Pelukis yang Melindungi Bukit Klemuk Batu dengan Sabuk Tanaman

ALI Muslich, dulu lebih dikenal dengan Ali Gimbal. Namun pelukis yang tinggal di Dusun Sebaluh Desa Pandesari Kecamatan Pujon Kabupaten Malang itu, kini tidak gimbal lagi. Rambutnya sudah dipotong. Meski begitu, konsistensi pendidikan kepada anak-anak hingga ide-ide 'gila' tetap ada padanya.

Rumah itu, tidak terlalu besar. Nyaris tertutup dengan pepohonan dan aneka tanaman perdu lainya. Tidak seberapa jauh dari Jalan Raya Pandesari. Penghubung Kota Malang dan Kediri. Bagian depan rumah, bawah rindangnya tanaman, bisa digunakan sebagai tempat semedi.
‘’Teman-teman dari Jakarta, Surabaya, Jogja atau darimana saja, kalau ingin santai menenangkan diri, biasanya memilih tempat itu,’’ ungkap Ali Muslich, kemarin.
Di bagian dalam rumah, ratusan jenis buku, aneka patung dari kayu hingga uang kuno, tertata rapi. Dinding tembok, sudah tidak terlihat cat mulus, namun terlihat aneka lukisan menempel.
Ya, rumah tersebut, sekaligus sanggar Komunitas Bale Gunung Kawitan. Sanggar itu fokus untuk pendidikan kreatifitas anak-anak. Ali memiliki komunitas sekitar 600 anak. Mulai dari Batu, Pujon, Ngantang dan beberapa kota lain.
Ide paling gress dari Ali 'Gimbal' adalah nyabuki (membuat sabuk) Gunung atau Bukit Klemuk. Hanya saja, sabuk yang digunakan pada Bukit Klemuk bukan berasal dari kulit, melainkan tanaman. Yang digunakan, daun merah dan karet. Daun merah memiliki ciri khas seperti daun bayam, namun warnanya merah.
Ribuan bibit daun merah dan karet, dibutuhkan untuk nyabuki Bukit Klemuk. Daun merah tersebut, mulai ditanam Minggu (24/2) kemarin. Lokasi penanaman tidak sembarangan, melainkan diletakan diantara bahu jalan dan kawasan hutan. Pembuatan sabuk bukit klemuk tersebut, juga mendapat dukungan dari beberapa instansi seperti PCNU Kota Batu dan Walhi.
Pembuatan sabuk tersebut bertujuan mempercantik wajah atau jalur wisata ke Kota Batu. Itu karena jalur bukit klemuk menjadi jalur alternatif wisata selain Jalan Raya Payung. Daun merah yang ditanam itu, kelak akan kelihatan indah melingkari bukit klemuk. Karena warnanya yang menyolok, sehingga akan terlihat seperti sabuk.
‘’Untuk menjadi indah dan terlihat seperti sabuk, tanaman harus dirawat. Ketika sudah tumbuh subur, tanaman harus dipotong rapi sehingga benar-benar seperti sabuk,’’ tegas Ali.
Apakah lokasi lain tidak disabuki ? Menurutnya, dia bersama komunitas anak-anak sudah membuat sabuk di kawasan payung hingga hutan di daerah Coban Rondo. Hanya saja tanaman untuk membuat sabuk bukan daun merah melainkan tanaman lain.
‘’Lokasi lain bisa tanaman pinus atau tanaman tegakan karena berguna untuk menahan longsor,’’ kata pria yang pernah menjadi mahasiswa UGM Jogjakarta ini.
Dia menjelaskan, penghijauan seperti sebagian pendidikan kepada anak-anak untuk mencintai lingkungan. Lingkungan atau kawasan hutan tidak boleh rusak. Jika mengalami kerusakan maka anak-anak yang akan menerima efek negatif paling besar.
‘’Pendidikan dan langsung praktek menanam, pasti akan lebih pas untuk anak-anak. Setidaknya, mereka pasti memiliki keinginan selamanya untuk merawat lingkungan,’’ tambah Ali.
Dia juga menjelaskan, anak-anak tidak merasa capek ketika harus melakukan penanaman. Sewaktu menanam di kawasan Coban Rondo, mereka terlebih dahulu berjalan sekitar lima kilometer. ‘’Anak-anak tidak merasa capek karena suasana yang menyenangkan,’’ pungkas dia. (febri setyawan)