Djoko Raharjo, Staf Administrasi UM yang Meneliti Osob Kilaban

BAHASA Arema Yang Hampir Punah. Begitu judul salah satu tulisan Djoko Raharjo di website milik Universitas Negeri Malang (UM). Ungkapan Staf Administrasi UM ini, tidaklah berlebihan karena memang semakin banyak kata dalam osob kilaban (Bahasa Walikan, Red) yang sudah tidak popular lagi. Karena itulah dengan tekun sejak 2009 lalu ia mulai melakukan penelitian mengenai bahasa kebangaan Arema itu.

‘’Pak Djoko ini sudah setara profesor lho, karena tulisan-tulisannya,’’ ungkap salah satu rekannya yang kemarin bersama Djoko.
Meski bukan seorang dosen, kepakaran Djoko dalam hal bahasa Arema, memang sudah diakui banyak pihak. Bahkan alumnus SMA Shalahuddin Malang ini, juga ditantang untuk mengajar bahasa Arema jika nanti UM sudah membuka program studi Bahasa Jawa.
Rintisan Tata Bahasa Arema saat ini, juga sedang ditulis oleh Djoko. Karena dari proses penelitian yang ia buat ditemukan bahwa pembentukan bahasa Arema itu terstruktur.
‘’Banyak pakar bahasa yang mensupport saya untuk menyelesaikan penelitian ini,’’ ungkap Djoko.
Selama ini menurutnya, bahasa Arema itu belum pernah diteliti. Padahal ada banyak pola terstruktur yang menjadi dasar pembentukan bahasa Arema. Karena itu pula sejumlah pakar bahasa di Fakultas Sastra UM mendorongnya untuk menulis rintisan tata bahasa Arema.
‘’Ada beberapa struktur yang digunakan untuk membalik bahasa, jadi tidak asal dibalik saja. Tapi tahapannya harus tahu asal usul kata yang akan dibalik,’’ bebernya.
Pertanyaan ini sebelumnya mengemuka diantara pakar bahasa di UM. Dan Djoko pun berhasil menelitinya dengan mengungkap bagaimana boso kilaban terbentuk.
Bahasa Arema, lanjutnya, adalah bahasa gaul yang memiliki keunikan tersendiri. Bahasa Gaul Arema ini lebih tua usianya jika dibandingkan dengan Bahasa Gaul Artis Indonesia yang diperkenalkan oleh Deby Sahertian dkk. Saat ini, pengguna bahasa Arema jumlahnya semakin berkurang atau hampir punah.
Bahasa Malang disebut, oleh beberapa pakar bahasa diangga[ sebagai bahasa yang tidak terstruktur dan tidak dimengerti oleh lawan bicaranya. Contohnya... Sam, ayas kadit raijo (ojir), kapnim oker’e utas. Yang artinya Mas, saya tidak uang, minta rokoknya satu (satu batang).
Dijelaskannya, bahasa Arema tidak terikat sepenuhnya oleh Tata Bahasa Indonesia maupun Tata Bahasa Jawa, sehingga pola pembentukan kata bahasa Arema bersifat luwes dan longgar. Meskipun demikian, pola pembentukan kata atau kata turunan bahasa walikan, berasal dari kosa kata  bahasa Indonesia (BI), bahasa Jawa (BJ), dan bahasa asli Arema (BAA).
‘’Bahasa Asli Arema itu contohnya seperti Ebes,’’ jelasnya.
Dibandingkan bahasa walikan yang populer di Surabaya, menurutnya bahasa osob kiwalan Arema ini jauh lebih sopan. Pada beberapa kata yang memiliki konotasi negatif, dicarikan pengganti katanya sehingga bisa lebih nyaman dipakai.
Dituturkannya, tidak semua Arek Malang mengerti dengan osob kilaban.  Semakin hari, pengguna osob kilaban semakin sedikit. Atas pertimbangan tersebut maka ditulislah osob kilaban ini secara ber seri di Web UM.
Pria Kelahiran Malang 27 Maret 1958 itu mengungkap, ada beberapa komunitas pengguna bahasa Arema yakni di Pusat Kota Malang. Pada tahun 1966-1977, Kotamadya Malang hanya memiliki tiga kecamatan, yakni Kecamatan Klojen, Kecamatan Blimbing dan Kecamatan Kedung Kandang dan sebagian wilayah Kabupaten Malang. Kelompok pengguna bahasa Arema yang relatif banyak ada di Kidul Pasar selatan Pasar Besar Malang.
‘’Saya menduga bahasa Arema ini lahirnya di Kidul Pasar,’’ kata dia.
Pada masa itu bahasa Arema adalah bahasa sehari-hari anak muda.
Ia berharap ada seminar dan simposium untuk bisa menggairahkan kembali bahasa Arema yang jadi kebanggaan ini. (lailatul rosida)