Tukang Ojek Perahu yang Menjadi ‘Jembatan’ Dua Kabupaten

JEMBATAN : Mangun Hartono, ketika di atas perahu rakitannya ketika menunggu penumpang.

Sehari Raub Rp 100 Ribu, Pangkas Waktu Sejam Jadi Lima Menit
Mendapatkan uang bisa dilakukan dengan cara apa saja. Namun untuk mencari uang halal, harus dengan kerja keras. Seperti yang dilakukan pasangan suami istri (pasutri) Mangun Hartono, 50 tahun dan istrinya Tentrem, 45 tahun. Demi bisa menghidupi keluarga serta anaknya, mereka harus banting tulang dengan menjual jasa sebagai tukang ojek perahu.

Senin (28/1) siang itu, terik matahari sangat panas sekali. Meski mengenakan jaket dan helm untuk menutupi kepala, namun panas masih terasa menyengat. Bahkan, saking panasnya keringat sampai bercucuran.
Namun cuaca itu, sama sekali tidak terpengaruh bagi Mangun Hartono. Ketika ditemui Malang Post di atas perahu rakitannya di Bendungan Lahor, Kecamatan Karangkates, dia justru terlihat santai. Hanya sesekali saja, dia mengipasi tubuhnya dengan caping (topi petani) yang dipegangnya.
‘’Ya begini ini, keseharian saya. Pagi mulai pukul 05.30 sampai mau maghrib ada di atas perahu ini,’’ ujar Mangun Hartono, kepada Malang Post.
Ya, sejak sawah miliknya yang saat itu menjadi salah satu mata pencahariannya dibeli paksa, Mangun beralih usaha sebagai tukang ojek perahu. Pekerjaan menjual jasa yang memerlukan kerja keras dan kewaspadaan tersebut, diawalinya sejak 1995.
Dengan menggunakan dua perahu kecil yang kemudian dirakit menjadi perahu ukuran 5 x  3 meter, dia membantu warga yang mau menyeberang bendungan. Terutama warga ataupun anak-anak sekolah dari Desa Jambuer, Kecamatan Kromengan Kabupaten Malang, yang menyeberang ke Desa Ngreco, Kecamatan Selorejo, Kabupaten Blitar.
‘’“Dulu sebelum ada mesin diesel, untuk menjalankan perahu harus menggunakan bantuan tali tampar. Itu berjalan sampai 2001 lalu. Karena setiap hari narik tali tamper itu, tangan saya dan istri sampai terkelupas. Tapi namanya pekerjaan, ya memang harus penuh resiko,’’ tutur warga Dusun Rekesan, Desa Jambuer, Kecamatan Kromengan ini.
Namun, sejak adanya bantuan mesin diesel untuk perahunya pada 2001 lalu, Mangun dan istrinya sedikit lebih bersyukur. Keduanya tidak harus susah payah menarik tampar untuk menjalankan perahunya. Hanya bermodalkan solar beberapa liter untuk menghidupkan mesin diesel, dia bisa menjalankan perahunya.
Bagi warga sekitar, jasa tukang ojek Mangun dan istrinya, sangat berharga sekali. Sebab, jika harus ditempuh dengan jalur darat, jarak antara Kecamatan Kromengan Kabupaten Malang dengan Kecamatan Selorejo Kabupaten Blitar sekitar 16 kilometer.
Ataupun sekitar 1 jam lebih perjalanan. Namun jika ditempun dengan perahu rakitan milik Mangun ini, hanya membutuhkan waktu sekitar 5 menit saja.
‘’Untuk menyeberang perahu, saya tidak menarik mahal. Untuk satu orang Rp 1000, begitu juga dengan satu motor Rp 1000. Jadi kalau satu motor dan pengendaranya boncengan ya Rp 3000. Maksimal untuk sekali penyeberangan, hanya bisa mengangkut delapan motor,’’ katanya.
Dari usahanya itu, setiap harinya Mangun mengaku mendapat penghasilan antara Rp 100 ribu sampai Rp 150 ribu. ‘’Penghasilan itu sudah lebih dari cukup untuk mencukupi keluarga dan menyekolahkan anak saya,’’ ujar bapak satu anak ini, sembari mengatakan kalau dirinya istirahat makan, istrinya Tentrem yang menggantikan pekerjaannya.
‘’Kalau dipilih, ya lebih baik naik perahu mas, dari pada harus memutar lewat jalur darat. Karena kalau memutar kondisi jalannya rusak, belum lagi sangat jauh,’’ tutur Joko, salah satu siswa SMK Brantas Karangkates – Sumberpucung. (agung priyo)