Sempat Pimpin Fremantle Media, Kini Mengabdi di Dunia Pendidikan

SINGAPOREAN Lost In Ma Chung. Begitu title yang dipakai Jasmin Samat Simon dalam blognya. Kalimat ini seringkali dilontarkan Marketing and Communication Manager Universitas Ma Chung ini. Padahal sebelumnya, pria berkebangsaan Singapura ini, adalah General Manager Fremantle Media Singapura yang jaringannya se Asia. Dulu ia biasa pergi kebelahan dunia mana pun. Kini ia harus tinggal di kota kecil tempat kampus Ma Chung berada. Apakah ia benar-benar “Lost in Ma Chung”?

Sosoknya hangat dan ramah. Jasmin adalah orang pertama yang akan selalu ditemui, saat ada tamu yang hendak berkunjung ke kampus, yang berada di kawasan Puncak Tidar itu
. Jabatannya sebagai Marcom, menuntutnya untuk selalu menjalin komunikasi. Terutama mengenalkan kampus yang baru berusia 6 tahun itu.
Berada di kota kecil seperti Malang, membuat banyak kerabatnya bertanya-tanya. Untuk apa ia meninggalkan kesempatan berkeliling dunia, saat memimpin Fremantle Media untuk tinggal di Malang? Sebelum  bergabung dengan Ma Chung pada 2011, Jasmin memiliki banyak pengalaman internasional di bidang seni. Fremantle Media adalah salah satu dari produser program televisi terbesar di dunia. Produksinya mencakup serial drama, entertainment, dan program fakta entertainment di sekitar 43 negara di dunia. Beberapa program acaranya yang cukup booming di Indonesia seperti Indonesian Idol, Master Chef Indonesia, X Factor dan masih banyak lagi.
Jasmin menjabat sebagai General manager Fremantle Media Singapura pada Oktober  2001 sampai 2010. Setelah itu ia ditugaskan untuk berada di Indonesia. Pada saat itulah perkenalannya dengan Ma Chung dimulai.
‘’Sejak 2006 saya fokus di Indonesia. Beberapa kegiatan sering saya lakukan di Jakarta, Bali dan Malang,’’ ungkapnya.
Jasmin juga aktif bergabung dengan UNICEF yang mengurusi bidang pendidikan. Telah lama ia bekeliling dunia yang membuatnya tumbuh sebagai sosok yang berwawasan global.
Ia juga aktif dalam berbagai kegiatan sosial dengan keterlibatannya pada sebuah rumah singgah. Kegiatan lintas agama itu pula yang membuatnya menikmati hidup di Jakarta. Di rumah singgah yang dikelola organisasi Islam Muhammadiyah itu, ia banyak belajar mengenai kehidupan.
‘’Kegiatan lintas agama ini memberikan saya kedamaian total, dimana semua orang bisa saling menghormati walau berbeda agama. Tanpa harus merubah kepercayaannya,’’ urainya.
Berbagi dan bisa memberi melekat pada diri Jasmin. Ia ingin menjadi katalisator yang bisa membawa perubahan dimana pun ia berada. Namun sebagai katalisator, ia tak ikut berubah namun hanya memberi warna baru.
Malang baginya bukanlah kota yang menarik. Ia yang terbiasa hidup di kota besar, kini harus berada di Malang. Meski pun tempat tinggalnya saat ini adalah salah satu kawasan elit di Malang.
Kalau soal keindahan alam, Jasmin memang memberi acungan jempol. Bahkan dalam blognya, ia memotret bagaimana indahnya kawasan puncak Tidar dengan view gunung Semeru.
Namun tentu saja Malang yang kota kecil tak bisa dibandingkan dengan kota-kota besar yang pernah ia kunjungi di seluruh Asia. Hanya saja, ada beberapa hal yang akhirnya membuat Jasmin betah tinggal di Malang. Salah satunya adalah aktivitas sosial yang masih bisa ia lakukan hingga sekarang.
Termasuk lingkungan kerja di Ma Chung, yang membuatnya betah. Banyak hal baru yang didapatkannya. ‘’Prinsip saya seperti yang diajarkan ayah saya. Dimana pun harus bisa jadi katalisator. Malang harus berubah dan saya siap menjadi sumber perubahan itu,’’ harapnya. (lailatul rosida)