Tak Kerasan di Belgia, Pemain Suka Blok-blokan

NYAMAN DI AREMA : Yandi Sofyan mengaku nyaman di Arema karena tidak ada senior jahat yang suka menjatuhkan mental.

Cerita Seputar Hengkangnya Yandi Sofyan dari CS Vise
SOSOK Yandi Sofyan Munawar telah menarik perhatian insan sepakbola Malang Raya yang terus mengikuti perkembangan berita Arema Indonesia. Adik Zaenal Arif, striker senior yang kini merumput bersama Persepam Madura United itu pun secara eksklusif bercerita pada Malang Post, bahwa ada banyak alasan kepergiannya dari CS Vise, klub divisi II Belgia yang dibelanya selama 18 bulan itu.

Suasana mess pemain Arema Indonesia Jalan Welirang sedang sepi, siang kemarin (21/2). Usai latihan di lapangan luar kompleks Stadion Gajayana Malang, para pemain yang sempat mampir di mess milik Universitas Merdeka untuk ambil barang-barang pribadi itu kembali ke kediaman masing-masing.
Halaman depan mess yang tadinya penuh mobil pun langsung sepi setelah latihan usai. Hanya ada beberapa pemain yang tinggal di dalam mess. Misalnya striker muda Irsyad Maulana, bek garang pujaan Aremania, Munhar serta Yandi Sofyan, pemain PT Cronous yang sempat membela CS Vise selama 18 bulan sebelum merumput di Arema.
Yandi tampak duduk sendirian di meja makan, menikmati nasi padang buatan penjaga mess yang bertugas ngopeni para punggawa Singo Edan. Dengan santai, pemain berusia 20 tahun, kelahiran 25 Mei 1992 ini bersantap siang. Malang Post pun menghampiri Yandi untuk sekadar ngobrol santai.
Namun, dari bibir pemain kelahiran Garut itu, banyak cerita-cerita menarik yang tergali selama dia belajar sepakbola di CS Vise Belgia dan SAD Indonesia di Uruguay.
Cerita pertama adalah soal kepergiannya dari tim divisi II liga Belgia. Menurut Yandi, selain ingin merasakan aroma persepakbolaan Indonesia, ia pergi dari Belgia karena situasi CS Vise yang tak kondusif.
“Para pemain yang asli sana suka menjatuhkan mental pemain seperti saya. Kalau kita bikin kesalahan atau error, mental kita dijatuhkan, bukan oleh pelatih, tapi oleh pemain itu sendiri. Hal ini yang tak saya rasakan di Arema, para senior disini konstruktif,” ujar Yandi kepada Malang Post kemarin.
Bukan hanya soal urusan menjatuhkan mental saja yang membebani pemain bertinggi 174 cm ini. Kondisi teamwork dan kedekatan dalam tim tidak terjalin. Yandi merasakan, para pemain CS Vise seperti blok-blokan dan saling pilih-pilih teman, sehingga internal tim seperti terpecah
“Jujur saja, saya 18 bulan di Belgia tak kerasan. Karena anggota tim rasanya seperti blok-blokan, pemain saling pilih-pilih teman. Rasanya tidak enak, tim tidak kondusif. Parahnya, blok-blokan itu juga terjadi saat di lapangan, bisa dibayangkan mainnya,” tandas striker yang diakui punya power dalam shootingnya tersebut
Menurutnya, teamwork dan kerjasama sama sekali tak terjalin di dalam internal tim CS Vise. Karena itu, Yandi cukup yakin posisi CS Vise sekarang sedang diambang degradasi akibat perpecahan dan tak kompaknya teamwork para pemain. Ia tidak melihat hal ini di Arema.
Para senior dan pemain yang ada di Arema setidaknya bersikap profesional dan mampu menjaga teamwork ketika menjalankan instruksi pelatih di lapangan. “Rasanya saya akan kerasan di Arema,” tuturnya. Selain CS Vise, Yandi juga pernah merasakan atmosfer sepakbola Amerika Latin saat berkostum SAD Indonesia.
Menurutnya, kultur sepakbola Uruguay mirip dengan gaya sepakbola Malangan, yang pantang menyerah, tak mau kalah, keras dan lugas. Berbeda dengan dirinya yang memiliki karakter kalem dan adem ketika di lapangan, sepakbola Uruguay sangat cocok untuk kompatriotnya Yericho Christiantoko yang asli Malang.
“Uruguay sebenarnya cocok untuk Jerry. Untuk diketahui, Jerry tipe tak mau kalah. Di SAD, dia adalah pemegang rekor kartu merah terbanyak dalam satu tahun, yakni lima kartu merah,” papar Yandi. Meskipun demikian, eks pemain timnas U-19 ini tetap yakin Arema adalah klub yang bakal mengasah kemampuannya di sepakbola Indonesia.
Sebab, di Arema ada senior-senior yang bakal memberinya banyak ilmu untuk tetap eksis di dunia sepakbola tanah air. Sayang, Aremania belum bisa melihat canon ball milik Yandi selama separuh musim pertama.
Dengan masa pendaftaran pemain yang sudah berakhir Januari lalu, pemain yang juga sempat terdaftar di timnas U-17 ini setidaknya bisa merasakan atmosfer ISL saat putaran dua.
Namun demikian, Rahmad Darmawan (RD) menilai, Yandi akan diproyeksikan untuk timnas U-23. “Yandi gabung dengan kita, akan kita maksimalkan potensinya, jujur Yandi intinya ditargetkan bisa terpanggil di timnas U-23, mudah-mudahan siapapun pelatih U-23 nanti, kehadiran Yandi bisa meramaikan persaingan di timnas,” pungkas RD.(fino yudistira)