Yunus Sulaiman, Lajang yang Menjadi Korban Truk vs Fuso

Nasib nahas menimpa Yunus Sulaiman. Pria 39 tahun itu jelas tak menyangka, Senin (21/1) kemarin, menjadi hari terakhir dalam perjalanan hidupnya. Kecelakaan tragis di bawah Jembatan Buk Gluduk, Embong Brantas, telah merenggut nyawa lajang asal Kendalpayak tersebut. Kisah hidup pengendara motor Honda Supra X 125 warna merah itu terhenti oleh terjangan truk yang lepas kendali.

LANTUNAN Surat Yasin, terdengar sayup-sayup dari rumah bercat hijau persis di tepi Jalan Raya Kendalpayak, sore kemarin. Nuansa duka sang empunya rumah, telihat jelas dari terpancangnya bendera putih berstrip hitam yang tak lagi berkibar karena basah tersapu hujan. Siapapun yang melintas pasti tahu, seisi rumah tersebut sedang berkabung.
Satu demi satu rombongan, tampak bergantian memasuki rumah tersebut. Yang laki-laki umumnya berpeci, sedangkan para wanita, mengenakan kerudung sambil membawa nampan berisi beras.
Maksud kedatangan mereka, tentu saja untuk bertakziah menghaturkan rasa bela sungkawa ke rumah Nyonya Kasmi, ibu Yunus Sulaiman, korban kecelakaan yang baru saja dimakamkan ba’da Ashar kemarin.
Sejurus kemudian, Malang Post ditemui Mahfud Sundaryanto, kakak sulung almarhum. Dari penuturan pria paro baya tersebut, terasa sekali duka mendalam mengiringi kepergian Yunus, yang dinilai sebagai anak pendiam oleh keluarga dan kerabatnya. ‘’Adik saya ini pendiam. Termasuk pergaulannya juga tidak neko-neko. Dia juga belum berkeluarga,’’ kenang Mahfud.
Saking pendiamnya, keluarganya sendiri tidak banyak tahu soal pribadi yang sering dirasakan bungsu dari tujuh bersaudara putra pasangan Bapak Ja’it dan Ibu Kasmi itu.
‘’Kami yang saudara kandungnya sendiri bahkan tidak banyak tahu soal kegiatannya di luar rumah. Biasanya setelah kerja, ya langsung pulang. Ada temannya yang sering ke sini. Tapi dia sendiri jarang keluar rumah. Paling banter ya tahlilan di rumah tetangga,’’ beber pria yang sehari-hari bergelut di bisnis jasa tersebut.
Hingga detik-detik akhir masa hidup Yunus, pihak keluarga bahkan tak merasakan firasat akan kepergian almarhum yang sehari-hari bekerja di perusahaan pertanian Pioneer tersebut. Hanya saja, Mahfud tidak sadar kalau sang adik, berangkat ke arah bersamaan dengannya pagi kemarin. ‘’Sebelum berangkat kerja, sekitar jam 06.00 WIB, kami berdua sempat ke sawah untuk menabur benih. Setelah itu kami pulang sama-sama, tapi dia langsung mencuci motor. Kemudian saya berangkat kerja ke arah kota naik mobil. Saya tidak tahu kalau dia di belakang saya, karena biasanya dia ke arah Gondanglegi,’’ urainya.
Maka, terkejutlah Mahfud ketika sekitar pukul 09.00 WIB, dirinya menerima telepon yang mengabarkan berita duka tersebut. ‘’Yang pertama menelepon adalah temannya. Rasanya belum percaya, saya telepon langsung ke HP Yunus dan tidak ada jawaban. Setelah itu baru polisi yang menelepon dan menyuruh saya ke kamar mayat,’’ tukasnya lirih.
Meski jenazah adiknya telah disemayamkan di tempat peristirahatan akhir, sayangnya pihak keluarga almarhum justru masih belum mengetahui kronologis kejadian yang menewaskan pria lajang itu. Mahfud dan adik-adiknya bahkan balik bertanya kepada Malang Post soal runtutan tragedi berdarah tersebut.
Tak hanya dikenal sebagai seorang adik yang tak neko-neko, sosok Yunus juga dianggap sebagai paman yang baik di mata para keponakannya. Salah seorang keponakan yang merasa kehilangan adalah Rizal Maulana. ‘’Om Yunus itu orangnya baik. Walaupun pendiam tapi juga sering bercanda. Kalau lagi berkumpul di rumah jadi seru. Beliau orangnya sayang keluarga,’’ ungkap siswa SMAN 1 Gondanglegi itu.
Di mata rekan kerjanya, pria yang juga paman dari karateka nasional, Yuswinda itu, juga dikenal sebagai sosok yang tak banyak tingkah. ‘’Memang saya tidak kenal dekat. Tapi setahu saya, orangnya pendiam dan tidak pernah ada masalah di tempat kerja,’’ tukas Choirul, karyawan Pioneer yang sore kemarin melayat ke kediaman Yunus di Jalan Raya Kendalpayak 2, Pakisaji. (tommy yuda pamungkas)