Mengikuti Kunjungan HIPPAM Kota Malang ke Lombok Barat

Lain ladang lain belalang, lain lubuk lain ikannya. Begitulah kiranya peribahasa yang tepat untuk mengilustrasikan kekayaan masing-masing daerah di nusantara. Jangankan hasil bumi, untuk pasokan air bersih saja tiap daerah sudah berbeda. Kekayaan sumber mata air yang melimpah di Kabupaten Lombok Barat membuat Asosiasi Himpunan Penduduk Pengguna Air Minum (HIPPAM) Kota Malang mendapat banyak pelajaran saat studi banding di sana.

TABUHAN Gendang Beleq, terdengar bertautan begitu rombongan pengurus dan pembina Asosiasi HIPPAM Kota Malang tiba di Taman Narmada, Senin (28/1) lalu. Sekelompok pemuda tampak bersemangat memainkan alat musik tradisional Suku Sasak yang biasa dibawakan pada acara seremonial tersebut.
Kedatangan 40 awak rombongan dari Bhumi Arema, disambut bak tamu agung di kawasan wisata pemandian tersebut. Diiringi tarian tradisional setempat, setiap awak rombongan, langsung dikalungi kain tenun Lombok begitu memasuki pelataran Taman Narmada, yang dulunya menjadi tempat pemandian keluarga Kerajaan Karangasem.
Di komplek sakral yang dibangun Raja Anak Agung Gedhe Ngurah pada tahun 1727 M tersebut, rombongan HIPPAM disambut langsung oleh Kepala Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Kabupaten Lombok Barat, Ir Robijono Prasetijanto beserta jajarannya.
‘’Kami tidak menyangka bakal disambut semeriah ini,’’ tutur Kepala DPUPPB Kota Malang, Dr Ir Drs Jarot Edy Sulistyono Msi dengan rona sumringah.
Setelah acara seremonial usai, rombongan diajak berkeliling komplek Taman Narmada yang memiliki luas sekitar 30 hektar. Tidak terlalu lama menjelajah wisata pemandian yang memiliki lima kolam tersebut, pihak tuan rumah langsung membuka acara diskusi bersama di pendopo utama.
Suasana gayeng menyelimuti sesi pemaparan yang diagendakan berlangsung formal. Ketengangan pun mencair dengan canda tawa di sela-sela sharing soal pengelolaan air minum tersebut.
Melalui diskusi itulah, ditemukan banyak perbedaan mendasar dalam teknis pengelolaan air minum untuk masyarakat Lombok Barat dan Kota Malang.
Untuk nama lembaganya saja sudah berbeda, bila di Kota Pendidikan ada HIPPAM yang memasok air minum untuk pelanggan dari kalangan bawah, di Kabupaten Lombok Barat yang mengusung motto Bumi Patut Patut Paju hal ini ditangani oleh Perkumpulan Pemakai Air Bersih (PPAB).
Cakupannya pun terbilang luar biasa. Jika HIPPAM Kota Malang yang baru saja meraih prestasi di bidang keciptakaryaan tingkat nasional, hanya memasok 10 persen kebutuhan air minum di Kota Malang, PPAB setempat melayani hingga 22 persen kebutuhan penduduk yang mayoritas berada di wilayah pedesaan.
Lombok Barat yang beribukota di Gerung, memiliki luas wilayah 1.672 km persegi dengan penduduk sekitar 800 ribu jiwa. PPAB setempat memanfaarkan sumber air dari kawasan Sesaot di lereng Gunung Rinjani.
‘’Prosentase sebesar ini (22 persen) didominasi untuk kebutuhan di pedesaan. Karena di daerah perkotaan bergantung pada PDAM dan untuk pertambangan memanfaatkan sumur bor,’’ ungkap Robijono memberi gambaran singkat.
Sayangnya, meski memiliki debit air yang terbilang mumpuni karena nyaris tak pernah surut, PPAB Lombok Barat belum pernah berkiprah di kejuaraan tingkat nasional.
‘’Kami malah belum berkiprah di lomba tingkat nasional seperti HIPPAM Kota Malang. Seharusnya kami yang belajar ke sana,’’ imbuh Kepala DPU yang akrab dipanggil Robi itu.
Belum aktifnya PPAB setempat mengikuti ajang bergengsi se Nusantara bisa dimaklumi. Meski sudah berjalan bertahun-tahun, nyatanya masih ada kendala yang menghadang urusan operasional. Diantaranya adalah pipa air mengalami gangguan faktor alam, konsumen di beberapa tempat yang belum bisa terlayani dengan baik hingga pipa yang dirusak penduduk.
Masalah sosialisasi tarif agaknya masih menjadi hambatan terbesar PPAB Lombok Barat. Padahal, harga per meter kibik nya tak lebih dari Rp 500.
‘’Masih ada kesulitan untuk memberi sosialisasi kepada masyarakat. Karena mereka berpendapat air ini berasal dari alam, kenapa harus bayar,’’ papar Ketua PPAB Karya Bersama Desa Peresak, Narmada, H Nasri yang ikut urun suara.
Tak jarang, masalah ini bisa berlarut-larut dan berkembang menjadi konflik berkepanjangan. ‘’Di sini rawan sekali konflik. Karena warga bersikeras bahwa tidak perlu bayar. Padahal sebenarnya pengelolaan yang baik dan benar adalah menuju air yang lestari dengan kelembagaan yang mandiri,’’ imbuh Ketua PPAB Dharma Sejati Punikan, Lombok Barat, Syamsudin.
Dari sinilah, bisa ditarik kesimpulan soal perbedaan sistem pengelolaan air minum di Kabupaten Lombok Barat dan Kota Malang.
‘’Sebetulnya, masalah yang kita hadapi sama. Yaitu memikirkan cara terbaik untuk menjaga kelestarian air minum untuik masyarakat, terutama orang miskin. Bahkan di Lombok Barat harganya lebih murah,’’ urai Ketua HIPPAM Kota Malang, Arif Adi Rendra.
Menurut pria yang akrab dipanggil Rendra ini, ada plus minus yang membedakan kedua daerah. “Di Lombok Barat memaksimalkan potensi sumber air murni dari Taman Rinjani. Sedangkan di Kota Malang pakai sumur bor. Tapi untuk sosialisasi di Lombok lebih sulit karena harus menerjang pemikiran tradisional warga di dusun-dusun. Boleh disimpulkan, mereka dipermudah alam tapi disulitkan warganya sendiri, sedangkan kita dipersulit alam tapi warga bisa diajak kompromi,” tukasnya.
Namun meski prestasinya belum moncer, Kabupaten Lombok Barat patut berbangga karena sudah mampu memproduksi air kemasan sendiri yang dilabeli nama ‘Narmada’ seperti nama taman sumber air setempat.
‘’Secepatnya kita juga harus mampu seperti mereka. Dalam waktu dekat HIPPAM bersinergi dengan Koperasi Satu Jiwa bakal melakukan diversifikasi produk membuat air kemasan,’’ seru Kepala Bidang Perumahan dan Tata Ruang DPUPPB Kota Malang, H Ir Ade Herawanto yang juga berpartisipasi ke Lombok. (tommy yuda pamungkas)