Duka Kartiyah, Janda Sebatang Kara yang Jadi Korban Tanah Longsor

Bencana tanah longsor, menimpa empat rumah warga Dusun Umbut Legi, Desa Taji, Kecamatan Jabung, Kamis (31/1) malam. Kejadian ini membawa kepedihan tersendiri bagi korban yang terletak di lereng diantara tiga gunung. Gunung Lawangan, Kususan dan Tanggung. Hal ini juga disarakan Kartiyah, seorang nenek warga RT 9/RW 2 Dusun Umbut Legi yang tinggal sendiri di rumah berdinding kayu.

Siang kemarin, matahari tampak malu-malu menampakkan sinarnya dari atas langit salah satu Dusun Umbut Legi. Kondisi itu, tidak mengurangi semangat beraktifitas warganya di hari itu.
Ada dari mereka terlihat bertani. Ada juga yang sibuk memotong kayu, ada yang mengemas singkong hasil panennya ke atas mobil pickup dan ada juga dari mereka berjalan menyusuri jalanan macadam, sembari menggendong rumput untuk pakan hewan ternaknya.
Pemandangan itu sama sekali tidak memperlihatkan dusun ini baru terjadi bencana mengerikan. Longsoran tanah di empat titik, merobohkan tembok empat rumah milik warga.
Sebagian besar dinding rumah jebol, akibat tak mampu menahan longsoran tanah. Namun, kedukaan itu seakan tertutup oleh sikap ramah warganya yang begitu kental.
Malang Post yang kemarin datang di dusun ini pun disambut mereka dengan baik. ‘’Monggo mas, terima kasih sudah datang ke rumah saya, dan memberi bantuan,’’ sapa pertama kali seorang nenek dengan ramah dan senyum yang mengembang untuk Malang Post.
Sang nenek ini adalah Kartiyah yang mengira Malang Post bagian dari awak tim PMI dan Tagana Kabupaten Malang yang kemarin datang memberikan bantuan.
Wanita berusia 60 tahun tersebut, selama ini tinggal sendiri di rumah berukuran sekitar 3x6 meter ini. Kala itu, dia berada di rumah bersama enam ibu-ibu tetangganya, yang datang untuk nyambangi Kartiyah setelah rumahnya dihajar longsoran tanah, Kamis malam.
Diiringi canda tawa tetangganya dan perangkat desa setempat dengan tujuan menghibur, ibu dua anak ini tidak segan berbagi kisah seputar musibah yang dialaminya.
Dia mengaku kaget saat dinding sisi kanan rumahnya jebol diterjang longsor. Itupun baru tahu, usai kakinya tersandung meja, yang menghalangi jalannya. Saat itu kondisi rumahnya juga gelap. Kesedihan pun langsung dirasakannya karena berpikir rumah yang baru saja dibangunkan warga itu kembali rusak.
‘’Ya langsung sedih lihat dinding rumah jebol. Mosok rumahku rusak lagi. Padahal nggak lama baru dibangun orang kampung. Rumah saya rusak ketiban longsoran puyangan (tanaman temulawak, Red),’’ ucap Kartiyah lugu sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
Dibanding tiga warga lainnya yang jadi korban, Kartiyah tercatat warga tak mampu. Kesehariannya bekerja sebagai tukang jaga kebun jagung dari serangan kera merah.
Dia hidup sebatang kara sejak ditinggal mati sang suami, Pairan sejak 10 tahun silam. Dua anaknya, kini hidup mandiri di Dempok Jabung dan Manggungan Pasuruan. Rumahnya yang berdinding kayu dan berlantai tanah dalam waktu dekat akan direhab Pemkab Malang melalui program ‘bedah rumah’.  
Untuk sampai rumah Kartiyah, butuh waktu perjalanan kurang lebih hampir satu jam dari pintu pertigaan Jeru Pakis dengan jalan cor-coran, makadam dan tanah liat sepanjang 20 kilometer.
Kalau dari arah Pasuruan, berjarak enam kilometer, karena dusun ini bersebalahan dengan Desa Manggungan, Kabupaten Pasuruan. Dusun ini juga dekat dengan tempat jatuhnya pesawat OV-10 Bronco milik TNI AU yakni di Bukit Limas, Jabung, pada 21 Juli 2005 silam.
‘’Ya mulai kecil tinggal disini. Tiap hari kerja di kebun jagung, tugas nggusahi ketek (menghalau kera, Red). Tinggal sendiri di rumah, ya ditemani tetangga,’’ ucap Kartiyah. (poy heri pristianto)