Jiwai Sifat Hewan, Hamil Lima Bulan Tetap Nulup

Dokter Hewan Batu Secret Zoo, Bekerja Karena Panggilan Jiwa

TIDAK gampang seorang dokter hewan dalam menjalankan tugas profesinya. Tidak sekadar melakukan injeksi ketika hewan membutuhkan obat, tetapi dia harus benar-benar menjiwai sifat hewan. Tidak jarang seorang dokter hewan berperan seperti ‘orang tua’ dalam melakukan perawatan.

Perempuan berjilbab menggunakan seragam warna biru, tampak masuk sebuah tempat pemeliharaan Siamang di Batu Secret Zoo Jatim Park 2, sore kemarin. Di dada kiri bagian atas seragam, terdapat sebuah tulisan Jatim Park 2 sehingga menandakan jika perempuan tersebut pegawai.
Dia memang pegawai Jatim Park 2, namun bukan sembarang pegawai, karena memiliki tanggung jawab terhadap kesehatan hewan yang berpopulasi 1.200 di objek wisata favorit di Kota Batu itu. Dialah drh Purnama Susanti, tim medis Batu Secret Zoo Jatim Park 2.
Begitu masuk tempat pemeliharaan Siamang, alumnus Unair Surabaya ini langsung memanggil sebuah nama, Tito. Tito adalah nama Siamang yang sudah jinak. Bak ibu dan anaknya, keduanya ternyata sangat akrab. Dokter tersebut menuntun Siamang yang sudah mengenakan pakaian keluar ruangan.
Masih seperti ibu dan anak, Susan, panggilan akrab Purnama Susanti sempat memeluk Siamang. ‘’Kita harus benar-benar menjiwai bagaimana sifat hewan tersebut. Jadi kita juga harus akrab,’’ ungkap drh Susan kepada Malang Post.
Meski tampak akrab, Siamang itu awalnya adalah hewan liar. Dia bersama keeper (penjaga) butuh waktu berbulan-bulan untuk membuat hewan tersebut benar-benar jinak. Keakraban hingga sifat-sifat melindungi binatang harus ditunjukkan sehingga binatang liar itu menjadi jinak.
‘’Menjadi dokter hewan adalah sebuah panggilan. Meski kita punya keahlian, namun dia tidak memiliki panggilan untuk benar-benar merawat hewan, seorang dokter hewan bisa stres,’’ tegas perempuan Kelahiran Surabaya, 4 Februari 1980 ini.
Menjinakkan hewan liar menjadi jinak adalah sebagian kecil pengorbanan seorang dokter hewan dalam melakukan perawatan. Meski hewan sudah jinak, namun mereka harus tetap waspada karena ada kalanya hewan itu memunculkan sifat-sifat kebuasanya. Dia dan keeper binatangpun biasa mendapatkan serangan berupa cakaran atau gigitan binatang buas.
‘’Siamang adalah salah satu hewan yang sulit diprediksi sifat-sifatnya. Jika dia merasa tidak mood, sifat jinak tiba-tiba bisa berubah menjadi liar. Ya, semua itu memang sudah menjadi kodrat dan sifat liar terkadang muncul,’’ jelas perempuan yang bekerja sekitar empat tahun ini di Batu Secret Zoo.
Sedangkan untuk binatang buas lain seperti harimau, singa, hingga rusa liar, dia bersama para keeper harus bisa meminimalisasi kontak langsung dengan binatang-binatang ketika melakukan perawatan. Makanya kandang-kandang binatang harus dibuat secara berlapis sehingga hal itu akan memudahkan tim medis dan para keeper menghindari kontak langsung.
Mereka biasanya memiliki kendala ketika melihat binatang buas tersebut dalam kondisi sakit dan membutuhkan pengobatan. Meski dalam kondisi sakit, binatang buas tetap saja buas dan selalu siap menerkam. Padahal tim medis harus memberikan obat untuk mengobati menyakit sehingga hewan tidak akan mati.
‘’Kami pasti melihat kondisnya. Jika hewan tersebut masih memungkinkan diberikan obat melalui minum atau makanan, kami berikan lewat jalan itu. Tapi kalau obat harus diberikan lewat injeksi (suntik), kami harus memberikan lewat injeksi dengan cara apapun,’’ tambah perempuan yang tinggal di Desa Beji Kecamatan Junrejo ini.
Salah satu metode yang digunakan untuk injeksi tersebut melalui blow drat (tulup).
Cara ini persis seperti digunakan suku-suku pinggiran di Papua melumpuhkan hewan atau musuh melalui tulup. Mereka harus memiliki teknik pernafasan yang baik sehingga senjata yang ditiup itu menancap pada sasaran dengan jarak tertentu.
‘’Tehniknya sama. Kita harus benar-benar atur bernafasan kemudian meluncurkan alat injeksi dengan cara menulup. Cara menulup harus benar-benar keras dan tepat sasaran pada hewan. Jika tidak pas, obat yang sudah ada pada alat injeksi tidak bisa masuk ke tubuh hewan,’’ tegas dia.
Dalam melakukan injeksi dengan cara tulup ini, dokter harus bisa bekerja secara baik dengan keeper binatang. Keeper biasanya memancing hewan liar untuk mendekat, sedangkan dokter harus bersembunyi terlebih dahulu agar tidak terlihat hewan. Jika terlihat, hewan tentu tidak akan mau mendekat pada dokter.
‘’Begitu jarak dekat, sekitar dua meter, kita harus nulup tepat sasaran. Biasanya sasaran tulup ini adalah daerah pantat hewan,’’ tegas Susan.
Susan ini dalam kondisi hamil lima bulan untuk anak pertamanya. Meski dalam kondisi hamil, dia tetap bertanggung jawab terhadap kesehatan hewan termasuk melakukan injeksi degan cara tulup terhadap binatang liar. Dia masih menulup rusa liar ketika dalam kondisi hamil.
‘’Alhamdulillah tidak terjadi apa-apa. Mungkin anak saya tahu kondisi ibunya karena pekerjaan sebagai dokter hewan. Tapi saya juga mulai mengajarkan injeksi dengan cara ini kepada dokter lain atau keeper meski pelaksanaanya harus melalui pengawasan. Jika kondisi benar-benar terpaksa tidak bisa nulup, masih ada orang lain yang menggantikan,’’ pungkas Susan. (febri setyawan)