Imam Rossy, Pelukis Asli Kabupaten Malang yang Tetap Eksis

Memerlukan pengorbanan ekstra, ketika Imam Rossy, seorang pelukis dari Desa Curung Rejo Kepanjen, memutuskan jalan hidupnya menjadi perupa. Setiap hari,  harus berhubungan dengan kanvas serta cat warna tersebut. Meski untuk melukiskan kepuasan, sulit dengan kata-kata. Tapi hasil karyanya, banyak diakui masyarakat.

Sejak kecil, Imam Rossy merasa tertarik dengan hal berbau menggambar. Mulai di bangku SD, dia gemar memandang keindahan alam sekitarnya yang masih hijau dan asri. Menumpahkannya di atas kertas putih.
‘’Masih kecil waktu itu. Terlebih saya asli anak desa. Belum mengenal yang dinamakan kanvas, kuas, cat minyak. Orang tua saya, juga bukan perupa,’’ ujarnya ketika ditemui di studio lukis miliknya, di Curung Rejo Kepanjen.
Sebagai anak sekolah normal pada umumnya, Rossy, panggilan akrabnya, melihat masa kecilnya berjalan apa adanya. Hanya sekadar hobi, belum memikirkan kelak menjadi pelukis. Tapi begitu masuk SMA, dia yang acapkali diminta rekannya membantu mengerjakan tugas menggambar, seakan-akan mendapatkan pengakuan, mengenai kemampuan lebihnya di bidang seni.
Begitu lulus dari pendidikan SMA, dia memutuskan menggeluti sepenuh hati hobinya. Dia berkelana ke Jember sampai Banyuwangi. Untungnya orang tua menyetujui. Mereka menyadari, ada darah seni di dalam dirinya. ‘’Leluhur saya dulu, ada yang bekerja sebagai pembatik di Jogjakarta. Sepertinya menurun dari sana,’’ lanjutnya bercerita.
Saat ini, pria berusia 52 tahun tersebut tergabung dalam Komunitas Perupa Malang Selatan (Kopermas). Terdiri dari  perupa di Kabupaten Malang. Komunitas ini, merupakan wadah untuk bertukar cerita dan sering mengadakan pameran lukisan tingkat kabupaten. Ditambah mengikuti pameran tingkat Jawa Timur maupun nasional.
‘’Ini sebentar lagi juga bersiap mengikuti Pasar Seni dan Pameran se-Indonesia di Surabaya. Mulai Mei nanti,’’ ungkapnya dengan menunjukkan beberapa karya yang nantinya akan dibawa ke Surabaya.
Kedatangan Malang Post sendiri, menjadi kesempatan bagi bapak dua anak tersebut, untuk menunjukkan beberapa hasil karyanya. Termasuk beberapa karya anaknya. Tampaknya, sang anak sulung, Alfian, juga mengikuti jejak sang Ayah. Mempunyai perhatian lebih di bidang melukis.
‘’Alfian sering bekerja sama dengan saya. Di rumah ini, seperti terpampang di tulisan depan rumah, menerima pemesanan lukisan dan les privat melukis. Kalau saya sibuk ikut pameran, anak saya turun tangan. Begitu juga sebaliknya. Itulah enaknya punya anak yang sevisi,’’ papar Rossy sambil tersenyum.
Pelukis beraliran realisme itu menyebut, salah satu lukisannya, dikoleksi mantan menteri keuangan di jaman pemerintahan Presiden Soeharto. ‘’Lukisan saya juga pernah menarik perhatian Ali Wardhana, mantan menteri keuangan. Waktu itu sedang pameran di Ancol. Dia mengoleksi lukisannya,’’ ceritanya tanpa memberitahu harga jualnya waktu itu. ‘’Biar saya saja yang tahu,’’ katanya.
Suami dari Ema Suliani ini mengakui, meskipun sebagian besar lukisannya beraliran realis, terkadang dia juga melukis hal-hal yang sulit dipahami dengan kasat mata. Atau dengan bahasa seninya, impresionisme.
‘’Ini salah satu masterpiece saya,’’ sembari menunjukkan lukisan mengenai alam dan aliran air berukuran 2,5 x 1,5 meter dan dipajang di ruang tamunya.
Memang, terlihat susah dipahami. Tapi itu sisi menarik dalam sebuah karya lukisan. Malang Post merasa takjub ketika melihat karya dengan dominasi berwarna hijau gelap tersebut. Termasuk merasakan ‘nyawa’ pelukis tertanam ketika menumpahkan idenya ke dalam lukisan.
Dia mengakui, menjadi pelukis banyak tantangan. Selain kurang perhatian demi mempertahankan idealisme, juga tidak terhitung biaya pribadi yang harus dikucurkan.
‘’Ini namanya hobi. Jika ingin tersalurkan, berkorban banyak hal. Termasuk biaya yang harus keluar ketika melukis, mengikuti pameran di luar kota. Jarang ada yang membiayai, kecuali benar-benar diundang. Yang banyak, kocek pribadi lah. Tetapi gak masalah, supaya seni lukisan ini tidak hilang ditelan jaman dan Kabupaten Malang juga bangga memiliki pelukis. Untuk kualitas, orang lain yang bisa menilai,’’ pungkasnya. (Stenly Rehardson)