Sumarto, Pengrajin Rotan yang Mampu Berkembang di Tengan Krisis

SUMARTO, satu dari sekian banyak pengrajin rotan, yang mampu bertahan dan berkembang, ketika bencana Lapindo ‘meletus’ tujuh tahun silam. Berkat kegigihan dan kerja kerasnya, usaha kerajinan rotan Sumarto mampu berkembang pesat dan beromset besar. Bagaimana kiatnya?  

Marto, begitulah sapaannya, ketika Malang Post mencari kediamanya di daerah Balearjosari Malang. Saat bertemu, penampilannya sederhana. Tutur kata yang ramah, menyambut kedatangan Malang Post.
‘’Maaf, Mas, ruanganya kotor sekali. Banyak rotan berserakan dan debu. Maklum saya ini bos, sekaligus pekerjanya,’’ ujarnya ketika ditemui di bengkel sekaligus gudang usahanya kemarin.
Marto terlihat semangat, walaupun banyak pesanan yang harus dikerjakan dan segera mengirimnya keluar Kota. Tumpukan berbagai macam kerajinan rotan. Seperti meja rotan, kursi, keranjang bayi, parsel,  almari, sketel dan lainya bertumpuk rapi memadati gudang.
Pria asli Balearjosari yang telah menekuni usaha kerajinan rotan sejak 1980 silam itu, sudah merasakan pahit manis menjalankan usahanya. Keahlian Marto dalam merakit rotan, hingga menjadi pengusaha kerajinan rotan, diawali dari kecil. Menjadi buruh di bengkel juragannya.
Seiring bertambahnya usia, kemampuan dia mengolah rotan, terus terasah. Dia semakin paham, bagaimana memperlakukan tumbuhan yang tergolong dalam famili palme, dikelaskan dalam kumpulan parafamili calamoideae ini.
Sekitar tahun 1980-an, ketika Marto berusia 27 tahun, ia memberanikan diri membuka usaha kerajinan rotan. Modalnya hanya Rp 50 ribu. Saat usaha sudah mulai dibuka dan dikembangkan, dia mendapat bantuan dari bank Rp 100 ribu.
‘’Waktu itu, dengan modal sebesar itu, membangun usaha rotan masi bisa berjalan. Saat itu bahan rotan sangat mudah didapatkan, permintaan pasar juga besar. Pembeli sangat menyukai produk berbahan rotan,’’ sambung bapak 3 orang anak tersebut.
Dalam menjalankan roda usahanya, Marto dibantu enam orang karyawan tetap dan enam orang karyawan lepas. Setiap karyawan, menangani kerajinan rotan berbeda-beda. Di bengkel Marto, ada sekitar 15 lebih produk kerajinan rotan  yang harus diproduksi.
‘’Setiap karyawan menangani satu jenis kerajinan ketika ada pesanan. Jika ada perubahan pesanan, karyawan juga bisa mengerjakan kerajian lainya. Pesanan selalu bervariatif tiap bulannya. Tergantung dari bulan,’’ lanjut pria 59 tahun tersebut.
Pengalaman Marto dalam mengembangakan usahanya sangat terjal. Dia pernah beberapa kali ditipu pemesan dari Bali, hingga menderita kerugian puluhan juga.
‘’Saya pernah ditipu pelanggan. Saat itu, saya mengirimkan beberapa box kerajinan pesanan orang Bali. Seminggu hingga dua minggu, pembeli tidak membayar. Saya juga pernah ditipu pekerja lepas  saya. Bahan sudah saya berikan dan mereka tinggal mengolahnya. Ternyata hasilnya olahannya dijual ke pedagang rotan lainya,’’ tuturnya.
Tapi yang paling memukul dan membuat usahanya hampir kolaps, ketika bencana lumpur Lapido terjadi di tahun 2004 lalu. Ketika itu, dia mengalami krisis pesanan dan kelangkahan bahan baku. Lumpur Lapindo menyebabkan pesanan turun drastic, hingga menyebabkan pabrik olahan rotan di Jawa Timur gulung tikar.
Akibatnya, pengrajin rotan di Balearjosari banyak merugi hingga akhirnya tutup. Termasuk saat itu juga Marto, karena dia juga mengambil rotan dari pabrik tersebut.
Namun bencana itu tak sampai membuat usaha dan semangat Marto redup. Semangat dan niatnya tetap survive walaupun pesanan menurun tajam.
‘’Ya, saya cukup terpukul atas bencana Lapindo. Bayangkan pesanan sudah siap, mendadak dibatalkan. Tapi disitulah akhirnya saya bisa melihat peluang untuk melempar kerajinan  saya ke daerah lain,’’ ungkap pria kelahiran tahun1953.
Dalam usahanya untuk terus bertahan dan berkembang di tengah kesulitan yang ada, Marto menanamkan sikap jujur kepada seluruh karyawan dan pelanggan. Marto juga tidak pernah melanggar negosiasi dengan penjual rotan maupun pemesan. Karena disitulah kuncinya usaha Marto dapat terus berkembang selain kerja keras dan kejelianya melihat pasar.
Berbagai daerah di Jawa Timur telah disinggahi oleh produk kerajinannya. Seperti Surabaya, Gresik, Mojokerto, Nganjuk, Kediri dan lainya. Produknya juga dikirim ke manca negara lewat Bali.
Kini, diawali dengan modal Rp 50 ribu, usahanya sudah mampu menghasilkan omzet hingga Rp 50 juta sebulan.
‘’Jika kita sudah ada niat dalam berbisnis, jangan setengah-setengah. Kuncinya hanya kerja keras dan terus usaha. Tidak ada yang lain. Tentunya jujur agar semua usaha kita mendapatkan ridho Allah,’’ ujarnya. (Idham B Sakti)