Melihat Anak-anak Merakit Robot Menggunakan Lego

Puluhan anak-anak terlihat serius. Suara bising di MOG, tak mempengaruhi tangan-tangan kecil itu, merangkai robot. Anak-anak itu, sedang ikut Lego Robotics Competition di Malang Olympic Garden (MOG), kemarin. Mereka unjuk gigi dalam merangkai lego. Bagaimana keunikan mereka selama merakit sebuah robot?

Pelataran Lantai III, MOG tampak lebih ramai. Puluhan anak berkumpul didampingi orang tuanya. Sebagian besar adalah peserta Lego Robotics Competition yang digelar Robokidz Malang.
Empat kategori diperlombakan. Pre Robot 1A (usia 3-4 tahun), Pre Robot 1B (usia 4-5 tahun), Pre Robot 2 (usia 6-7 tahun) dan Pre Robot 4 (usia 8-10 tahun), serta untuk programing robotic, yakni Robotic (usia 8-14 tahun).
Anak-anak ini unjuk kebolehan merakit lego. Panitia menandai mereka dengan stiker bermotif rumah bertulis nama pada dada kanannya.
Ketepatan dan kecepatan dibuktikan mereka sesuai soal masing-masing kategori. Siapa paling tepat dan cepat menggarap soal, dia lah jawara nantinya. Pemenang berpeluang Goes to Regional Robotic pada even tingkat regional di Surabaya, 1-3 Februari nanti.
Anak-anak yang tadinya berlarian kesana kemari, becanda tawa dengan rekannya, pun seketika terlihat konsentrasi penuh.
Mereka tahu, hanya punya waktu 30 menit untuk merangkai lego menjadi sebuah robot. Harus bergerak, meski tidak memiliki mekanik. Bukan pekerjaan mudah mewujudkan kepingan-kepingan lego, menjadi sebuah bentuk robot.
Ada yang terlihat begitu mudah menyusun kepingan lego itu, menjadi sebuah bentuk. Ada juga yang berkali-kali harus bongkar-pasang karena salah letak. Jika sudah demikian, mereka mencari kemana sang orang tua, yang mendampingi. Berharap ada bantuan.
Ketika waktu semakin mepet dan bentuk robot belum juga terlihat, anak-anak itu mulai terlihat resah. Terlebih ketika peserta lain, hampir menyelesaikan robotnya. Tapi tidak ada tangisan. Mereka hanya terlihat berpikir ekstra keras, sambil nglirik temannya yang lain.
Baru, setelah waktu itu habis dan menanti pengumuman lomba, namanya anak-anak, mereka terlihat kembali bergeliat, bermain dan berlarian kesana kemari. Salah satunya adalah Owen, yang begitu ceria siang kemarin.
‘’Owen suka main robot-robotan, senang sekali bisa bongkar pasang lego robot,’’ aku Owen, salah satu peserta lomba kategori Pre Robotic 1A, sambil berlarian di area lomba ketika saat disapa Malang Post, kemarin.
Owen yang masih berusia 4 tahun, kini masih duduk di bangku TK A St Maria II. Dia turun di kategori Pre Robot 1A :  usia 3-4 tahun dengan datang dan mendapat dukungan penuh dari orang tuanya. ‘’Di sekolah tidak ada, program robotic, Owen latihan di rumah, setelah ikut les robotic selama tujuh bulan. Terserah Owen nanti, jika memang nanti sampai jadi ahli robot,’’ kata Nadia Paramitha, ibu Owen.
Slamet Santoso, owner Robokids Malang dan Kediri menyebut, untuk robotic ini tidak berbatas usia, sebab memiliki program panjang. Robotic ini bisa diprogram mengunakan Java dan Android, itu jika sudah main dengan sensor-sensor.
Untuk anak-anak, dikatakannya, merakit robot lebih ditekankan untuk mengasah kreatifitas. Terutama saat menentukan, seperti apa dan akan menggunakan sensor apa pada robotnya.
‘’Pembelajaran robotic ini untuk melatih logika dan kreatifitas, serta mental bertanding. Termasuk di kehidupan sehari. Mereka berjuang. Kalau mereka punya bakat di robotic, bisa melanjutkan ke robotika, pastinya itu bagus. Ketika nantinya, robot bisa dipakai di kehidupan sehari-hari, jadi mereka tidak sampai kaget,’’ terang Slamet.
Dari ketrampilan robotic ini, terdapat tingkatan dan punya fungsi. Misalnya Pre Robot 3, anak-anak sudah diajari bagaimana menggunakan motor dan kombinasi gear. Hal ini sangat diperlukan ketika mengkombinasi antara gear besar dan kecil untuk menciptakan kecepatan dan rasio robot. Program ini dijalankan Robokids Malang dengan memakai lego education.  
‘’Di lomba ini, untuk sekali merakit, diberi waktu 30 menit. Cuma anak-anak bisa lebih cepat dan tingkat kesalahannya paling kecil. Itu akan mempengaruhi penilaian. Kalau ada yang kurang-kurang atau letaknya salah, itu ada pengurangan nilai. Soalnya tergantung level yang dikasihkan ke anak-anak untuk dikerjakan,’’ tambah Leny Retno Purwanti, creator Lego Robotics Competition.
Di even ini, sebagai juara diantaranya kategori P1A : Bangkit Rambang (juara I), Ardavand Raditya (juara II) dan Owen Putahjo (juara III). Kategori P1B : Christophe Adiwijaya (juara I), Jason Jonathan (juara II), Khalifa Rafi (juara III). Kategori P2 : Darren Setiawan (juara I), Joseph Mitchell (juara II), Raksa Mandara (juara III).
‘’Senang bisa juara. Saya belajar robotic selama enam bulan. Suka mainan robot dari kecil. Awalnya mainan puzzle, sebelum kemudian pasang lego robotic,’’ aku Christopher sambil tersipu malu. (poy heri pristianto)