Tidak Dipungut Biaya, Kelasnya Didominasi Jurnalis

Selama ini, masyarakat Kota Malang hanya tahu, sekolah fotografi itu soal modeling photography maupun wedding photography yang bersifat komersil. Ingin mendobrak ranah dunia sekolah fotografi, pewarta foto atau jurnalis foto Malang berkumpul, berbagi ilmu di bawah bendera Sunday School Photography. Selain mengajarkan berbagai ilmu foto jurnalistik, semua siswanya tak dipungut biaya alias gratis!
 
Wajah eksotis Paramitha Hayu Rini (19), tampak menawan ketika sedang difoto oleh para siswa Sunday School Photography (SSP), Minggu lalu. Mengenakan dress merah seksi dengan nuansa oriental yang kental, Mitha sapaan akrabnya, menjadi objek foto siswa SSP yang mengambil lokasi pemotretan di Klenteng Eng An Kiong, Kebalen.
Tampak menikmati, Mitha tak lelah berganti-ganti pose, sambil mendalami sesi pemotretan yang bertema The Orientalist. Fotografi model dengan aroma imlek.
Sesekali, para siswa SSP yang didirikan oleh para pewarta foto atau fotografer jurnalis se-Malang Raya itu, memberi instruksi untuk Mitha agar bergaya seperti yang diinginkan oleh para fotografer.
Suasana panas yang membuat Mitha dan para fotografer berkeringat sepertinya tak menyurutkan keasyikan sesi fotografi yang diarahkan oleh para pewarta foto profesional dari berbagai media. ‘’Menyenangkan banget. Seru dapat temen baru dari temen-temen jurnalis dan pewarta foto. Bisa dapat ilmu baru di modeling juga,’’ ujar Mitha.
Rupanya, sesi foto bertema oriental yang dihelat di Klenteng Eng An Kiong adalah semacam ujian praktek bagi para siswa SSP yang selama kurang lebih tiga bulan, mendapat materi fotografi dari para pengajar. Kepala sekolah sekaligus instruktur SSP, Ari Bowo Sucipto mengungkapkan, sekolah ini menjalankan program tiga bulan materi dan satu kali praktek.
‘’Setelah dapat materi tiga bulan, lalu mereka praktek seperti motret model dengan tema oriental ini. Tapi, yang bikin Sunday School Photography istimewa adalah karena tidak ada biaya alias gratis,’’ ujar pria yang akrab disapa Bowo kepada Malang Post usai mengawasi sesi praktek para siswa SSP.
Bowo tidak memungut sedikitpun biaya bagi para siswanya yang telah ikut dalam program tiga bulan di sekolah foto, yang memulai kelas pertamanya bulan November 2012. Usut punya usut, sekolah fotografi yang dibuat untuk umum tersebut, merupakan gawenya para pewarta foto atau jurnalis fotografer yang ada di Malang Raya.
Berawal dari ngopi-ngopi santai usai liputan, Bowo yang adalah fotografer senior Malang di kantor berita Antara bersama para pengajar tamu seperti Nedi Putra AW (Surya), Hayu Yudha (Surya), Guest Gesank (Malang Post), Suharto (Radar Malang), hingga fotografer dari AFP, Bola, Tempo dan Kompas, ingin mendirikan wadah sekolah foto gratis bagi masyarakat umum.
‘’Awalnya ini kumpul-kumpul pewarta foto. Kita ingin amal, berbagi ilmu yang kita dapat, akhirnya kita bikin SSP, gratis. Karena siswa gak mbayar, pengajar juga tak dibayar, model pun tak ada yang bayaran. Semuanya murni demi sharing ilmu fotografi,’’ papar pria kelahiran Rembang, Jawa Tengah 33 tahun lalu tersebut.
‘’Sunday School itu berbagi ilmu secara gratis bagi rekan yang pengen belajar foto. Dari awal kita beri dasar fotografi, terus ada praktek. Kita juga datangkan pembicara, bisa dilihat pengajar dan pembicara adalah para fotografer profesional yang tak hanya jago di satu jenis foto saja,’’ ujarnya menyebut jurnalis fotografer itu menguasai berbagai jenis foto, termasuk wedding dan modeling.
Sekolah ini diberi nama Sunday School Photography karena kelasnya dijadwalkan tiap hari Minggu saja, di luar aktivitas sibuk para siswanya.
Tiap hari Minggu, kelas fotografi dilaksanakan di café Tutu Demas Jalan Sukarno Hatta. Menariknya, kelas SSP didominasi oleh para jurnalis yang ada di Kota Malang. Setidaknya, para wartawan tulis serta jurnalis video dari berbagai media datang untuk menimba ilmu fotografi.
Namun, meski didominasi para wartawan Malang, Bowo menolak anggapan sekolah ini hanya untuk wartawan dan jurnalis saja. ‘’Ini untuk umum, kebetulan saja yang pertama daftar para teman sendiri dari kalangan jurnalis. Tapi SSP terbuka untuk umum, yang mau belajar fotografi gratis silakan datang,’’ papar pria yang sudah menjadi fotografer jurnalis sejak 2004 tersebut.
Dosen terbang Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah itu berharap, lewat Sunday School Photography yang gratis, akan datang calon siswa yang benar-benar ingin menjadi fotografer sungguhan dengan ilmu yang bervariasi, mulai dari foto modeling, foto traveling hingga foto jurnalistik itu sendiri.
‘’Ini gawenya fotografer jurnalis Malang yang sudah punya media sendiri-sendiri. Di sela waktu kami ingin membagi ilmu, dengan harapan muncul fotografer handal baru di Malang, yang berprestasi dan memiliki kompetensi lengkap,’’ ujar pemegang gelar Sarjana Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah ini. (fino yudistira)