Omah Sedekah, Komunitas Mahasiswa untuk Kaum Tak Punya

Jenuh hanya bisa duduk diam, ketika yang lain sibuk berbuat kebaikan, membuat sekelompok mahasiswa, membentuk Omah Sedekah (OS). Dimotori Dewi Fitria, mahasiswa semester akhir jurusan Sosiologi Universitas Brawijaya ini, ingin membantu sesama dengan cara yang sederhana.

Dari hal yang sangat sederhana, menjadi awal aktivitas Omah Sedekah (OS). Mengumpulkan barang bekas layak pakai. Selanjutnya dijual dan hasilnya disumbangkan. Sangat sederhana.
Mereka mengumpulkan barang bekas layak pakai, milik pribadi. Berlanjut pada beberapa teman mahasiswa, yang mereka kenal. Dari sana informasi semakin menyebar. Lambat laun, OS berhasil mengumpulkan banyak barang. Kemudian diseleksi, untuk menetapkan harga jual berdasarkan kelayakannya.
Seluruh uang yang terkumpul dari hasil penjualan, disumbangkan ke beberapa panti asuhan yang berada di Kota Malang.
‘’OS terbentuk sejak Ramadan tahun lalu. Saat itu, aku lihat banyak orang sibuk mengadakan acara sosial. Kenapa kita nggak? Dari sana aku kepikiran buat ngumpulin barang-barang bekas layak pakai, buat dijual lagi. Sempet mikir juga sih, laku nggak ya? Alhamdulillah ternyata banyak yang tertarik. Kami sampai menggelar tiga kali Garage Sale ketika Ramadan tahun lalu,’’ ungkap Dewi kepada Malang Post.
Gadis asal Sidoarjo ini mengungkapkan, sasaran pembeli baju ini, masyarakat ekonomi menengah ke bawah. Rata-rata yang datang dan memborong dagangan, mereka yang berusia 30 hingga 45 tahun.
‘’Kami menjual barang itu sangat murah. Hanya Rp 3 ribu. Termahal adalah Rp 25 ribu. Biasanya yang sedikit mahal adalah celana jeans yang kualitasnya masih bagus. Pembeli kita mayoritas petani, pedagang atau kuli bangunan. Ada juga beberapa pembeli mahasiswa. Sebelumnya kami memberi tahu, barang yang kami jajakan, adalah barang bekas. Ada yang tetap mau beli, ada juga yang memilih pergi,’’ kenangnya lantas tertawa.
Mereka memilih tempat yang strategis untuk menjual barang dagangan tersebut. Di alun-alun. Namun, setelah ada penertiban dan alun-alun bebas dari pedagang, mereka mulai melancarkan aksi lain. Dengan memperluas arena berjualan di daerah Batu pada saat berlangsungnya Festival Bunga lalu
‘’Dulu, menggelar dagangan di alun-alun, gampang. Kami pernah ngurus perizinan dan akhirnya sampai kenal sama petugas ketertiban yang ada di sana. Pernah juga sekali berjualan di sekitar alun-alun Batu. Tapi kalau di Batu, dagangannya kami gelar di mobil,’’ tandas bungsu dari lima bersaudara ini. Ketika di alun-alun terlarang, OS rencananya akan menjualnya langsung ke desa.
Pendekatan dengan masyarakat desa, dianggap sangat penting. Dewi berencana meneruskan proyek serupa. Kali ini sasarannya masyarakat desa yang diberi nama Omah Sinau Utami (OSU).
‘’Kami kerjasama dengan adminsitrasi Universitas Negeri Malang untuk mendirikan OSU di daerah Buring. Insya Allah jika tidak ada halangan, April depan program ini sudah dapat dijalankan,’’ jelas Dewi.
Sebelum OSU berjalan, OS terlebih dahulu berkenalan lebih jauh dengan masyarakat. Diharapkan ketika OSU berjalan, masyarakat sudah dapat berinteraksi dengan baik.
Kini keuntungan OS, tak hanya didonasikan untuk panti asuhan. Dewi dkk akan membenahi sistem baru. Mengalihkan keuntungan OS untuk membiayai proyek OSU.
‘’Jika sebelumnya kami fokus pada bantuan uang tunai, untuk panti asuhan yang bersifat jangka pendek, kini giliran kami belajar mengelola dana untuk kegiatan jangka panjang. Gedung sudah ada, namun kami masih butuh property lain, yang mendukung kegiatan belajar mengajar di sana,’’ papar gadis yang memiliki hobi di bidang sinematografi tersebut.
Anggota OS ini juga tak khawatir tentang buku-buku, yang nantinya digunakan untuk mengajar. Mulai anak-anak sampai ibu rumah tangga, yang tinggal di desa. Mereka menggandeng Barbook, kegiatan kemanusiaan lain, yang memberikan wadah untuk masyarakat di Malang, yang ingin berbagi maupun menukarkan buku miliknya dengan bacaan lain.
‘’Kebetulan yang mengelola Barbook adalah anggota OS. Jadi kami sudah memiliki bekal buku bacaan yang ditempatkan di OSU,’’ sebut dia lagi.
OS juga membuka kemungkinan untuk mahasiswa dan masyarakat umum, baik di Malang atau di luar Malang, untuk memberikan bantuan.
‘’Bisa berupa barang bekas layak pakai, maupun uang tunai. Seluruh bantuan, disumbangkan untuk yang membutuhkan. Kami tak berniat mengambil sepeserpun dari sana. Jika tertarik, silahkan menghubungi kami melalui Twitter @OSedekah,’’ tutupnya. (Kurniatul Hidayah)