Menjual Potensi Jatim di Swiss, Negeri Para Miliader Dunia (1)

MELIMPAHNYA   aneka limbah di Malang Raya, diam-diam menjadi perhitungan bisnis bagi investor asal Swiss. Termasuk juga limbah B3 pabrikan dan rumah sakit. Berikut catatan wartawan MALANG POST  Hary Santoso saat diundang makan malam oleh Djoko Susilo, Duta Besar RI di Basel, Swiss.

``Wah, pas sampean datang ke sini (Swiss) sekarang. Karena Malang kita jadikan sasaran industri echo green pertama di Indonesia,“ ucap Djoko mengawali pembicaraannya di RM Sukhoi Thai di kota Basel Swiss, Kamis malam (Jumat dinihari WIB).
Djoko, lelaki kelahiran Boyolali ini, kemudian menggambarkan secara singkat soal ketertarikan investor asal Bern, Swiss terhadap potensi Jatim, khususnya, Malang Raya. Bahkan, ketertarikan itu tidak hanya sebatas rencana saja. Melainkan telah siap go jika Pemprov Jatim dan Pemda se Malang Raya siap menerimanya.
``Investasi awalnya sekitar Rp 500 miliar. Tetapi, jika bahan baku dan lahannya di Malang tersedia lebih, bisa saja dikembangkan sampai Rp 1 triliun. Dan investornya tanggal 27 Pebruari nanti saya pertemukan dengan Pakde Karwo (Gubernur Jatim) di sini (Basel),“ ujar Djoko bersemangat.
Sinergy Concep AG, Swiss adalah salah satu diantara perusahaan yang bergerak di bidang teknologi bahan bakar. Berbeda dengan perusahaan lainnya, Sinergy Concep AG mengubah aneka bahan baku limbah menjadi bahan bakar ramah lingkungan (echo-green). Hasil olahan bakar itu sangat dibutuhkan Swiss, sebagai satu diantara dua negara tempat para miliader dunia menempatkan hartanya.
Tidak hanya limbah perkotaan, tepi segala jenis limbah termasuk limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) bisa dimanfaatkan sebagai bahan baku. ``Bayangkan, limbah dari rumah sakit yang  sangat berbahaya itu sebentar lagi ada solusinya. Tidak hanya rumah sakit di Malang, tetapi limbah B3 rumah sakit milik Pemprov yang lain juga bisa diserap pabrik ini,“ paparnya.
Djoko juga menyebutkan, selain limbah perkotaan dan limbah B3, bisa juga menggunakan bahan baku tumbuhan, yaitu pohon jarak. Pohon jenis ini, sesuai data yang diberikan Pemprov Jatim banyak terdapat di kawasan Malang Selatan.
``Secara teknis,saya belum tahu persis berapa kekuatan produksinya. Tetapi, jika melihat investasi yang ditanamkan tentu ini menyerap tenaga kerja cukup banyak. Secara tidak langsung petani pun bisa ikut merasakan. Karena pabrik ini butuh pohon jarak cukup banyak dan berkelanjutan,“ harapnya.
Terkait bentuk investasinya, Sinergy Concep AG telah menyiapkan modal kerja pendirian pabrik sedikitnya 85 persen dari investasi yang dibutuhkan dikisaran 380.000 Euro atau  sekitar Rp 500 miliar. Investasi 15 persen sisanya diberikan pada pihak Jatim, termasuk didalamnya tiga pemerintah di Malang Raya.
Bisa saja, investasi dari pihak Jatim diwujudkan dalam bentuk pengadaan lahan dan bahan baku untuk produksi. Karena seluruh mesin dan teknologinya akan didatangkan langsung dari Swiss. Sekaligus teknologi pengolahan limbah pertama di Indonesia.
``Karena ini, investasi bahan bakar terbarukan, saya yakin sangat menarik. Dan kenapa tidak saya tawarkan ke daerah lain di Indonesia, karena pemprov Jatim sering komunikasi dengan kita di Swiss. Dan Pemprov menawarkan potensi Malang Raya,“ ujar Duta Besar berkaca minus ini dengan menyebutkan potensi yang dimiliki Malang Raya.
Jika tidak ada halangan, usai pertemuan Sinergy Concep AG dengan Pemprov Jatim, 27 Pebruari, Djoko segera akan investor Swiss mengunjungi Jatim. Meski secara fisik Sinergy Concep AG belum mengenal Jatim, tetapi masukan dan informasi yang diberikan pihak kedubes dinilai positif sekali. (bersambung)