Mengikuti Uji Kompetensi Wartawan yang Digelar AJI

Dua hari di akhir pekan kemarin, menjadi hari yang penuh pengalaman baru bagi 35 jurnalis anggota AJI (Aliansi Jurnalis Independen) dari Surabaya, Malang, Jember, Bojonegoro dan Kediri. Mereka berkumpul di Malang untuk mengikuti Uji Kompetensi Wartawan (UKW). Termasuk jurnalis dari Malang Post, Dyah Ayu Pitaloka. Bagaimana pengalamannya mengikuti UKW yang pertama digelar di Kota Malang ini?
 
Hari pertama UKW berlangsung dengan tegang. Banyak peserta yang baru pertama kali ikut UKW AJI angkatan ke 5 itu. Baik yang tingkat wartawan muda, madya dan utama.
Tiga jenjang yang meminta persyaratan berbeda dalam hal lamanya masa kerja, dimulai dari masa kerja minimal dua hingga lima tahun untuk tingkat muda.
Di tingkat muda, tingkat yang saya ikuti, ada 14 jurnalis muda. Kemudian ditambah 18 jurnalis madya dan tiga jurnalis utama yang tersebar di enam kelompok berbeda. Satu kelompok, berisi rata-rata enam peserta dengan satu penguji.
Kelompok saya kebetulan terisi tiga jurnalis muda dan tiga jurnalis madya dengan penguji bersertifikat wartawan utama yang juga mengelola media online milik Kompas Gramedia Group berbasis di Surabaya.
Hari pertama yang berlangsung marathon sejak pukul 13.00, dipenuhi dengan diskusi dari enam peserta ujian, lengkap dengan umpan balik dari penguji.
Diskusi mengupas tentang profesionalisme, komunikasi massa, sejarah pers nasional dan media global serta tentang hukum pers, mulai memancing saya dan peserta lain untuk kembali memahami dan mengerti tentang peran pers serta landasan hukumnya.
Bahkan tentang sejarah pers, ada pencerahan lengkap tentang perkembangan sejarah pers, yang dibagi berdasarkan masanya. Seperti pembagian masa kesusasteraan Indonesia. Ketepatan jawaban peserta, logika serta keaktifan peserta dalam diskusi, adalah poin yang dinilai oleh penguji.
Usai ujian lisan, dilanjutkan dengan ujian tulis tentang beberapa teori jurnalistik. Mulai dari prinsip jurnalistik, unsur, nilai dan jenis berita, serta bahasa jurnalistik. Mau tak mau, jurnalis wajib membaca kembali tentang unsur, nilai, jenis dan bahasa jurnalis ini.
‘’Pemahaman ini bisa dijadikan landasan dalam menghasilkan produk jurnalis,’’ kata Moch Rudy Hartono, penguji kelompok kami.
Dalam ujian tulis ini, kami diminta menganalisis beberapa kliping berita, untuk melihat nilai, unsur serta bahasa yang digunakan. Termasuk akurasi penulisan nama, umur, tempat, sampai penulisan kata asing yang dicetak miring.
Disusul ujian tulis tentang fakta dan opini, narasumber, serta kode etik jurnalistik seusai istirahat makan malam. Disini saya diajak kembali menganilisis narasumber dan kebutuhannya dalam sebuah berita.
‘’Jika kita yang melihat sebuah peristiwa kecelakaan, kita adalah narasumber primer itu sendiri. Narasumber primer lain dibutuhkan karena kita tidak melihat, mendengar atau mengalami peristiwa itu,’’ jelas Didik Supriyanto, Koordinator Penguji UKW AJI.
Hari pertama berakhir dengan uji lisan tentang teknik wawancara dan pemahaman Kode Etik Jurnalistik. Sekitar pukul 22.30 saya baru bisa rehat dari ujian hari pertama.
Bersambung hari kedua materinya adalah menyusun berita dan menyuntingnya, mengolah dan ikut terlibat dalam menetapkan kebijakan redaksi, menggunakan peralatan teknologi dan ditutup dengan pemetaan penyikapan problem etik serta perincian kode etik ke kode perilaku.
Di hari kedua ini, kami diingatkan kembali untuk aktif membuat outline sebuah berita. Mulai dari bagaimana memilih fokus berita, latar belakang berita, menetapkan daftar narasumber, hingga apa yang harus ditanyakan saat bertemu dengan narasumber. Dalam tahap ini, juga terjadi diskusi menarik tentang etika melakukan agenda setting seperti memilih pertanyaan dan narasumber.
‘’Pemetaan narasumber penting karena kita harus mengenali karakter dan kapasitas narasumber sebelum bertanya. Jangan sampai kita menanyakan isu yang ternyata tidak dikenalnya dengan baik,’’ kata salah satu peserta jurnalis madya di kelompok saya dalam diskusi tersebut.
Dipenghujung ujian masing-masing peserta mendapat ujian tertulis berupa contoh kasus yang harus dianalisis dengan kode etik dalam materi pemetaan problem dan perincian kode etik ke kode perilaku.
Jurnalis muda mendapatkan tugas menganalisis contoh kasus dan menentukan sikapnya, jika pemimpin ditempatnya menjadi tim sukses salah satu tim pilkada dan meminta jurnalis tersebut untuk menulis baik ketika pasangan calon yang didukung pimpinannya itu ternyata terlibat skandal korupsi.
Untuk jurnalis utama, contoh kasusnya berbeda namun dengan penekanan yang serupa. ‘’Seorang jurnalis televisi asing berinisial BG, mendapatkan informasi dari jurnalis televisi nasional tentang bom yang ditanam di pipa gas pantai di Jawa Barat. Karena bingung menentukan sikap, BG melaporkan informasi itu pada atasannya yang berinisial STP  dan responnya sangat jelas. No, this is terroris attack! we have to tell the police!.’’
‘’Peristiwa pun berakhir dengan penetapan tersangka terhadap jurnalis televisi, yang dituduh terkait jaringan teroris dan mendekam di penjara. BG pun merasa dilematis karena merasa bersalah terhadap rekannya itu. Pertanyaanya bagaimana sikap anda jika anda berada di posisi BG?’’ tanya Didik Supriyadi, Koordinator Penguji di akhir ujian.
Maka, adu argumen muncul di aula Hotel Ollino Garden malam itu. Masing-masing bertahan dengan sikap masing-masing yang juga berdasar pada KEJ.
Ada yang setuju dengan sikap BG, ada pula yang menentang dan menyalahkan sikap BG. Dalil agama pun ikut disebut dalam sikap yang dipilih mereka. Namun pada akhirnya ada satu kebenaran mutlak yang bisa disetujui peserta dan penguji.
‘’Apapun sikap anda, maka ambillah sikap itu dengan pertimbangan yang matang dan alasan yang kuat berdasar pada KEJ dan UU Pers,’’ tandas Didik. (Dyah Ayu Pitaloka)