Buka Bisnis dari Uang Saku, Sulap Ruang Tamu Jadi Studio

Pemuda 17 Tahun yang Mengelola DnD Studio dan DnD Café

Usianya baru 17 tahun. Namun dia sudah bisa mendirikan dan mengelola dua tempat usaha yang sangat menjanjikan. Dio Pamadya Manggala siswa SMKN 5 Malang, pemilik DnD Studio dan DnD Café terinspirasi oleh sosok sang ayah yang berhasil menjadi pengusaha ternama di Kota Malang. Jalan yang ia tempuh masih panjang, tapi Dio mengaku sangat menikmati proses pembelajaran yang sedang ia lalui saat ini.

Nama Dio tentu tidak asing lagi bagi sebagian besar B-Boy (sebutan bagi para dancer) di Malang. Cowok berkacamata ini adalah salah satu personil Excalibur, sebuah grup dance yang berhasil menjuarai Malang Post Dance Competition 2012 serta menyabet posisi Runner Up M-Teens Dance Competition 2012.
Namun, jika disandingkan dengan para pengusaha muda, namanya terbilang baru. Maklum bisnis yang digeluti, baru berjalan beberapa bulan, meski sudah mulai menarik banyak minat masyarakat, khususnya para dancer.
‘’DnD Studio ini mulai dibuka sejak Juli 2012. Awalnya tempat ini ruang tamu, tapi sudah sering sekali dibuat latihan dance karena cukup luas,’’ jelasnya kepada Malang Post.
Awalnya, ruangan itu masih sangat sederhana. Tidak ada kaca yang membantu mereka melihat keselarasan gerakan. Lalu terbersit ide di benak Dio, kenapa tidak sekalian dijadikan studio. Ketika ide itu disampaikan ke orang tua, mereka langsung setuju.
Dio menolak jika usahanya ini dikatakan sebagai pemberian orang tuanya. Siswa kelas XI Multi Media ini menceritakan pengorbanannya untuk menahan keinginan membelanjakan uang saku, untuk hal-hal yang tidak penting demi berdirinya DnD Studio.
‘’Aku mulai tertarik berbisnis sejak masuk SMK. Ketertarikan itu yang menjadikan modal awal untuk mulai berkomitmen dan menabung. Memang ada sumbangan dana dari orang tua, setengah dari mereka lalu setengahnya lagi tabunganku. Berhubung tempat usahaku ini menjadi satu lokasi dengan rumah, tidak butuh biaya yang terlalu besar. Hanya renovasi saja dan menambahkan beberapa peralatan lain yang dibutuhkan,’’ terang Dio.
Remaja kelahiran Malang, 8 Desember 1995 ini juga melakukan tindakan cepat, ketika para B-Boy se-Malang Raya, datang ke studionya dan melakukan beatle. Tak hanya itu, pelatih dancer cilik berbakat Brandon yakni Semmy Balnk juga turut hadir di DnD Studio.
‘’Studionya sendiri sebenarnya sudah cukup luas. Tapi kan nggak mungkin semua ngumpul di studio. Harus ada tempat buat nunggu dan buat diskusi. Akhirnya aku jebol ruang sebelah studio persis. Itu kamarku yang ukurannya lumayan. Disana memang sudah ada sofa sama TV layar datar, jadi tinggal merapikan temboknya aja sih,’’ kenangnya lalu tertawa.
Biaya yang ditawarkan Dio untuk sewa studionya tergolong murah. Bukan keuntungan yang ia kejar untuk saat ini. Dia ingin bisnisnya bisa dijadikan tempat bagi teman-temannya yang produktif,baik dalam bidang dance maupun teater. Sistem yang ia terapkan pun berkaca kepada pengalaman di masa lalunya ketika menyewa tempat untuk futsal.
Tarif pun dipatok sangat murah. Rp 15 ribu/jam di hari biasa. Rp 20 ribu/jam untuk Jumat – Minggu. Meski murah, tetapi Dio sudah menyediakan fasilitas lengkap.
‘’Dulu kalau ke studio dance lain, harganya lebih mahal dan masih pakai tape biasa. Mereka yang mau booking tempat bisa langsung menghubungi aku. Cukup janjian dan nggak pakai uang muka dulu. Soalnya aku tahu betapa nggak enaknya kalau kita udah ngasih uang muka terus nggak jadi dan uangnya nggak kembali. Itu dulu waktu aku sama teman-temanku mau futsal,’’ bebernya.
Konsep itu bukannya tanpa risiko. Salah satunya, ketika tempat sudah dibooking dan gagal, dia tidak bisa memberikan ke orang lain. Praktis di jam yang sudah dibooking tersebut, akan kosong.
Untuk menunjang usaha DnD Studio, siswa yang berencana kuliah di Institut Kesenian Jakarta ini membuka DnD café yang berada persis di halaman rumahnya, depan DnD Studio.
‘’Berhubung masih baru satu bulan, menu yang kami sajikan masih ringan. Berupa minuman dan snack saja. Rencananya aku akan berguru kepada salah satu chef sekaligus konsultasi tentang menu apa yang sekiranya cocok untuk café ini,’’ tegas cowok yang tak segan turun langsung untuk melayani pelanggannya ini.
Keinginannya untuk menjadi pengusaha ini didukung penuh oleh kedua orang tua yang juga berkecimpung di dunia bisnis. ‘’Sekarang aku kan masih sekolah, jadi mungkin masih belum bisa konsentrasi sepenuhnya di sini. Ada dua pegawai yang membantu aku buat dua usaha ini,’’ katanya.  
Café itu sendiri, dia buka untuk memutar uang dari keuntungan DnD Studio. Sementara ini, Dio memang baru mendapat penghasilan bersih sekitar Rp 1 juta setiap bulan. Tetapi dia yakin, setelah lulus sekolah, dia akan lebih fokus lagi. Sekalipun nantinya dia akan kuliah di Jakarta.
‘’Bisnis yang di Malang tetap jalan dan kalau memungkinkan di Jakarta nanti juga akan membuka bisnis lain,’’ harap cowok yang juga jago bermain musik ini. (Kurniatul Hidayah)