Miftha Rizky Amelia, Merakit Robot, Meroketkan Nama Indonesia

Miftha Rizky Amelia, siswi SMAN 8 Malang ini, terlihat antusias memperagakan cara merakit robot. Wajahnya yang ramah, berubah menjadi serius ketika ia menangani mindstorms education di hadapannya yang dalam waktu sekejap ia sulap menjadi kerangka robot lengkap dengan roda. Kemahirannya ini yang mengantar Amel menjadi The Big Five dalam World Robot Olympiad (WRO) yang diselenggarakan di Kuala Lumpur, Malaysia, akhir 2012 lalu.

Pagi itu, matahari belum sepenuhnya membagikan sinarnya untuk dunia. Namun hal itu tak mengahalangi wajah ramah dua perempuan yang menghuni di salah satu rumah di Jalan Simpang Danau Maninjau Selatan Dalam II, ketika menyambut kedatangan Malang Post. Mereka adalah Miftha Rizky Amelia beserta Ermi Reza, sang bunda.
Sosoknya yang feminin dan santun, tak membuat siapapun menyangka jika siswi kelas XI IPS 2 ini, baru saja mengukir prestasi tingkat dunia dalam bidang robot.
Kenapa harus robot? Padahal sebelumnya ia tak pernah secara khusus menggeluti bidang ini. Apalagi jurusan yang sedang ia tekuni di sekolah tak pernah mengajarinya untuk terampil merakit dan mengoperasikan robot.
‘’Pada awal kelas XI, aku ke Jakarta. Di sana aku mengikuti kompetisi menyanyi karena menyanyi adalah bakat dan hobiku sejak masih kecil hingga sekarang. Kemudian aku bertemu dengan orang yang mengajakku bergabung dengan Jakarta Robotic Center (JRC). Dia bilang ke Bundaku kalau aku berbakat. Padahal saat itu aku sama sekali nggak unjuk bakat untuk membuat robot lho. Tapi setelah dipikir-pikir lagi, nggak ada salahnya sih buat mencoba. Ternyata hobi merakit robot keterusan sampai sekarang,’’ ujarnya lantas tertawa.
Kompetisi robot pertama yang ia ikuti adalah Indonesian Robotic Olympiad (IRO). Pesertanya berasal dari berbagai wilayah di Indonesia. Ia tak sendirian, ia bekerja dengan tim.
‘’Sejak memutuskan untuk bergabung dengan JRC, aku sudah tahu konsekuensinya. Harus bolak-balik Jakarta - Malang. Latihan dan coachnya ada di sana. Kalau ada kompetisi, dikarantinanya bisa sampai seminggu penuh. Latihannya intens banget. Dari pagi sampai pagi lagi,’’ terangnya.
Robot pertama yang harus ia buat ketika IRO adalah sebuah robot yang dilengkapi dengan sensor sentuh dan sensor warna. Robot itu harus dirakit dan membuat sistem operasinya dalam waktu dua jam.
Amel kebagian merakit robotnya. Sempat ada kendala karena jumlah sensor yang dibutuhkan tidak terpenuhi. Meski demikian, robot tersebut tetap bisa bekerja dengan baik walaupun dengan sensor yang minim.
‘’Robot tersebut harus memindahkan kubus berwarna ke sebuah tempat sesuai warnanya,’’ ujar gadis kelahiran Banyuwangi, 3 Maret 1996 ini.
Kerja kerasnya berbuah manis. Amel dan timnya berhasil masuk delapan besar dan ia berhak mengikuti ajang yang lebih bergengsi lagi. Bukan lagi Nasional, namun bertaraf Internasional yakni WRO. Kompetisi yang diselenggarakan di Sunway Pyramid Convention Centre, Malaysia sejak 9 hingga 11 November 2012 ini semakin memantapkan langkah Amel untuk serius dalam bidang robot.
‘’Kali ini aku harus bersaing dengan peserta yang berasal dari berbagai negara. Mulai dari tuan rumah Malaysia, China, Jepang, Korea, India, Rusia, dan sebagainya. Tapi prosedur untuk WRO ini berbeda dengan IRO. Kami membuka stand dan mempresentasikan robot kami, Smart Home Energy Monitoring,’’ tandas anak bungsu dari dua bersaudara ini.
Robot yang dibuat, bisa membantu meringankan pekerjaan rumah. Seperti menyalakan dan mematikan AC sesuai dengan kebutuhan ruangannya. Termasuk menyediakan air panas maupun air dingin. Juga mematikan lampu di rumah melalui perintah yang dikirimkan lewat Android.
Merakit robot ini, juga membutuhkan biaya yang tak sedikit. Walau berbagai keperluan telah ditanggung pihak JRC, namun untuk mengasah kemampuan gadis berlesung pipit ini, sang Bunda sengaja membelikan dua set mindstorms education untuk latihan Amel di rumah.
‘’Sekarang kan dia sudah bisa merakit sendiri. Jadi nggak perlu sering-sering ke Jakarta lagi. Kecuali kalau ada kompetisi yang memang harus karantina di sana dulu. Satu set mindstorms education ini harganya sekitar Rp 7,5 juta. Belum lagi NXT atau otak robot yang dijual terpisah dengan harga Rp 1 hingga 2 juta rupiah. Belum termasuk rodanya juga ya,’’ ungkap wanita yang aktif di Lembaga Bantuan Hukum ini.
Gemilangnya prestasi nonakademik gadis yang juga merintis karir sebagai penyanyi solo ini, ternyata tak mempengaruhi aktifitasnya selama menjadi pelajar di sekolah.
Nilainya relatif stabil. Siswi yang bercita-cita ingin menjadi Hakim ini justru selalu masuk dalam peringkat 10 besar di sekolahnya. Tak heran jika sang bunda mempercayakan manajemen waktu yang berusaha ditata sendiri oleh Amel.
‘’Memang ada saatnya aku ketinggalan pelajaran di sekolah. Tapi aku berusaha mengejar keteringgalan itu dengan mengerjakan tugas via email maupun menyelesaikan semua sebelum aku tinggal pergi. Alhamdulillah sekolah juga mendukung langkahku ini. Oh iya, besok (hari ini, red), aku akan berangkat ke Jakarta untuk persiapan lomba robot antar-klub yang diselenggarakan di Singapura. Mohon doanya ya agar bisa kembali mengharumkan nama bangsa di mata dunia,” pamitnya. (Kurniatul Hidayah)