Tetap Pakai PDL Khas TNI, Gowes Sehat Tanpa Voorijder

KOMUNITAS, sudah jamak muncul di masyarakat Malang, dengan latar belakang hobi yang sama. Lantas bagaimana jika komunitas itu isinya adalah seluruh perwira menengah (Pamen) dari berbagai kesatuan TNI- AD di Malang Raya?

Minggu pagi (24/2), sekitar 130 pamen sedang melakukan apel di lapangan Rampal. Berseragam doreng khas PDL TNI-AD. Bersepatu lars dan menggunakan topi gunung. Di samping barisan mereka, terpakir berderet sepeda, yang dijadikan kendaraan pengganti truk ataupun bus militer.
Sebuah peta rute, dengan titik pemberangkatan dan kepulangan di lapangan Rampal, terbentang di depan barisan pamen. Seorang perwira sedang, menjelaskan peta rute gowes dengan jarak sekitar 22 km pada keadaan sebenarnya.
‘’Komunitas pamen kali ini tantangannya adalah gowes sepanjang 22 km, dengan berhenti di empat pos tantangan. Pos pertama adu bagian rege di GOR Ken Arok, pos ke dua menyambung peta milliter di Lapangan Sampo Sukun. Pos ke 3 sepeda zig-zag di depan Museum Brawijaya dan pos ke 4 tembak balon dengan senapan angin di Senaputra,’’ jelas Danrem 083 Baladhika Jaya Kol Arm M Nakir di depan seluruh pamen.
Walhasil, pamen dengan pangkat Mayor, Letkol dan Kolonel berlomba mengayuh sepeda, dalam kelompok berisi masing-masing 10 orang.
Di sepanjang jalan, kelompok bersepeda tersebut berbaris rapi dalam kelompok. Tak terdengar bising sirine voorijder yang sering muncul mengawal barisan khusus. Pengguna jalan yang lain, juga tampak tak terganggu dengan gowes ala militer tersebut.
Tentang keamanan di jalan, Danrem empat berpesan dengan bijak pada seluruh pamen anggota komunitas. ‘’Ingat, kita melewati jalan yang begitu ramai. Tidak ada yang memperingatkan keamanan selain kita sendiri. Kita tidak menuntut kecepatan, jika terkendala lalu lintas lebih baik berhenti. Jika crowded lebih baik jalan bersama dengan sepeda. Jika perlu kita panggul sepedanya,’’ ujar Danrem yang segera mengahiri masa tugasnya karena hendak menempuh tugas belajar di Jakarta itu.
Tampaknya, kedisiplinan pamen di jalan raya, patut diacungi jempol. Ketika melintas di Jalan Mayjen Wiyono yang terlihat ramai di Minggu pagi itu, barisan pamen tetap melaju teratur dalam kelompok masing-masing.
Pamen dengan usia rata-rata diatas 40 tahun itu, terlihat gesit saat mengolah kemudi sepeda dalam pos tantangan sepeda zig-zag. Dengan track sepanjang 100 meter, pamen wajib mengulang kembali jika kaki mereka terpaksa menyentuh tanah akibat kehilangan keseimbangan.
‘’Wah pokoknya belum pernah seperti ini. Bersepeda di jalan ramai-ramai tidak tergantikan rasanya,’’ kata seorang pamen wanita usai melalui pos ke 3, sepeda zig-zag di depan Museum Brawijaya.
Dalam gowes ala pamen, selain menjaga stamina, anggota pamen juga wajib mengenali setiap rambu lalu-lintas, mengendalikan diri dalam berkendala serta menjaga keamanan diri sekaligus orang lain. Pesan itu juga disampaikan jelas oleh Dandim 0833 V /Brawijaya Letkol Inf. Gunawan Wijaya, yang juga menjadi salah satu peserta gowes.  
‘’Saling menghargai pengguna jalan dan ketangkasan bersepeda serta kontrol diri saat dijalan. Ujian di pos 3, mirip seperti ujian mencari SIM untuk motor. Pengendara sepeda harus bisa mengendalikan sepedanya dengan baik,’’ imbuhnya.
Berikutnya, komunitas yang baru berusia dua bulan ini, bertekad untuk memaksimalkan kegiatan komunitas setiap bulannya. Ada banyak cara untuk menggenapi kegiatan dalam komunitas yang juga berisi berbagai materi peningkatan kemampuan tersebut.
Mulai dari menjelajah Pulau Sempu, pergi ke titik nol Sungai Brantas, outbond di perkebunan teh Lawang, atau bahkan cukup memaksimalkan fasilitas di sekitar lapangan Rampal.
‘’Saya berharap acara kumpul komunitas ini bisa dipertahankan oleh penerus saya berikutnya. Manfaatnya selain sebagai ajang silaturahmi, juga bisa digunakan dengan meningkatkan kemampuan dengan berbagai materi. Kegiatan bisa diluar, bisa juga di Rampal. Jika sedang diluar, janganlah menggunakan kendaraan sendiri-sendiri, karena intinya adalah pada kebersamaan itu,’’ tandas Danrem di ujung perjumpaan komunitas pamen Minggu lalu. (Dyah Ayu Pitaloka)