Yohan Handoyo, Eksekutif Muda Penggiat Disert with Wine

Jika orang mendengar anggur, atau bahasa kerennya wine, pasti langsung berkonotasi negative. Namun anggapan itu langsung sirna di tangan Yohan Handoyo. Dia ingin mengenalkan posisi wine, bukanlah minuman sembarangan.

Malam itu, profesional muda yang memiliki hobi traveling keliling Indonesia dan dunia, berada di Malang. Tepatnya di Hotel Tugu. Yohan Handoyo mencoba mensosialisasikan culture menegak wine di Kota Malang.
Anggur atau wine, merupakan minuman tradisional yang telah dikembangkan sejak beratus-ratus tahun lalu. Khususnya dari daratan Eropa.
Budaya menegak minuman hasil fermentasi buah anggur itu, berangsur-angsur merata dan mengglobal. Hingga masuk Asia Tenggara termasuk Indonesia.
‘’Wine itu sudah bisa diterima masyarakat kita. Namun masih diminum di kalangan dan tempat  tertentu. Saya ingin mengenalkan, wine itu minuman yang sangat pantas dikonsumsi di Indonesia. Dari kalangan manapun. Bukan hanya high class,’’ ujarnya saat berbincang dengan Malang Post.
Yohan menuturkan, perkembangan wine dari tahun-ketahun, semakin bisa diterima masyarakat. Banyak tempat, terutama café, resto dan hotel, menyuguhkan minuman beralkohol rendah tersebut.
Apalagi, perkebunan anggur yang cukup luas, tumbuh di Bali. Produksi wine, juga di Bali. Tapi penjualannya, tidak hanya level lokal, tapi sudah internasional.
‘’Kita ini sudah bisa memproduksi wine. Padahal secara iklim, tanah Indonesia tidak memungkinkan ditanami vitis vinifera (angur khusus wine, Red.). Namun kenyataanya, kita bisa memproduksi wine lokal yang nikmatnya nggak kalah dengan buatan Malaysia dan Singapore,’’ lanjut pria 38 tahun tersebut.
Berdasarkan jenis anggur, vitis vinifera hanya bisa dibudidayakan di daerah yang memiliki empat iklim. Vitis vinifera memiliki kandungan gula dan air yang tinggi. Berbeda anggur di Indonesia, yang tumbuh di dua iklim. Kandungan air sedikit, namun daging buahnya sangat tebal.
Wine didunia, kata Yohan, ada sekitar 11 ribu jenis. Yang layak dikonsumsi, baik wine merah atau putih, adalah wine yang memilki kadar alkohol 5,5 persen hingga 15 persen.
‘’Jika anggur dari Eropa, pasti menggunakan vitis vinifera. Proses fermentasinya sangat cepat, karena kandungan gula yang tinggi akan mempercepat perubahan ke alkohol. Tapi wine Indonesia tetap enak. Buktinya sudah diekspor ke banyak negara,’’ tandas pria kelahiran Surabaya tersebut.
Wine bisa membawa nama sebuah negara dikenal ke penjuru dunia. Tentunya memperkenalkan budaya dari sebuah negara, meskipun negara tersebut kurang maju.
Yohan melihat, mengapa makanan Malaysia, Thailand dan Vietnam bisa beredar di negara-negara dunia dan mendapatkan simpati dari warganya. Alasannya, karena resto-resto itu, selalu menyuguhkan makanan endemiknya dengan disert minum wine khas buatan negaranya msing-masing.
‘’Di Eropa, resto-resto Asia Tenggara ramai dikunjungi penduduk lokal. Itu karena ada wine-nya. Coba jika resto Indonesia di Eropa bisa mengkolaborasikan makan rawon atau soto dan setelahnya minum  wine Indonesia. Pasti resto Indonesia tak kalah ramai dengan resto Malaysia atau Vietnam,’’ tandasnya.
Karena wine juga, Yohan Handoyo yang seorang manager PT Dimatique Indonesia, dapat berkeliling banyak negara. Seperi Prancis, Italia, Belanda dan lainya untuk menegak minuman fermentasi tersebut.
Kini yang menjadi harapan dan tantangan Yohan, adalah bisa mengkombinasikan makanan asli Indonesia, dengan minuman wine lokal maupun interrnasional.
Tak heran kalau Yohan terus mensosialosasikan disert with wine agar masyarakat pribumi, bisa menjajal minuman fermentasi tersebut. Serta menikmatinya dengan kombinasi masakan asli Indonesia.
Yohan juga ingin terus mensosialisasikan wine kepada seluruh masyarakat Indonesia, wine buka minuman aneh dan asing. Tapi minuman tradisional yang telah mendunia termasuk di Malang. (Idham B Sakti)