Mengenang Mantan Pelatih Arema Miroslav ‘Miro’ Janu (Habis)

Banyak kisah dan kenangan yang didapat wartawan Malang Post, sepanjang kenal dengan Miro. Tidak terasa, Miro yang datang di Malang sejak 11 Oktober 2006, ternyata terus kontak hingga beberapa hari sebelum almarhum meningal dunia, akibat serangan jantung.

Beberapa hari lalu, saya masih terus menjalin komunikasi dengan Miro melalui jasa Blackbery Massager (BBM). Saya bersyukur, meski Miro sudah tidak menukangi Arema, ternyata sang pelatih berkarakter tegas ini, masih bersedia menjalin kontak dengan saya.
Kontak terakhir dengan Miro, yakni saat dirinya mendampingi tim Persebaya Surabaya, Divisi Utama menjalani training center sepekan di Pulau Dewata Bali.
Kala itu, kontak lewat BBM-an dari ponsel milik Tony Ho, sosok pelatih yang selama ini kental dikenal sebagai kawan, partner dan ‘saudara’ Miro yang ditunjuknya sebagai Asisten Pelatih Persebaya. Tony dan Miro pun membagi keceriaan saat di Bali, dengan mengirimkan beberapa foto keduanya ke saya.
‘’Dua foto yang saya kirim ke BB kamu itu foto terakhir saya dengan Miro. Ini kenangan terakhir Persebaya TC di Bali dari tanggal 15-23 Januari, kemarin,’’ ucap Tony Ho dalam pesannya yang ditulis lewat BBM-an, sore hari, tepat di hari Miro meninggal dunia, Kamis (24/1) lalu.
Sejak menukangi Arema, Bali dinilai Miro sebagai tempat ideal untuk menggelar TC. Dari wawancara saya dengannya, Miro menganggap keberadaan Pantai Kuta yang memanjang, banyaknya lapangan bola, fitnes center dan hotel yang lengkap dengan kolam renang, mendukung untuk program latihan tim. Ponaryo Astaman dkk pernah dboyong ke Bali saat Miro menukangi Arema di musim 2007. Hasilnya, Singo Edan sukses lolos ke babak delapan besar Ligina.
Selain itu, di kota seribu pura ini pun saya pernah dikerjain Miro. Ceritanya, saya yang waktu itu back up tim Arema tur away ke Bali, di musim 2007, dititipi Miro untuk membelikan lalapan bebek goreng.
 ‘Perintah’ itu dilayangkan mantan pelatih PSM Makassar ini sekitar pukul 22.00 WITA, atau setelah saya menyesaikan tugas jurnalis dengan mengirim foto dan naskah berita di warnet untuk terbitan Malang Post, besoknya.   
‘’Itu apa yang kamu bawa? Makanan? Coba sini, saya lihat. Bebek Goreng? Duck, benar?’’ tanya Miro yang kala itu duduk bareng dengan Tony Ho dan Herman Kadiaman serta jajaran manajemen tim Arema di restaurant hotel, tempat tim menginap.
‘’Kamu sedikit pintar, ya? Malam-malam sebelum tidur setelah kerja, kamu mau makan bebek goreng,’’ sambung Miro dengan senyum ramah dan suara bariton khasnya.
Ditanya Miro, saya pun menjawab, bungkusan di dalam tas kresek itu benar lalapan bebek goreng. Saya menyerahkannya ke Miro. ‘’Kena deh dikerjain Miro.’’
Ternyata Miro sangat menyukai bebek goreng, sejak tinggal di Indonesia. Lalapan bebek plus nasi yang harusnya saya makan, untuk obat penghilang rasa lapar pun dimakan Miro.
Parahnya, saya disuruh balik untuk beli lalapan itu lagi, sebab restaurant di hotel tempat kami menginap, sudah tidak ada lagi makanan. Ditambah lagi, kala itu, guyuran hujan sejak sore juga tak kunjung reda.
‘’Miro memang suka sekali makan bebek goreng, selain lahap sekali makan nasi rendang yang bisa dijual di warung Padang. Sampai, saya pernah kerjain Miro, dengan bilang daging bebek goreng, padahal yang benar daging itu daging asu (anjing, Red),’’ kenang Tony Ho.
Perkenalan saya dengan Miro, tidak hanya saat dia melatih Arema. Saat menjadi Asisten Pelatih Slavia Praha, Ceko, salah satu tim yang tampil di Liga Champions Eropa, dan saat menukangi tim B Slavia Praha, Miro masih bersedia berkomunikasi dengan saya.
Dia kerap membalas short massager service (sms) handphone saya, meski sms balasannya lama, beberapa hari setelah saya kirim sms. Itu setelah dia kembali ke Praha, usai masa kontraknya di Arema pada musim kompetisi 2007 sudah habis.
Saat di Praha, tulisan saya seputar Arema yang terbit di Malang Post ternyata juga terus dipantaunya lewat website www.malang-post.co.id . Bahkan, M Taufan, Humas tim Arema dan Asisten Manajer Arema, juga pernah menginformasi tentang hal itu ke saya. ‘’Miro ternyata juga sering membaca berita Arema di website resmi Malang Post.” Begitu bangganya saya mendapat informasi itu, terlebih media tempat saya bekerja, Malang Post juga bisa dinikmati dari negeri jauh di sebrang.  
Dua tahun di Praha, Miro kemudian kembali ke Arema, untuk musim 2010, sepeninggal pelatih Robert Alberts balik ke Malaysia. Sebelum datang ke Malang, Miro juga kirim sms ke saya dengan tulisan berkelakar. ‘’Kamu senang yaa, saya balik ke Malang? Tunggu ya.’’ Sms ini pun membuat saya tertawa dan segera membalasnya. ‘’Oke coach, saya tunggu di Bhumi Arema.’’ Saya pun sempat pesan kostum original timnas Ceko milik Pavel Nedved, legenda Ceko dan Juventus, tim idola saya sejak kecil.
Saat datang di Malang, titipan saya itu ternyata tidak dibelikannya, tetapi itu tidak membuat saya kecewa, mungkin lain waktu terkabulkan.
Saya yang kala itu berganti tugas backup Persema Malang, ingin sekali bertemu Miro setibanya di Malang. Satu momen di Stadion Gajayana menjadi kenangan indah bagi saya.
Satu teman fotografer media lain, Nedy Putra AW sempat mengabadikan pertemuan saya dengan Miro. Penuh canda tawa, tangan kanan saya diremas sekuat tenaga olehnya. Saya ada niat membalasnya, tetapi saya merasa kasian, karena mungkin sudah orang tua yang seumuran bapak saya. Hehehehe..
Usai mengantarkan Arema menjadi runner up ISL, dia hengkang ke Persela Lamongan, dan Arema ditukangi Wolfgang Pikal. Komunikasi pun masih berlanjut, Miro pun sempat bercerita, termasuk ketika sang istri baru saja menjalani operasi.
Pelatih yang taat dalam membayar pajak penghasilan ke pemerintah Ceko ini juga sukses mengantarkan Persela di peringkat keempat klasemen akhir ISL.
Dan, Persebaya menjadi tim terakhir dalam petualangannya di Indonesia, sekaligus tim terakhir yang ditukanginya sepanjang berkarir sebagai pelatih. Selamat Jalan Coach Miro! (poy heri pristianto)