk dapat menghasilkan  sebuah film pendek lain yang tak kalah bagus. Bisa jadi stimulus dan memacu jiwa berkarya penikmat film untuk ambil bagian dalam Festival Sinema Prancis,” terang Decky Yulian, Media Partner Program Kebudayaan di Malang.
Respon positif ditunjukkan oleh kedua siswi SMAN 1 Malang yang menyempatkan datang dan mengaku puas dengan film tersebut. Mereka adalah Meriana Andika dan Fairus Rizkitasari. “Aku tahu infonya dari Twitter. Kok seru ya, akhirnya memang udah niat buat datang ke sini. Aku suka film action yang menggunakan efek dan teknologi yang keren banget, judulnya Jatisari First Blood. Langsung kepikiran, ternyata Indonesia juga bisa bikin film pendek bergenre action yang seru dan bagus lho,” urai Meriana kepada Malang Post.
Selain Jumprit Singit dan Jatisari First Blood, film lain yang diputar adalah Palak, Parkir, Penghulu, Tanya Jawab, Waktu Kunjung Pacar, Wrong Day, dan Halo. Sedangkan yang direncanakan tayang di bioskop adalah Asterix & Obelix, Untouchable, A Gang Story, dan The Cheg.(Kurniatul Hidayah)