Pindahkan Tawon Hingga ke Bali, Ubah Lahan untuk Outbond dan Rekreasi

Kebanyakan orang, tertarik membudidayakan unggas, ketimbang tawon atau lebah. Namun Hariyono, memilih mengembangkan usaha peternakan tawon, yang dirintis orang tuanya. Kini peternakan tawonnya, justru mulai memetik hasil. Bahkan menjadi salah satu tempat kunjungan wisata.

Minggu siang (3/3) kemarin, cuaca cerah menyelimuti Kecamatan Lawang, Kabupaten Malang. Di gerai toko Rimba Raya, Hariyono sibuk melayani tamunya, saat Malang Post berkunjung.
Hariyono, singkat begitulah namanya. Usianya tergolong muda, untuk seorang pengusaha sukses. Ia pemilik peternakan tawon Rimba Raya, yang tetap eksis sejak 1980 lalu.
Mewarisi usaha yang dirintis orang tuanya, bukan pekerjaan mudah. Pengalaman orang tua yang mengawali usaha peternakan tawon, terus dikembangkan. Saat ini, produksi madunya telah beredar luas di Jawa Timur, Jawa Barat dan Bali.
‘’Awalnya tahun 1980, orang tua saya membuat usaha ternak tawon. Masih usaha sampingan. Produksinya juga sangat sedikit karena menggunakan cara sederhana dengan glodok,’’ tutur pria kelahiran Probolinggo tersebut.
Baru lima tahun kemudian, mulailah usaha peternakan tawon menjadi usaha utama. Termasuk beralih menggunakan teknik yang lebih modern agar produksinya meningkat.
Jika awalnya ternak tawon itu lebih banyak memproduksi lebah kepompong dari pada madu, di tangan Hariyono, produksi utama peternakan tawon adalah madu.
Tawon yang dibudidayakan di peternakan ini, jenis crana, trikona dan mellifera. Dengan modal 1.200 kotak lebah, setiap kotaknya dalam setahun bisa menghasilkan 20 hingga 70 kg madu.  
Untuk memaksimalkan usahanya, Hariyono memiliki trik jitu untuk menggenjot kapasitas produksi lebahnya. Dengan memindahkan tawon ke 2 daerah yang berbeda. Malang dan Bali.
Jika musim bunga di Malang, tawon-tawon akan dibudidayakan di Malang. Sebaliknya, jika di Bali mengalami musim pertumbuhan bunga, tawon-tawon yang ada di Malang akan dipindah ke Bali.
‘’Produksi madu  tergantung dari musim dan ketersedianaan bunga dan iklim. Kebetulan saya memiliki lahan di Karangasem Bali. Jadi saya memanfaatkan perbedaan cuaca dan pertumbuhan bunga di kedua tempat tersebut, untuk memproduksi madu,’’ lanjut pria yang gemar bermain badminton itu.
Dengan trik tersebut, produksi madu peternakan tawon bisa meningkat dan dipasarkan dalam bentuk curah 70 persen. Sisanya dibentuk kemasan.
Selain produksi madu murni, Hariyono juga mengembangkan produksi madunya untuk diolah menjadi bee pollen, royal jeli, propolis makanan botok tawon serta  produksi lilin lebah.
Jiwa pengusaha memang dimiliki Hariyono. Lahan peternakan tawon yang luas dan  banyak ditamami bunga, seperti bunga randu, kelengkeng, mangga dan kopi yang menjadi santapan tawon, memunculkan ide untuk lebih mengembangankan peternakan yang terletak dijalan Dr Wahidin-Lawang tersebut.
Lahan peternakan yang dahulunya singup, disulap Hariyono dengan taman edukasi dan rekreasi. Seperti outbond dengan danau di tengah-tengan peternakan.
‘’Peternakan sebelumnya sangat lebat, banyak bunga. Tapi kini saya mengusung konsep peternakan tawon menjadi tempat wisata umum. Sekarang dilengkapi dengan fasilitas edukasi, bagaimana beternak tawon dan panen madu. Serta beberapa arena outbond yang bisa menarik kedatangan pengunjung,’’ tandas pria 37 tahun tersebut.
Saat ini Hariyono berharap, pemerintah memperhatikan teknologi pengembangan madu. Agar produksi madu bisa meningkat. Karenanya madu juga merupakan bahan baku obat dan memiliki kasiat tinggi untuk kesehatan.
‘’Kita butuh teknologi yang canggih untuk memperbaiki produksi madu. Pemerintah bisa terlibat. Saya contohkan, iklim di Thailand sangat kering, tapi teknologi sangat maju. Jadinya produksi madu atau pertanian yang lain sangat baik dan besar. Kita malah sebaliknya,’’ tambahnya.
Berkat ketekunanya mengembangkan usahanya, ditahun 2004 dan 2008 lalu Haryono mendapatkan penghargaan ASEAN Best Executive Award dan DKI International Citra Award.
Serta peternakan tawonnya sering dikunjungi artis terkenal dan pejabat negara. Seperti Komeng, Aziz Gagap, Nunung, Bondan Winarno dan mantan presiden BJ Habibie. (Idham B Sakti)