Sempat Gemetar, Pundak Dielus dan Batik pun Dikagumi

Anggota DPRD Kota Malang, Ya’qud Ananda Gudban punya pengalaman yang sangat mengesankan saat berkunjung ke Myanmar (Burma) pekan lalu. Selama dua hari di negara sarungan itu, dia mengikuti acara yang sangat menarik, salah satunya bertemu dengan tokoh oposisi Myanmar Aung San Suu Kyi yang sangat terkenal itu. Berikut penuturan Nanda mengenai pertemuannya dengan perempuan kharismatik yang biasa dipanggil Daw Suu tersebut.

PERJALANAN Nanda ke Myanmar dimulai dari Bangkok, Thailand, menggunakan pesawat selama satu jam ke Yangoon. Perjalanannya sempat tersendat karena untuk masuk Myanmar harus menggunakan visa, padahal untuk negara-negara Asean biasanya tanpa visa. Terpaksa dia harus mengurus visa melalui keduataan Myanmar di Bangkok. Berkat bantuan seorang temannya, anggota parlemen Thailand, dia bisa mendapatkan visa tersebut, meskipun harus antre cukup panjang, dia mendapat nomor urut 260 dari sekitar 800 orang pencari visa.
Begitu mendarat di  Yangoon, dia dibuat takjub oleh bandara yang sangat bagus, lebih bagus dari bandara yang ada di Indonesia. Tapi itu hanya sementara, setelah memasuki  kota Yangoon, pemandangan berubah 180 derajat, karena kotanya masih jadul dengan taksi dan mobil-mobil kuno yang masih berseliweran di kota tersebut. Meskipun demikian, kota ini sangat hidup dengan aktivitas masyarakat layakanya masyarakat di kota-kota lain.
Ada dua agenda selama kunjungan di Myanmar. Pertama berbicara dalam seminar Women Leading Democracy Building in Myanmar dan kedua menghadiri penghargaan kepada Aung San Suu Kyi oleh dua lembaga internasional, Wilson Center dan The Ratiu Family Charitable Foundation yang bekerja sama dengan Concord Institute, sebuah LSM setempat. Acara yang paling ditunggu adalah bertemu dengan Daw Suu di rumah dinasnya di ibu kota baru Myanmar yang bernama Nay Pyi Daw yang berjarak lima jam dari Yangoon. Perjalan menuju ibu kota baru itu sangat lancar, melewati jalan yang lenggang tanpa banyak berpapasan dengan kendaraan.
Tujuan bertemu Daw Suu adalah untuk menyerahkan penghargaan dari Wilson Center dan Ratiu Fondation. Dalam rombongan yang menggunakan bus itu terdapat Profesor Rangita da Silva dari Wilson Center dan Nocolae Ratiu dari Ratiu Fondoation. Meskipun sudah menyatakan sebagai negara terbuka, tapi sebenarnya masih banyak yang tertutup dan misterius, termasuk rencana bertemu dengan Daw Suu. Meskipun pertemuan sudah dijadwal, tapi tidak ada jaminan benar-benar bertemu, bisa saja rencana itu dibatalkan secara mendadak, baik oleh pihak penguasa maupun pihak Daw Suu. Alasannya sama, demi keamanan. Penjagaan pun sangat ketat, sampi beberapa lapis.   ‘’Meskipun rombongan kami sudah sampai di NayPy Daw, tapi kami masih belum tahu apakah kami bisa diterima Daw Suu atau tidak,’’ ujar ketu Partai Hanura tersebut.
Rombongan harus menunggu di halaman rumah Daw Suu, karena di dalam masih ada tamu duta besar Jepang. Setelah duta besar Jepang keluar, giliran rombongan bertemu Daw Suu. Meskipun demikian, tidak semua anggota rombongan boleh masuk ke rumah Daw Suu, dari sekitar 50 orang, hanya tujuh orang yang boleh masuk. ‘’Saya bersyukur termasuk yang boleh masuk bersama Prof Rangita dan teman yang lain,’’ terangnya.
Pertemuan pun berlangsung singkat, tidak lebih dari 45 menit, hanya menyerahkan penghargaan dan ada pidato singkat. Sebelum masuk, rombongan bertanya kepada staf Daw Suu, apakah saat bertemu nanti boleh bersalaman atau hanya memberi isyarat seperti menyembah. Petugas itu pun tidak tahu, tapi akhirnya diputuskan memberi hormat seperti menyembah. Begitu masuk ke ruangan Daw Suu, aura kharismatik mulai terasa. Nanda mengaku  sempat gemetar sebelum bertemu dengan tokoh yang sangat dicintai rakyat Myanmar itu.
Begitu bertemu dengan Daw Suu, Prof Rangita memberi hormat dengan membungkuk cukup lama, seperti orang rukuk dalam salat, sementara yang lain hanya memberi isyarat seperti menyembah. Daw Suu pun membalas dengan cara yang sama, tapi ketika saat bertemu dengan Nanda, dia mengulurkan tangan. ‘’Diantara rombongan itu hanya saya yang diajak bersalaman dengan beliau, rasanya senang sekali,’’ jelasnya.
Acara penyerahan award dilakukan oleh Prof Rangita mewakili Wilson Center dan Nicolae Ratiu dari Ratiu Fondation. Setelah penyerahan, Daw Suu hanya berbicara sebentar, mengucapkan terima kasih atas penghargaan tersebut. Dalam situasi yang berat seperti yang dialaminya di Myanmar saat ini perlu adanya kerja sama dan dukungan dari semua pihak. Apalagi saat melihat ada saya dari Indonesia, dia menyatakan minatnya untuk berkunjung ke Indonesia.
Daw Suu sangat tertarik dengan Indonesia, bahkan saat salaman dengan Nanda sambil membungkuk melihat baju yang dikenakan. Tampak dia sangat mengagumi kain batik yang saat itu dikenakan oleh Nanda. ‘’Bajumu bagus sekali,’’ kata Daw Suu seperti ditirukan Nanda. ‘’Saya katakana, ini kain asli Indonesia yang bernama batik. Beliau sangat tertarik mengamati beberapa saat sambil mengelus-elus pundak saya. Rasanya senang sekali,’’ ungkapnya. (husnun n djuraid)