Melihat Saat-saat Sibuk Staf dan Komisioner KPU Jelang Pilwali

Hari-hari ini, adalah hari sibuk KPU Kota Malang. Staf dan komisioner lembaga penyelenggara pemilu itu, harus bekerja ekstra tanpa jam kerja. Dari kerja administrasi sampai membersihkan halaman kantor, harus dikerjakan sendiri ditengah ramainya kantor KPU dibanjiri  pendukung calon wali kota dan wawali Kota Malang yang mendaftar  pada 18-24 Februari.

Begitu ratusan warga, meninggalkan ruang pendaftaran calon wali kota dan wawali, empat staf KPU langsung bergegas. Sapu lantai, susun kursi, merapikan meja dan check pengeras suara. Staf lainnya cepat-cepat membersihkan halaman depan kantor. Mereka harus menuntaskan pekerjaan dengan cepat. Tak kurang dari 15 menit, ruang pendaftaran sudah rapi dan segar lagi.
Ya,  kerja keroyokan lintas bidang kerja itu, sudah jadi suasana kerja di KPU. Mereka tak memandang status dan jabatan. Semuanya harus jadi orang serba bisa alias oserba. Kerja administrasi maupun ‘kerja kasar’.
Widya Anggreani, staf sekretariat KPU misalnya. Mulai dari kerja administrasi seperti urusan  pajak, periksa berkas calon wali kota dan wawali, hingga bikin kopi, adalah hal yang biasa. ‘’Semua pekerjaan menyenangkan. Disini sudah terbiasa bekerja apa saja,’’ ucap staf sekretariat KPU ini.
Sarjana ekonomi lulusan sebuah perguruan tinggi swasta ini mengaku sangat enjoy. Setidaknya, ia telah terlatih untuk bekerja apapun dengan ritme kerja tinggi, sejak bekerja di KPU mulai tahun 2007 lalu.
Begitu juga dialami Sumantri. PNS Pemkot Malang yang ditugaskan di sekretariat KPU sejak 10 tahun lalu ini, juga bekerja tanpa dibatasi bidang kerja. Padahal PNS golongan III D ini adalah pejabat di KPU. Sehari-hari, Sumantri menjabat sebagai Kepala Sub Bagian (Kasubag) Umum .
‘’Disini kasubag juga bekerja lintas bidang. Kerja fisik pun bisa dilakukan. Ya nggak apa-apa,’’ katanya. Pria yang akrab disapa Pak Man ini juga memiliki tugas lain, selain harus bekerja sesuai job kasubag umum.
Sapu taman dan membakar sampah di halaman kantor KPU, adalah pekerjaan tambahan yang biasa dilakoni Pak Man. Karena itu, jangan kaget jika pagi sampai siang, melihat Sumantri dibelakang meja, lalu sore harinya dia membersihkan dan merawat taman.
Tidak hanya itu saja, dia juga terbiasa memasang kotak suara dan bilik suara, yang sebentar lagi didistribusikan ke berbagai wilayah di kota pendidikan ini.  ‘’Nanti pasang kotak suara dan bilik suara. Mur nya sudah siap, ya kita kerjakan bersama,’’ terang mantan Kasi Pemerintahan Kecamatan Blimbing ini.
Ketua KPU Kota Malang, Hendry ST MT mengatakan, saat ini sekretariat KPU didukung oleh 25 staf. Mereka berstatus PNS dan ada juga pegawai honorer. Sejauh ini, kata dia, 25 staf itu selalu melancarkan tugas-tugas KPU.
Hendry mengakui, karyawan KPU bisa bekerja apa saja. Selama ini lancar-lancar saja pekerjaan yang harus dituntaskan. ‘’Disini bekerja bukan hitungan kuantitatif, tetapi sudah ada pembagian tugas yang efektif,’’ kata dia.
Masa pendafatarn calon wali kota dan wawali,  menurut Hendry, memang membutuhkan kerja serius. Staf dan komisioner harus selalu standy by dan bekerja seakan tanpa batas waktu.  
Apalagi tugas KPU seperti yang diatur dalam UU 15 tahun 2012 tentang penyelenggar pemilu, menyebutkan bahwa KPU bekerja sepenuh waktu. ‘’Artinya sejak awal, pola pikir staf dan komisioner KPU harus siap bekerja kapan pun. Ini sudah dipahami bersama,’’ kata dia.
Alumnus Fakultas Teknik Unisma ini mengatakan, KPU memang tidak memiliki jam kerja. Dia lantas mencontohkan selama masa pendaftaran, calon wali kota dan wawali boleh mendaftar kapan pun sesuai jadwal yang sudah diumumkan KPU.
‘’Jadi bisa daftar pada siang maupun malam. Karena itu, jika ada calon yang akan mendaftar, maka kami pasti menunggu di kantor,’’ kata dia. Karena itulah, manajemen yang diberlakukan cenderung fleksible.
‘’Misalnya jam 16.00 WIB bisa pulang ke rumah. Tapi kalau ada calon yang akan mendaftar,  dengan sendirinya kembali ke kantor,’’ sambungnya sembari menambahkan di KPU juga menerapkan sistem piket.
Seperti dikatakan Widya dan Sumantri, staf KPU memang bisa bekerja apa saja. Bahkan sapu lantai itu sudah biasa. Menurut Hendry, KPU tidak memiliki tenaga cleaning service. Mereka tak merekrut cleaning service karena keterbatasan anggaran. Karena itulah, pekerjaan yang mestinya menjadi tugas cleaning service biasanya ditangani pegawai KPU.
Pekerjaan-pekerjaan berat pun bisa dilakukan staf. Ia lantas mencontohkan verifikasi berkas calon wali kota yang berjumlah ribuan pun bisa dilakukan dengan ekstra hati-hati dan teliti.
Bekerja lintas tugas dengan intensitas tinggi ternyata tidak mengundang masalah. Hendry mengatakan selama ini suasana kerja di KPU menyenangkan.
‘’Karena pola relasi yang sudah lama  terbangun dengan bangunannya bukan sebatas kerja tetapi menjalin persaudaraan,’’ kata penulis buku Pemilu & Kisah Perjalanan 2 Roh ini. (vandi van battu)