Pakaian Basah, Makan Seadanya, Tidur Beralaskan Tikar

PERDAGANGAN manusia (trafficking) selalu muncul ke permukaan. Baik terungkap melalui penyelidikan pihak berwajib ataupun terungkap tanpa sengaja. Seperti yang baru saja menimpa EL, gadis berusia 15 tahun, asal Jalan Bareng Gang 2 N Malang. Dia dan empat gadis lainnya nyaris menjadi korban. Bagaimana dia terlepas dari jeratan itu, berikut kisahnya.

Orang tua EL, Suryadi, 40 tahun dan Ninik Musafiah, 37 tahun tidak henti-hentinya bersyukur setelah EL, anak bungsunya berhasil selamat dari jaringan perdagangan gadis dibawah umur.
Di sisi lain, keduanya juga masih geram saat mengingat peristiwa tersebut. ‘’Anak saya memang pendiam dan pemalu,’’ tutur Suryadi mengawali pembicaraan kepada Malang Post, ketika ditemui di rumahnya, kemarin sore. Mungkin karena itu, lanjutnya, anaknya mudah saja dibujuk ataupun dirayu.  
Setelah terdiam sejenak, Suryadi dan Ninik pun mendampingi EL yang ikut bercerita panjang lebar tentang kejadian yang bakal tidak dilupakan seumur hidupnya.
Selasa (29/1) malam, EL beserta empat anak lainnya yakni CD, DA, RK, dan DI dikenalkan dengan Widya anak seusianya. Termasuk dengan Aris, pemuda sekitar berusia 25 tahun.
Kedua orang itu, dikenalkan oleh Fina, teman bermainnya di dekat rumahnya di Bareng. Oleh keduanya, EL dan empat gadis lainnya dijanjikan pergi ke Bali, tempat dimana yang ia sangat impikan untuk dikunjungi
‘’Saya juga akan diberi uang banyak. Nanti uangnya bisa diberikan bapak dan ibu. Saya mengiyakan ajakan itu,’’ ungkap EL lirih. Sebelum pergi ke Bali, dia diajak oleh keduanya ke sekitar Lapangan Klabang, yang berada di daerah Klayatan Gang 3 Malang. Hari pertama di tempat itu, EL bersama empat korban lainnya merasa tersiksa.
‘’Tempatnya gubuk di tengah sawah dan dingin kena hujan. Saya tidak bawa baju ganti, selain pakaian yang saya kenakan. Kami juga hanya diberikan makan seadanya,’’ ceritanya.
Hari kedua, RK dan CD dibawa ke Songgoriti. Sedangkan dia, DA dan DI masih tinggal di gubuk tersebut. Di sana, dia dijaga Widya, tersangka yang diamankan polisi dan seorang laki-laki lagi. ‘’Informasi yang saya dapat, laki-laki itu merupakan warga sekitar. Dugaannya juga terlibat,’’ lanjut Suryadi.
Hari Rabu (30/1) itu, EL juga tetap tidak diperbolehkan kemana-mana oleh Widya dan laki-laki misterius tersebut. Pakaian basah karena kehujanan yang dikenakannya, juga makin membuatnya kedinginan. Apalagi, di gubuk itu, EL, DA dan DI tidur hanya dengan beralaskan tikar.
Untungnya, penderitaan gadis yang masih sekolah di bangku SMP swasta ini pun berakhir Kamis (31/1) malam, ketika beberapa polisi dan orang tuanya datang.
Setahu Suryadi, saat berada di gubuk tempat anaknya disembunyikan, hanya Widya yang dibawa polisi ke Polres Malang Kota. Sedangkan laki-laki misterius yang ikut menjaganya, tidak diamankan.
Namun demikian, pria pekerja serabutan itu tetap bersyukur anaknya bisa bertemu lagi dengan anaknya dalam kondisi selamat. ‘’Cukup anak saya yang menjadi korban kejahatan seperti ini. Jangan ada korban yang lainnya lagi,’’ harapnya. (binar gumilang/marga nurtantyo)