Moehammad Sinwan, Guru SMAN 9 yang Pemain Teater dan Film

Teater dan film, dua hal yang melebur dalam diri Moehammad Sinwan SPd. Mimpi masa kecilnya, menjadi seorang bintang film, berhasil ia wujudkan, walau harus melewati proses selama puluhan tahun. Dua judul FTV, ia bintangi dengan artis ternama. Nirina Zubir, Vino G. Bastian dan Marsha Timothy. Meski demikian, Sinwan tetap menjadi guru di SMAN 9 Malang.

Seorang pria, keluar dari gerbang SMAN 9 Malang dan menyambut kedatangan Malang Post dengan ramah. Sejurus kemudian, ia mempersilahkan Malang Post masuk area sekolah dan mengantarkan ke sebuah ruangan.
Di ruangan itu, perbincangan tentang banyak hal, dimulai. Cerita masa kecil, perjuangan, prestasi, serta kesibukkan yang sedang ia kerjakan. Ia tampak bersemangat dan menggebu-gebu ketika Malang Post menyinggung tentang Teater dan Film yang selama ini ia geluti.
‘’Dari kecil, saya sudah tertarik dengan drama. Saya biasa melihat drama di televisi serta pementasan drama yang ada di sekolah-sekolah. Idola saya saat itu, Chicha Koeswoyo dan Adi bing Slamet. Sejak saat itu, terbesit dalam pikiran saya, kelak saya akan jadi bintang film saja,’’ serunya dengan antusias menceritakan pengalaman masa kecilnya yang indah tersebut.
Pria kelahiran Bojonegoro 47 tahun yang lalu ini, tak hanya menjadi penonton. Ia pandai menggalang massa. Baik teman sebaya maupun yang usianya jauh di atasnya untuk merealisasikan keinginannya bermain drama.
Tak peduli dengan keterbatasan tempat, ia memilih spot yang dilengkapi jendela rumah dan gorden sebagai pentasnya. Selain ada pemain, beberapa warga di desanya menyaksikan aksi ‘gila’ tersebut melalui kaca jendela.
‘’Saya dan beberapa tetangga teriak-teriak seolah kami adalah pemain teater profesional. Ada banyak warga yang berkumpul di sana untuk menyaksikan kami. Saya tinggal bersama mbah di sana. Bukan hal yang baru lagi kalau saya bikin keributan di kampung, sudah sering. Saya sangat bersyukur karena beliau tidak melarang saya menumpahkan kreativitas tersebut. Alhasil, sekarang saya bisa lebih mengekspresikan banyak ide yang ada di kepala ini,’’ terangnya kepada Malang Post.
Sulung dari sepuluh bersaudara ini akhirnya meyakini jika darah seni kedua orang tuanya yang merupakan pemain orkes melayu mengalir dalam darahnya. Ia menyebut seni peran sebagai panggilan jiwanya. Hingga ketika lulus SMP, ia merantau ke Kota Malang. Tak butuh waktu lama untuknya beradaptasi dengan Kota Apel ini, alumni SMAN 4 Malang ini mendirikan kelompok Teater yang bernama Teater Idea.
‘’Awalnya sekolah belum punya ekstrakurikuler teater. Saya menggagas ide tersebut dan direalisikan dengan teman yang lain. Ketika lulus sekolah pun, Teater Idea masih saya pegang. Hingga akhirnya kami memutuskan untuk melebarkan sayap dan menerima anggota dari luar sekolah. Kami mengubah namanya menjadi Teater Ideot. Perjuangan kami dimulai sejak saat itu. Mulai dari tempat yang masih berpindah-pindah, konflik internal, pendanaan, dan sebagainya,’’ tandas Sinwan.
Segala persoalan tersebut tak lantas membuatnya patah arang. Jebolan Pendidikan Bahasa dan Sastra IKIP Malang (UM) ini justru semakin giat menunjukkan eksistensinya berasama Teater Ideot. Hingga pada tahun 2007 ia diajak salah satu rekannya untuk berpartisipasi dalam proyek pemberdayaan perempuan di Lombok Barat.
‘’Saat itu kami mengadakan workshop selama tiga hari di sana. Lalu tiba-tiba saya diberitahu ketika selesai workshop harus ada pementasan dari siswa. Betapa kagetnya saya, total siswa di sana ada seratus lebih. Akhirnya saya tawarkan bagaimana kalau membuat film pendek saja. Mereka menyetujui dan saya bentuk mereka dalam kelompok kecil. Idenya cepat, spontan dan tidak ada proses editing. Murni dari pengambilan gambar saat itu saja karena kami tidak punya banyak waktu,’’ kenangnya.
Kemudian film yang selesai dengan keterbatasan waktu dan hanya bermodalkan handycam itu, dipertontonkan di hadapan masyarakat di sana. Karena belum sempat melalui proses editing, akhirnya Sinwan menggunakan ide cemerlang yang lain.
‘’Jadi saya putar film tersebut dan di sisi lain yang mencoba memutar musik lewat player. Saya lakukan secara manual. Namun cukup besar dampaknya, mereka terkejut dan nggak menyangka hasilnya bakal sehebat itu,’’ bebernya lantas tersenyum.
Tepuk tangan yang meriah dari luar pulau tersebut terdengar juga oleh beberapa Production Home (PH) yang biasa memproduksi FTV. Tawaran casting dilayangkan kepada Sinwan. Bukan figuran, ia mendapatkan pemeran penting dalam film tersebut.
‘’Dua kali FTV yang mengambil lokasi di Bromo, saya berperan sebagai bapaknya. FTV pertama saya jadi bapaknya Nirina Zubir, lalu FTV kedua berperan sebagai bapaknya Marsha Timothy,’’ ungkapnya.
Walau usianya tak lagi muda, namun impiannya untuk menjadi bintang fim dan seniman perlahan mulai terwujud. Bahkan darah seni ini ia wariskan kepada anak sulungnya yang sedang mengenyam pendidikan di Institut Kesenian Jakarta (IKJ).
‘’Saya tidak menuntut anak saya untuk menjadi seperti saya. Terserah mereka mau jadi apa kelak. Tapi saya melihat keinginan dan potensi anak pertama saya ini. Dia memiliki gairah di film. Saya menyekolahkan dia di sana (IKJ), seolah-olah saya juga kuliah di sana. Setiap kali dia datang, dia selalu membagi ilmunya dengan saya. Kami juga sering berdiskusi tentang film,’’ ungkapnya.
Tak ada kata terlambat untuk mewujudkan mimpi masa kecilnya tersebut. Namun demikian, ia tetap menjalankan pola piker idealis dan realistis. Sinwan juga tak lupa dengan tugas dan tanggungjawabnya sebagai pegawai negeri di sekolah tersebut.
‘’Ada banyak proyek lain yang akan saya jalankan. Salah satunya dengan menggandeng TV lokal untuk menayangkan film lokal yang akan dibintangi oleh warga sekitar, tanpa campur tangan pemain ibu kota tentunya. Saya ingin menjadikan para penonton film juga merasakan bagaimana jika ia membintangi filmnya sendiri,’’ tutupnya. (Kurniatul Hidayah)