Mengenang Mantan Pelatih Arema Miroslav ‘Miro’ Janu (1)

KEPERGIAN mendadak mantan pelatih Arema Miroslav ‘Miro’ Janu meninggalkan duka mendalam bagi semua pihak yang mengenalnya. Almarhum pergi meninggalkan berbagai kenangan  mendalam termasuk bagi wartawan Malang Post,Poy Heri Pristianto.Berikut kenangannya:



TEPAT  11 Oktober 2006, Miroslav Janu menginjakkan kaki di Malang. Saya yang waktu itu bertugas back up tim Arema Malang, sebelum berganti nama Arema Indonesia, berusaha mengabadikan kedatangannya dengan stanby di Bandara Abdurahman Saleh, Pakis. Momen itu sangat berkesan, karena saya dan mungkin sebagian besar Aremania, serta manajemen Arema sudah sangat lama ingin segera memastikan kedatangannya di Malang.
Kala itu, saya melihat Miro dijemput perwakilan manajemen Arema. Dari bandara, dia diboyong menuju Kantor Arema, Jalan Panderman 2A dengan menggunakan mobil Terrano warna hitam, bernopol B 8849 UR. Sesampai di kantor Arema, dia diterima oleh Satrija Budi Wibawa, sang Manajer Arema. Terjadi pembicaraan tertutup di ruang kerja Satrija kala itu. Saya yang ingin mewawancarai Miro, begitu akrab sapaan almarhum, dengan sabar menunggu kesempatan bisa bertemu Miro.
Beberapa sebelumnya, pak bos saya, Sunavip Ra Indrata lebih dahulu membuka perkenalan dengan Miro, melalui sambungan internasional saat Miro masih berada di Ceko. Tepat setelah, kami tim redaksi Malang Post mendapati informasi, Darjoto Setyawan, salah satu bos PT Bentoel dan menjabat Ketua Yayasan Arema sudah tercapai kesepakatan dengan Miro, Miro adalah pelatih baru Arema menggantikan Benny Dolo, untuk musim 2007.
‘’Ya, besok saya harus start kerja. Filosofi saya, sedikit bicara
banyak kerja. So, i have much work to do. I hope we can meet again
tomorrow,’’ ujar Miro sembari berjabat tangan didampingi jajaran manajemen Arema, kala itu.
Siang datang, sore harinya, Miro nyatanya langsung bekerja mendampingi I Putu Gede dkk berlatih. Kala itu, sore hari, bapak dua anak ini ikut hadir di Stadion Brantas Batu. Saya juga tidak ingin melewatkan moment itu sehingga melihat bagaimana Miro mengawali perkenalan dengan para pemain. Kala itu, satu per satu dari pemain dihampiri sambil berjabat tangan yang hadir latihan. Miro kemudian melihat latihan tim yang dipimpin Winarto, Asisten Pelatih Arema.  
Sedangkan, pada malam harinya, manajemen Arema mengundang seluruh wartawan untuk hadir di ‘malam kenal’ yang dikemas dalam kegiatan berbuka bersama, di bulan Ramadan. Hanya saja, di acara itu, saya belum bisa banyak berkomunikasi dengan Miro. Sebab, saya harus menyelesaikan tugas keredaksian. Namun mendampingi Miro di hari pertamanya di Malang, sebagai jurnalis, saya merasakan itu sudah sebuah moment yang mengesankan dan sebagai pembuka ‘kerjasama’ dengan Miro disaat Arema bersiap turun di musim kompetisi baru.
Bagi saya, tidak mudah untuk bisa menyelami karakter Miro. Karakter tegas dan terkadang dibumbui marah, sudah menjadi santapan sehari ketika hunting berita Arema. Tony Ho dan Herman Kadiaman (pelatih kiper), dua asisten pelatih pilihan Miro yang sebelumnya sudah lama bekerja bareng Miro saat masih di PSM Makassar, selalu menyebut, ya memang begitulah karakter Miro. Bahkan, keduanya menyebut, pelatih asal Ceko ini tidak jarang sangat ‘pelit’ berbagi kisah timnya ke wartawan ketika timnya sudah masuk kompetisi.
Kisah itu juga saya rasakan diawal perjalanan Miro menukangi Arema, saya merasa tertantang menaklukkan karakter Miro. Terlebih, dia sendiri di perjalanan awal juga sudah Meski tak jarang juga saya juga menerima jawaban yang mungkin bisa membuat saya kecewa saat akan wawancara di akhir latihan dan tim usai bertanding. ‘’Tidak ada story baru di Arema’’. Kalimat itu diberikan Miro dengan begitu enteng sambil ngeloyor menjauhi jurnalis.
Mungkin karena tiap hari bertemu saya, dan mulai mengenal perjalanan Malang Post yang selalu berusaha menyuguhkan kabar terbaru tim Arema untuk Aremania, Miro sudah mulai terasa membuka diri. Dalam sebuah kesempatan, saya secara pribadi juga pernah merasakan bagaimana berdiskusi tentang teknik dan strategi permainan sepakbola modern ala Eropa, darinya. Bagi saya, itu kesempatan berharga karena diberi ilmu yang bermanfaat penunjang tugas jurnalis dan pengetahuan saya. Meski dalam penyampaiannya, Miro seperti marah-marah, sebab ada debat dalam diskusi itu.
‘’Mari kena sidang Orim soal berita ya? Juragan asal Ceko ini sepertinya memang aktif baca koran,” tanya salah satu awak dari measure team Arema saat bertemu saya usai melihat saya berdiskusi. Saya pun cepat membalasnya. ‘’Bukan, Miro malah kasih saya ilmu taktik dan strategi sepakbola modern yang sedang diterapkan di Arema,”
Di musim 2007 itu, saya mendapat kesempatan dari redaksi mengikuti sebagian besar perjalanan Arema di Divisi Utama. Pengalaman yang tak terlupakan adalah saat mendampingi Miro bersama Singo Edan tur ke luar pulau, tepatnya di Provinsi Sulawesi Utara. Yakni, lawan Persiter Ternate dan Persmin Minahasa. Bukan karena Arema sama-sama takluk dari kedua tim tuan rumah ini sehingga gagal membawa pulang satupun poin saat balik ke kandang singa. Melainkan, bagaimana Miro saat marah, meski masih bisa mengontrol emosi.
Ceritanya, pada perjalanan ke Malang, usai tim kalah 1-2 dari Persmin di Tomohon, Miro ternyata begitu memendam demdam kepada wasit Najamudin Aspiran. Wasit asal Balikpapan ini dinilainya menjadi salah satu biang keladi dari kekalahan Arema karena kepemimpinannya yang buruk dan berpihak pada tuan rumah. Protes keras Miro di lapangan, baik saat dan usai pertandingan ternyata kembali tersulut ketika bertemu wasit asal Balikpapan itu saat di Bandara Sam Ratulangi Manado, tepat saat sama-sama akan terbang ke Makassar. Miro terlihat melabrak Najamudin saat di dalam pesawat. (bersambung)