Semua Gratis, Memiliki 7.623 Koleksi dari 300 Penyumbang

RIBUAN koleksi piringan hitam, kaset, CD  dan berbagai bahan bacaan musik, dari era tahun tahun 1950-an hingga jaman modern menanti di rak. Bagai barang hidup, semua koleksi itu bisa membawa Anda kembali ke era masing-masing. Itulah sebagian suasana Museum Musik Indonesia.

Suara John Lennon mengalun syahdu saat menembang Imagine dari piringan hitam yang berputar pelan di sebuah turn table tua. Kemarin siang, penyanyi legendaris itu bagai sedang live walau sebenarnya hanya melalui piringan hitam dari sebuah sudut rumah di Griya Santa Blok G No 407.
Ya, itulah suasana Museum Musik Indonesia. Disinilah setiap pengunjung  bisa berasa sedang kembali ke masa lalu. Bayangkan saja, mendengar musik melalui piringan hitam, tentu berbeda.
Atau mau mendengar gesekan merdu biola dari Idris Sardi? Museum Musik Indonesia punya koleksi piringan hitamnya. Sederet hits yang didendang oleh Lilis Suryani pada era tahun 1960-an seperti ‘Kisah Ali Baba’, ’Terbang Lalat’, ‘Gelombang Alun’ hingga ‘Pantun Djenaka’ juga tersedia dalam piringan hitam. Hits grup band wanita Dara Puspita yang populer di era 1960-an juga ada.
Bahkan karya-karya Black Brothers seperti ‘Balada Dua Remaja’, ‘Oh Sonya’, ‘Kali Kemiri’, juga bisa dinikmati kembali di Museum Musik Indonesia.
Museum ini didirikan oleh komunitas pecinta musik yaitu Galeri Malang Bernyanyi. Museum ini berfungsi sebagai ruang data perjalanan musik Indonesia dari waktu ke waktu.
‘’Museum ini buka mulai jam 10.00 sampai menjelang magrib. Masuk gratis, mau dengar musik silahkan. Mau baca majalah musik jaman dulu seperti Varia, Aktuil dan bacaan lain silahkan. Gratis disini,’’ terang Fauzi, petugas pengelola Museum Musik Indonesia.
Saat ini koleksi museum tersebut sebanyak 7.623 buah. Terdiri dari piringan hitam, kaset, CD dan majalah yang berhubungan dengan musik.
‘’Koleksi di sini berasal dari sumbangan masyarakat. Penyumbang piringan hitam, kaset, CD dan bahan bacaan akan disebut sebagai bagian dari pemilik di museum ini,’’ tambah Ateng, pengelola lainnya.
Berdasarkan catatan pengelola, saat ini terdapat sekitar 300-an orang penyumbang koleksi. Pongky Pamungkas, salah seorang tokoh Komunitas Pencinta Kajoetangan adalah salah seorang penyumbang koleksi terbanyak.
Sejumlah artis lawas juga ikut menyumbang koleksi Museum Musik Indonesia. Ateng menyebut artis Grace Simon, Sylvia Saartje, Ian Antono juga ikut menyumbang barang koleksi.
Bahkan Sylvia Saartje yang merupakan lady rocker Indonesia tahun 1970-an asal Malang juga merupakan salah satu tokoh dibalik perjalanan museum ini.
Ribuan koleksi milik Museum Musik Indonesia berasal dari berbagai aliran musik. Karya sederet musisi papan atas dari berbagai era dan musisi Malang dikoleksi disini.
Sebagai tanda untuk mengetahui koleksi-koleksinya, pada salah satu sisi ruangan terdapat tulisan sedert grup musik. ‘’Yang tertulis  itu berarti kami memiliki koleksinya,” terang Fauzi yang memandu.
Sebut saja, Abadi Soesman, AKA, Anggun C Samsi, Anto Baret,  Anna Mathovani, Annie Rae, Arema Voice, Arie Kusmiran, Bubi Chen, Godbless, Elpamas, Gomboh,  Koes Plus, Toto Tewel, Titiek Puspa dan sederet penyanyi lainnya.
Mengoleksi lengkap karya musisi, Museum Musik Indonesia mengundang kagum. Ian Antono adalah salah satu musisi yang mengapresiasi.
Hal itu ditunjukan saat musisi asal Malang itu menjadi bintang tamu dan juri  pada festival Band Kajoetangan 2010, Galery Malang Bernyanyi yang merupakan bagian dari perjalanan Museum Musik Indonesia. Saat itu Ian Antono mengaku terkesima lantaran melihat sekumpulan album miliknya yang menjadi koleksi.
Berkunjung ke museum ini, tak sekadar kembali ke masa lalu melalui lagu. Tapi ada pesan lain yang ingin disampaikan. Menurut Ateng, pihaknya ingin generasi muda memahami  bahwa mereka bisa bermain musik dan menikmati musik saat ini karena ada sebuah perjalanan musik yang panjang. (vandri battu)