Mantan Ballboys Arema yang Kini Relawan Tangguh Bencana

Mungkin tak banyak yang mengenal sosok Ali Ustman. Dia adalah relawan tangguh dan bertanggung jawab, milik Pemkab Malang. Pemuda asal Poncokusumo ini, tergabung dalam tim Tagana Kabupaten Malang. Di sisi lain, Ali sangat kental dengan skuad kebanggaan Aremania, Arema Indonesia. Berikut kisah jebolan SMP Negeri Tumpang ini.

Di jajaran Manajemen Arema, nama Ali memang sudah tidak asing lagi di telinga. Dia sebelumnya menjadi salah satu supporting team, dari skuad ‘Singo Edan’. Sebagai ballboys, dia tekun, rajin dan bertanggung jawab ketika menjalankan tugasnya.
Sifat tersebut tak hanya dibuktikannya saat menyiapkan keperluan latihan tim saat latihan dan bermain, melainkan juga menyangkut kebutuhan di luar sepakbola.
Ali tercatat masuk di tim Arema di era Ligina. Tepatnya pada 14 Januari 2000, silam. Kala itu, Singo Edan berada dalam masa transisi dari pelatih M Basri ke Daniel Rukito, dengan Jaya Hartono sebagai asisten pelatih.
Pada era itu, penggawa Arema diantaranya adalah Charis Julianto dkk yang sukses hingga melaju ke babak Delapan Besar di Gelora Bung Karno, Senayan-Jakarta.
Suka duka dimiliki Ali selama gabung Arema. Sukanya, diawal gabung tim, dia tidak menyangka bisa bersama pemain winger idolanya tahun 90-an, yakni Jaya Hartono.
Dukanya, dia juga melintasi musim pasang surut Singo Edan. Tak terkecuali masalah klasik, krisis finansial. Bahkan di tahun pertama gabung, dia harus merasakan Arema kandas di Senayan usai kalah dari Pelita Solo akibat gol bunuh diri stopper kawakan, Sunardi C.  
Disela-sela kerjanya sebagai ballboys, pemuda ini juga pernah menolong tukang ojek di Dieng, mess Arema waktu itu, dari ‘kenakalan’ Frank Bob Manuel, striker Arema musim 2001. Ali diam-diam memakai uang beli pewangi cucian kostum pemain, untuk membayar kekurangan ongkos ojek.
Waktu itu, Bobby sapaan si pemain, hanya bayar ongkos Rp 500, padahal ongkosnya itu Rp 5 ribu. Beruntung bagi Ali, aksinya tidak sampai diketahui manajemen dan tidak sampai kena sanksi.
‘’Sebelum gabung Arema, saya kerja dua minggu di catering. Saya lupa namanya. Tempatnya di Pulosari dan biasa kirim makanan ke tim. Saat itu, ballboys Arema, Cak Mamat dan Dwi, bilang kalau tim kekurangan tenaga. Kemudian, saya diajak Bos Iwan (Iwan Budianto, Red) gabung,’’ kenang Ali.
Ali yang waktu itu masih berusia 19 tahun, menekuni pekerjaannya hingga musim 2009 saat Arema ditukangi pelatih Miroslav Janu (almarhum). Dari musim ke musim, dia sempat jadi ‘anak kesayangan’ pelatih nasional, Benny ‘Bendol’ Dollo yang menukangi Arema sejak tahun 2004 hingga 2007. Pada tahun 2010, kebersamaan Ali bersama Singo Edan terhenti.
Setelah itulah, jiwa sosial Ali semakin bertumbuh. Dia mewujudkan niat yang tertunda di tahun 2004, saat menyaksikan bencana tsunami Aceh untuk jadi relawan.
Tepat di tahun 2010, dia langsung turun tangan bersama tim Tagana Kabupaten Malang, dalam penanganan bencana erupsi Gunung Bromo dan banjir banding di Desa Ngadirejo Kecamatan Sukapura, Probolinggo.
‘’Saat lihat tsunami Aceh, saya punya keinginan berangkat jadi relawan, belum sempat terlaksana. Tapi kemauan ada, karena ada kontrak dengan Arema. Saat turun di bencana Bromo, saya gabung dan kenal mas Twi Adi, Koordinator Tagana. Ya nervous, sebab itu kali pertama saya jadi relawan,’’ ucap Ali sembari teringat akibat bencana Januari 2010 itu sebanyak 600 jiwa di evakuasi, satu SD dan satu SMP rusak berat.
Saat ini, Ali juga berperan sentral di tim Tagana, khususnya Malang Timur. Dia dianggap sangat menguasai medan. Selain itu, dia juga menjadi salah satu penggawa Tagana yang tangguh milik Pemkab Malang.
Perannya sangat dibutuhkan seiring wilayah Kabupaten Malang dikenal memiliki tingkat kerawanan bencana yang tinggi. Ali juga ikut mengelola stasiun Radio Pantau bencana, gelombang 107,7 FM di Desa Gubuglakah no 100 yang letaknya hanya 300 meter dari rumahnya.
‘’Terakhir, saya ikut evakuasi bencana tanah longsor di Desa Taji, Kecamatan Jabung. Parah disana, daerahnya juga sulit terjangkau kendaraan. Jauh dari pusat kecamatan,’’ ucap anak pertama dari tiga bersaudara dari pasangan Juari-Siti Misamah ini.
Nama Ali juga terkenal di kalangan pecinta alam, tak terkecuali pelaku acara petualangan stasiun televisi nasional. Bahkan dia juga pernah menjadi saksi, ketika seorang pengunjung Ranu Regulo, yang nekat berenang dan tidak menghiraukan peringatannya, hingga kemudian tewas akibat tenggelam.
Selain itu, Ali pernah dampingi acara Laptop Si Unyil dan Si Bolang, saat mengambil gambar dengan setting kawasan Taman Wisata Bromo Tengger Semeru (BTS).
‘’Nggak perna lihat mau dikasih bayaran atau tidak. Dasarnya senang dan ikhlas membantu mendampingi. Pernah, saat dampingi dua episode, setelah sebulan saya ikut reset, dapat uang transport Rp 100 ribu- Rp 300 ribu,’’ ucap pemuda kelahiran 23 April 1980 ini. (poy heri pristianto)