Peneliti Asal Malang Temukan Pupuk Hayati Khusus untuk Kedelai

NAMANYA Iletrisoy, pupuk hayati dengan fungsi penambat Nitrogen untuk kedelai di lahan masam. Dibalik nama singkat itu, ada harapan besar untuk bisa berswasembada kedelai di tahun 2014 nanti.

Pupuk Iletrisoy, bentuknya berupa serbuk warna gelap yang dilarutkan dalam air dan diaduk merata dengan benih kedelai sebelum ditanam.
Pupuk yang berisi isolate bakteri penambat Nitrogen ini, bisa membuat kedelai tumbuh dengan lebih produktif di tanah masam, sekaligus memangkas penggunaan pupuk Urea lebih dari 75 persen. Sedangkan hasil kedelai yang dipanen di tanah masam, bisa digenjot hingga 2 ton per hektar, jauh lebih banyak dari hasil rata-rata pada lahan masam tak lebih dari 1 ton per hektar. Alias bisa melonjak hingga 100 persen.
‘’Bakteri penambat Nitrogen ini toleran masam. Dia merangsang pembentukan bintil akar kedelai, sehingga dalam kondisi optimal bisa menggantikan pupuk nitrogen anorganik dan mengurangi penggunaan urea,’’ jelas Profesor Arif Harsono, Ketua Kelompok Peneliti Ekovisiologi Baltkabi, Litbang Departemen Pertanian di Kendal Payak.
Pupuk hayati ini, kini sedang dalam tahap pengkajian bersama dengan pupuk lain. Rencananya, tahun ini pupuk kreasi peneliti Malang tersebut akan dikembangkan dan digunakan secara luas untuk lahan masam di luar Jawa. Seperti Jambi dan Kalimantan Selatan, yang selama ini kurang produktif untuk ditanami kedelai.
‘’Selama ini, 60 persen produk kedelai dihasilkan dari Jawa dan sebagian kecil NTB. Sementara total produksi kedelai nasional hanya memenuhi sekitar 40 persen kebutuhan saja. Diharapkan penggunaan lahan masam di wilayah itu, bisa menambah produk kedelai dan mewujudkan swasembada kedelai di tahun 2014,’’ katanya penuh harap.
Selama ini, sekitar 60 persen kebutuhan kedelai nasional masih dipasok kedelai impor asal negara benua Amerika. Produk kedelai nasional hanya mencapai 2 juta ton per tahunnya.
Iletrisoy sendiri berhasil disempurnakan setelah memakan waktu lebih dari tiga tahun terakhir dengan wilayah pengujian di berbagai daerah di Indonesia.
Selain menggunakan bakteri, pupuk hayati sangat ramah terhadap lingkungan dan mengurangi dampak buruk penggunaan pupuk kimia bagi lingkungan.
Menurutnya, jika bergantung pada pupuk urea saja, dibutuhkan antara 100 sampai 200 kg pupuk per hektar dengan hasil kedelai yang tidak maksimal.
Tanpa iletrisoy, usia 65 hari daun sudah menguning dan rontok dan ketika dipanen pada usia 85 hari, imbasnya kedelai tidak bisa mengembang optimal.
Sementara jika menggunakan iletrisoy sesuai dosisnya, maka bisa menekan penggunaan pupuk urea menjadi 25 kg per hektar dengan hasil daun berwarna segar dan hijau di usia 65 hari dan pada saat panen di hari ke 85 produksi kedelai jadi lebih bagus.
‘’Jika pada usia 65 hari daun sudah menguning, maka proses pembentukan biji kedelai juga akan terganggung. Biji kedelai akan terbentuk sempurna jika daun tetap bisa berfotosintesis dalam waktu yang lebih panjang,’’ katanya jelas.
Praktis selain ongkos produksi lebih hemat hasil panen kedelai juga ikut melimpah. Pasalnya selama ini banyak petani yang lebih terpikat menanam jagung karena ongkos tanam yang lebih murah dengan hasil yang lebih berlimpah.
Arif yakin dengan menggunakan Iletrisoy menanam kedelai bisa jadi lebih menarik bagi petani terutama di lahan masam. ‘’Perhektar hanya butuh 400 gram pupuk iletrisoy plus sekitar 25 kg urea, kalau pakai urea saja bisa sampai 200 kg per hektar. Hasilnya juga bisa dua kali lipat lebih banyak. Petani yang selama ini lebih pro jagung mungkin bisa lebih tergoda untuk menanam kedelai,’’ harapnya. (Dyah Ayu Pitaloka)