Bentuk Desa Siaga, Diharapkan Jadi Percontohan

SEORANG  srikandi memimpin Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Batu, sebuah badan yang lekat dengan lumpur dan air keruh. Belum genap setahun berdiri, BPBD kota apel ini langsung berjibaku menangani longsor dan banjir. Namun, sang Srikandi terbukti mampu memotivasi stafnya bergerak cepat mengatasi bencana.


Kun Mardiana, Kepala BPBD Kota Batu adalah satu-satunya perempuan di Jawa Timur yang memimpin badan yang mengurusi bencana.  Badan yang dibentuk pada pertengahan 2012 itu sempat ‘’numpang’’ di Kantor Dinas Pengairan dan Bina Marga. Juga tak memiliki gudang untuk menyimpan berbagai perlengkapan penanganan bencana.
Kun juga harus berperan layaknya seorang ibu yang memimpin 27-an staf BPBD yang mayoritas laki-laki. Menyesuaikan fisiknya sebagai seorang perempuan dengan ritme kerja para lelaki. Terlebih lagi mayoritas pekerjaan BPBD adalah pekerjaan lapangan. Sebuah pengabdian yang dekat dengan bahaya, berkotor-kotor dan memeras keringat.“Saya memang perempuan, dan satu-satunya leader BPBD perempuan di Jawa Timur,” ujar Kun Mardiana dengan nada tegas kepada korane arek Malang ini.
Pekerjaanya yang dituntut banyak di lapangan juga tak membuat ibu dua anak ini kerepotan. Sebab dia memiliki latar belakang pekerjaan lapangan yang cukup lama. Dirinya pernah berdinas di Pekerjaan Umum  serta Bina Marga Pemkab Malang cukup lama. Ketika itu, Kota Batu masih menjadi bagian wilayah kecamatan Kabupaten Malang.
“Saya cukup akrab dengan pekerjaan lapangan, maka menangani bencana gak  ada masalah. Saya pernah juga di Dinas Pengairan dan terakhir di Kebersihan, wes biasa melek bengi (red, sudah terbiasa kerja lembur),” celetuknya sembari terkekeh.
Perempuan yang kini berusia 56 tahun itu mengaku sudah paham dengan karakteristik Kota Batu. Mengabdi  di kawasan yang dikeliling pegunungan maka bukan sebuah pekerjaan ringan bagi BPBD. Sebanyak 90 persen potensi bencana bisa terjadi di kota ini, terlebih pada musim penghujan.“Belum didata keseluruhan, diatas 20 bencana sejak BPBD dibentuk,” imbuhnya.
Bencana yang datang silih berganti mulai terjadi pada bulan Desember 2012 hingga akhir penghujung bulan Januari 2013 lalu. Bahkan ada pula bencana yang terjadi dua kali dalam seminggu. Ada juga bencana yang terjadi lebih dari lima titik dalam sehari.
Bahkan enam hari setelah Kun berulang tahun pada 20 Desember 2012, longsor menghantam wilayah Songgoriti. Bencana pada 26 Desember itu menghancurkan dua rumah milik Boniah dan Sulikah di Jalan Durian RT 2 RW 2 Songgoriti, Kota Batu. Sejak itu longsor dan banjir silih berganti menghantam kota, kewaspadaan ditingkatkan.“Sejak penghujan ini, staff BPBD siaga 24 jam, kami bagi menjadi tiga shift, setiap satu shift ada lima orang siaga,” urai istri advokad Qomaruddin Husni ini.
Dalam bencana yang dianggap skala besar, seluruh staf BPBD termasuk Kun Mardiana turun ke lapangan. Malang Post  juga  melihat sendiri kerja Kun ketika memimpin stafnya menangani tiga titik longsor di kawasan wisata Kuliner Payung pada 30 Januari 2013 lalu. Saat itu, selain longsor di Payung, ada pula longsor dan banjir di Songgoriti bahkan di kawasan Lesti dan Balai Kota Batu.
“Untuk membantu kerja BPBD, kami telah membentuk embrio unit reaksi cepat, ini berisi sekitar 30 relawan bencana,” katanya.
Relawan bencana ini memang belum dilengkapi perlengkapan yang memadai. Namun mereka tak ragu menangani bencana yang terjadi. Bahkan seringkali harus “nyeker” alias tanpa alas kaki ketika membersihkan material longsor.“Untuk relawan memang perlengkapannya belum memadai, namun mereka telah bekerja cukup keras dengan kondisi seadanya,” akunya.
Langkah lainnya, Kun membentuk desa siaga yang beranggotakan 24 desa dan kelurahan di Kota Batu. Setiap desa dan kelurahan menyediakan lima tenaga relawan untuk membantu bencana dalam skala besar. Karena dirinya seorang perempuan, maka relawan juga diambil dari kaum hawa.
“Setiap desa ada dua relawan perempuan, mereka bertuga menangani korban bencana dari kaum perempuan lansia dan anak-anak,” tandasnya.
Rochim Kepala Seksi Kedaruratan dan Logistik BPBD Kota Batu mengakui bahwa Kun adalah sosok panutan. Dia memimpin 21 staff laki-laki dan enam staff perempuan di kantornya. Selama ini, perempuan berjilbab itu menjadi sosok pengayom yang memotori kekompakan dalam bekerja.“Kepedulian Ibu Kun dalam penanggulangan bencana sangat tinggi, beliau selalu rela turun lapangan ,” urai anak buah Kun Mardiana ini.
Bahkan kata dia, Kepala BNPB Mayor Jendral (purn) Syamsul Maarif  ketika bertemu di Jakarta juga mengapresiasi secara khusus. Purnawirawan itu mengharapkan Kun dan BPBD Kota Batu menjadi percontohan di Indonesia. Terutama dalam mengangkat peran gender atau perempuan dalam penanganan bencana.(Bagus Ary Wicaksono)